Aku bergegas menuruni anak-anak tangga. Papa baru
saja memberitahuku kalau Randy sedang menungguku di sambungan telepon. Tepat di ujung bawah tangga aku berhenti
dan menoleh ke arah dapur. Mama terlihat sibuk memasukkan barang-barang
belanjaan tadi siang bergantian ke kulkas dan lemari gantung di atas westafel.
Papa juga ada di dapur, sedang membuat kopi. Itu salah satu kebiasaan
Papa—minum kopi malam-malam. Biasanya Papa akan begitu untuk menenangkan diri.
Saat
aku baru saja akan melangkah menuju ruang keluarga, Papa tidak sengaja
menyenggol toples kaca berisi bubuk kopi di dekatnya. Toples itu bertubrukan
dengan lantai dan pecah. Bubuk kopi dan pecahan kaca berserakkan di mana-mana.
Kotor dan berantakan.
Aku
ingin menghampiri dapur bermaksud untuk membantu membereskan, tapi Papa melihatku
dan buru-buru berkata, ”Tidak usah, Vin. Biar Papa saja. Lagi pula Papa yakin
kau cukup mengenal Randy untuk sekadar tahu kalau Randy tidak suka menunggu
lama.” Melihatku bergeming, Papa menambahkan, ”Bergegaslah. Biaya menelepon
tidaklah murah.”
Aku
tersenyum mendengarnya. Aku mengangguk kecil, lalu berbalik dan melangkah
menuju ruang keuarga. Meski sudah cukup jauh, aku masih bisa mendengar
sayup-sayup omelan Mama dan Papa yang berulang kali menggumamkan kata maaf.
Aku
menyambar gagang telepon berwarna hitam mengkilap, lalu menempelkannya ke telinga.
”Ada
apa, Ran?” tanyaku langsung tanpa berbasa-basi.
”Selamat
malam juga, Sobatku,” ujar Randy santai.
”Ran,
seriuslah,” desakku.
”Belajarlah
untuk sedikit berbasa-basi,” saran Randy.
”Aku
tidak suka berbasa-basi,” tandasku tegas. ”Ada apa?”
Aku
bisa mendengar dengusan Randy di ujung sana. ”Cepatlah duduk di depan komputer.
Aku ingin chatting denganmu. Ada
sesuatu yang ingin aku katakan.”
”Kenapa
harus chatting kalau kau bisa
mengatakannya sekarang?”
”Chatting lebih murah.”
”Kau...”
”Aku
tunggu. Bye...” potongnya, lalu
memutuskan sambungan.
Aku
mengembalikan gagang telepon ke tempatnya sambil bergerutu, ”Seenaknya sendiri...”
Aku
berjalan meninggalkan ruang keluarga sambil menerka-nerka apa yang ingin anak
menyebalkan itu katakan.
***
Waktu terus saja berdetak pergi sementara aku masih
berdiri di depan pintu kamar Kak Desta, menunggunya membukakan pintu. Aku sudah
mengetuk pintu dan memanggilnya berulang kali, namun pintu di depanku tidak
kunjung berderit terbuka.
Dengan
alasan coba-coba aku pun meraih kenop pintu, memutarnya, lalu mendorong
pintunya. Aku mendengus. Tidak terkunci. Aku pun membenarkan tindakanku sendiri
saat aku mendorong pintu itu agar terbuka lebih lebar dan melangkah masuk.
Kamar
Kak Desta cukup luas, dibatasi oleh dinding dengan wallpaper bermotif kotak-kotak hitam-putih. Terdapat beberapa
poster grup band luar negeri yang tertempel di dinding. Salah satunya aku kenali
sebagai The Click Five.
Ketika
aku melangkah lebih ke dalam lagi, aku melihat sebuah lemari kaca di salah satu
sudut kamar. Bukan lemari kaca itu yang menyita perhatianku, namun sesuatu yang
berada di dalamnya. Aku melihat sebuah bola basket yang amat kukenali. Bola
basket itu hadiah ulangtahun dariku untuk Kak Desta beberapa bulan yang lalu.
Ternyata ia menyimpannya. Dan, bola basket itu tampak dijaga dengan baik. Fakta
sekecil itu mampu membuatku tersenyum. Aku senang. Sesederhana itu.
Teringat
akan tujuanku semula, aku segera menyapukan pandanganku. Aku berhenti saat melihat
Kak Desta tengah berbaring di atas kasurnya dengan earphone yang menyumpal kedua lubang telinganya. Pantas saja ia tidak
membukakan pintu. Suara dari earphone
itu sudah pasti membuatnya tuli terhadap suara lain di sekitarnya.
Aku
masih memperhatikan Kak Desta. Tubuhnya bergerak ke kanan dan ke kiri. Matanya
terpejam seperti tengah benar-benar menghayati apa yang ia dengarkan. Aku jadi
bertanya-tanya apa yang sedang ia dengarkan. Ah, paling-paling lagu beraliran rock dengan dentam-dentum yang tidak
jelas itu.
Kak
Desta masih belum menyadari keberadaanku, bahkan sampai aku berdiri di samping
ranjangnya. Kusambar bantal yang tergolek di atas kasurnya, lalu melemparkannya
ke arah Kak Desta. Sama seperti bunyi hukum aksi-reaksi, aksiku tadi menimbulkan reaksi pada
Kak Desta. Kak
Desta membuka matanya, menoleh menatapku dan bertanya, ”Apa?”
Aku
mendengus. Dengan agak malas, aku menunjuk telingaku sendiri sambil terus
menatapnya, isyarat agar ia melepaskan earphone-nya
terlebih dulu. Percuma, kan kalau aku berbicara kepadanya sementara ia masih
memakai earphone itu? Aku tidak mau
membuang-buang energi untuk sesuatu yang percuma.
Kak
Desta mengerti maksudku. Ia melepaskan earphone
yang ia pakai, kemudian mengulang, ”Apa?”
”Pinjam
komputer Kakak, ya,” ujarku. ”Randy mengajakku chatting,” tambahku.
Aku
tidak memiliki komputer pribadi, bahkan sekadar ponsel saja aku tidak punya.
Bukannya Papa tidak bersedia membelikannya untukku, namun memang akulah yang
tidak menginginkannya. Uang Papa sudah cukup terbuang untuk membantuku melawan
penyakitku. Aku tidak mau uang Papa terbuang lebih banyak lagi untuk hal-hal
yang tidak akan kubawa ketika aku pergi nanti.
”Pakai
saja,” ujar Kak Desta. ”Komputernya sedang stand-by.”
Setelah itu, ia
kembali mengenakan earphone-nya.
Aku mengangkat bahu, berputar,
lalu melangkah menuju komputer Kak Desta. Aku menarik kursi dan duduk. Aku
menekan salah satu tuts keyboard
sembarangan untuk menghidupkan layar komputer. Aku menunggu beberapa saat.
Setelahnya, aku segera sign-in ke
salah satu situs penyedia fasilitas
chatting yang biasa aku dan Randy gunakan.
Ran_dy : Sobatku tersayang... :)
Vin_Varo : Bagaimana kalau aku tidak online? Kau akan menungguku sampai pagi?
Ran_dy : Aku tahu kau tidak akan begitu. :)
Vin_Varo : Senyummu itu menyebalkan sekali!
Ran_dy : Bagaimana kau bisa tahu? Kau bahkan tidak melihat aku tersenyum secara langsung.
Vin_Varo : Aku cukup mengenalmu, dan aku tahu betul senyum seperti apa yang akan
kaupajang di saat seperti ini.
Ran_dy : Kau memang sahabatku yang pengertian. Aku terharu.
Vin_Varo : Ada apa?
Ran_dy : Baru saja aku ingin menyanjungmu karena sudah
pandai berbasa-basi.
Vin_Varo : Ada apa???
Ran_dy : Kau benar-benar tidak seru.
Vin_Varo : Ada apa????? Kalau kau tidak menjawab
pertanyaanku kali ini, percayalah aku akan langsung sign-out.
Ran_dy : Baiklah, baiklah. Aku menonton sebuah film tadi siang.
Vin_Varo : Kau memintaku online hanya untuk menyampaikan hal itu?
Demi
Tuhan! Jika itu benar, aku bersumpah akan memukul kepalanya dengan novel Harry
Potter seri ketujuh kalau aku bertemu dengannya nanti.
Ran_dy : Film itu bercerita tentang seorang anak kecil
yang menderita kanker otak. Sama sepertimu.
Vin_Varo : Lalu?
Ran_dy : Di akhir film itu, anak kecil itu...
Vin_Varo : Meninggal?
Ran_dy : Ya.
Aku tidak
mengetik untuk membalas. Aku hanya tercenung menatap layar komputer sampai
akhirnya Randy mengirimkan sesuatu.
Ran_dy : Vin...
Vin_Varo : Ya?
Ran_dy : Kau takut?
Vin_Varo : Apa aku harus takut?
Ran_dy : Kau yakin kau bisa sembuh?
Vin_Varo : Ya.
Meski
mengetikkan ’ya’, sebenarnya aku sendiri tidak begitu yakin. Aku malah jadi
bertanya sendiri, apakah aku bisa sembuh? Apakah aku diberi kesempatan untuk
sembuh?
Ran_dy : Bagus! Jangan putus asa. Jangan pernah.
Janji, ya. :)
Vin_Varo : Putus asa hanya untuk mereka yang tidak lagi
punya alasan untuk hidup. Aku masih punya
alasan untuk hidup.
”Memang
seperti inilah adikku seharusnya.”
Aku terkesiap.
Aku sontak berbalik dan mendapati Kak Desta berdiri di dekatku. Ia tengah
menunduk menatapku. Aku balas menatapnya. Keningku berkerut karena aku tidak
begitu mengerti apa yang ia katakan barusan. Dan, saat mendadak aku tersadar
akan sesuatu, mataku pun membelalak.
”Kakak
membaca obrolanku dengan Randy?”
Kak
Desta tidak menjawab. Ia hanya menepuk pelan kepalaku dua kali, kemudian
berlalu keluar kamar. Aku tersenyum tipis menanggapinya. Setelahnya, aku
kembali menatap layar komputer. Randy telah mengetikkan sebuah balasan.
Ran_dy : Apa?
Vin_Varo : Alasanku? Aku hidup untuk mereka yang
menyayangiku.
***
Kalau aku hidup hanya untuk diriku sendiri, mungkin
aku sudah mati dari dulu. Namun karena aku tahu aku harus hidup untuk orang
lain, maka aku masih bertahan hidup.
Aku meletakkan bolpoin ke atas
halaman buku yang baru saja aku tulis. Merasa cukup, aku pun menutup buku itu
dan meletakkannya di atas meja kecil di samping ranjangku.
Ah, aku
menguap. Lelah sekali. Aku merebahkan tubuhku, menarik selimut, kemudian
memejamkan mata sembari merapalkan sebaris doa yang selalu aku rapalkan setiap
malam saat aku hendak tidur.
Semoga aku masih bisa melihat mentari esok
pagi.
Sesederhana
itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar