Davin Alvaro—namaku. Serangkaian huruf yang dirangkum oleh orangtuaku untuk menyambut kelahiranku dan mendampingiku selama aku hidup—juga untuk dikenang setelah aku mati nanti. Saat ini aku berusia 13 tahun. Dan, selama 13 tahun itu aku telah banyak mendengar apa-apa saja yang mereka bilang.
Mereka bilang hidup tidak selalu seperti apa yang kita harapkan. Di dalam hidup kita tidak akan selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan, aku setuju dengan hal itu. Aku tidak mendapatkan kesehatan seperti yang aku inginkan. Di dalam hidup terkadang kita justru mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. Sekali lagi aku setuju. Aku mendapatkan penyakit yang tidak pernah aku inginkan.
Aku mengidap kanker otak.
Kanker otak yang hidup dalam tubuhku sudah berada di stadium 3, namun entahlah. Aku merasa kanker itu sudah stadium 4 dan aku bisa mati kapan saja. Aku pernah bertanya kepada Dokter Riko—dokter yang menanganiku—tentang kondisiku. Ia menyakinkanku kalau kondisiku tidak separah yang aku bayangkan. Akan tetapi, yang mengidap penyakit ini, kan aku. Dan, aku merasa kondisiku memang sudah separah itu. Bahkan mungkin lebih.
Aku benci kanker otak ini. Dia hampir merenggut semua yang aku sukai. Sejak dia diketahui bersemayam dalam tubuhku, aku sudah tak sebebas dulu. Aku tidak boleh melakukan ini dan itu yang aku sukai. Papa dan Mama melarangku, dan aku tidak suka. Aku tahu mereka melakukan itu karena mereka khawatir padaku. Mereka khawatir aku kelelahan dan itu akan berdampak buruk terhadap kesehatanku. Namun, aku… ah! Aku benar-benar benci kanker otak ini. Aku benci takdirku! Akan tetapi, itu hanya berlangsung sampai sebuah mimpi menghampiriku.
Saat itu, dalam mimpi itu, aku tengah berada di suatu tempat yang begitu lapang. Sejauh mataku menangkap hanya ada hamparan rumput yang sangat hijau. Begitu menenangkan. Aku sedang berbaring di atas rumput hijau itu, memandang ke langit yang benar-benar jernih, tidak luntur oleh kawanan awan saat sepotong suara menyapa telingaku.
Membenci takdirmu sama saja dengan membenci penciptamu.
Aku sontak terbangun, terjaga dari tidurku. Lalu aku melirik jam dinding yang berbentuk kepala Mickey Mouse di kamarku. Saat itu masih subuh. Aku lantas menatap langit-langit kamarku dan mulai merenung. Beberapa saat kemudian, aku memutuskan satu hal. Aku akan berhenti membenci takdirku, sebab aku tidak berani membenci penciptaku. Aku tidak berhak membenci-Nya. Ia yang memberiku hidup. Ia punya hak penuh untuk mengaturnya. Ia punya hak penuh untuk mengambilnya kapan saja.
Lalu aku paham hidup hanyalah pinjaman dari Tuhan.
Dan, sejak saat itu hidupku pun berubah....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar