Senin, 14 Januari 2013

Catatan #9: Alasan Untuk Hidup



Aku bergegas menuruni anak-anak tangga. Papa baru saja memberitahuku kalau Randy sedang menungguku di sambungan telepon. Tepat di ujung bawah tangga aku berhenti dan menoleh ke arah dapur. Mama terlihat sibuk memasukkan barang-barang belanjaan tadi siang bergantian ke kulkas dan lemari gantung di atas westafel. Papa juga ada di dapur, sedang membuat kopi. Itu salah satu kebiasaan Papa—minum kopi malam-malam. Biasanya Papa akan begitu untuk menenangkan diri.

Saat aku baru saja akan melangkah menuju ruang keluarga, Papa tidak sengaja menyenggol toples kaca berisi bubuk kopi di dekatnya. Toples itu bertubrukan dengan lantai dan pecah. Bubuk kopi dan pecahan kaca berserakkan di mana-mana. Kotor dan berantakan.

Aku ingin menghampiri dapur bermaksud untuk membantu membereskan, tapi Papa melihatku dan buru-buru berkata, ”Tidak usah, Vin. Biar Papa saja. Lagi pula Papa yakin kau cukup mengenal Randy untuk sekadar tahu kalau Randy tidak suka menunggu lama.” Melihatku bergeming, Papa menambahkan, ”Bergegaslah. Biaya menelepon tidaklah murah.”

Aku tersenyum mendengarnya. Aku mengangguk kecil, lalu berbalik dan melangkah menuju ruang keuarga. Meski sudah cukup jauh, aku masih bisa mendengar sayup-sayup omelan Mama dan Papa yang berulang kali menggumamkan kata maaf.

Aku menyambar gagang telepon berwarna hitam mengkilap, lalu menempelkannya ke telinga.

”Ada apa, Ran?” tanyaku langsung tanpa berbasa-basi.

”Selamat malam juga, Sobatku,” ujar Randy santai.
”Ran, seriuslah,” desakku.

”Belajarlah untuk sedikit berbasa-basi,” saran Randy.

”Aku tidak suka berbasa-basi,” tandasku tegas. ”Ada apa?”

Aku bisa mendengar dengusan Randy di ujung sana. ”Cepatlah duduk di depan komputer. Aku ingin chatting denganmu. Ada sesuatu yang ingin aku katakan.”

”Kenapa harus chatting kalau kau bisa mengatakannya sekarang?”

Chatting lebih murah.”

”Kau...”

”Aku tunggu. Bye...” potongnya, lalu memutuskan sambungan.

Aku mengembalikan gagang telepon ke tempatnya sambil bergerutu, ”Seenaknya sendiri...”

Aku berjalan meninggalkan ruang keluarga sambil menerka-nerka apa yang ingin anak menyebalkan itu katakan.

***


Waktu terus saja berdetak pergi sementara aku masih berdiri di depan pintu kamar Kak Desta, menunggunya membukakan pintu. Aku sudah mengetuk pintu dan memanggilnya berulang kali, namun pintu di depanku tidak kunjung berderit terbuka.

Dengan alasan coba-coba aku pun meraih kenop pintu, memutarnya, lalu mendorong pintunya. Aku mendengus. Tidak terkunci. Aku pun membenarkan tindakanku sendiri saat aku mendorong pintu itu agar terbuka lebih lebar dan melangkah masuk.

Kamar Kak Desta cukup luas, dibatasi oleh dinding dengan wallpaper bermotif kotak-kotak hitam-putih. Terdapat beberapa poster grup band luar negeri yang tertempel di dinding. Salah satunya aku kenali sebagai The Click Five.

Ketika aku melangkah lebih ke dalam lagi, aku melihat sebuah lemari kaca di salah satu sudut kamar. Bukan lemari kaca itu yang menyita perhatianku, namun sesuatu yang berada di dalamnya. Aku melihat sebuah bola basket yang amat kukenali. Bola basket itu hadiah ulangtahun dariku untuk Kak Desta beberapa bulan yang lalu. Ternyata ia menyimpannya. Dan, bola basket itu tampak dijaga dengan baik. Fakta sekecil itu mampu membuatku tersenyum. Aku senang. Sesederhana itu.

Teringat akan tujuanku semula, aku segera menyapukan pandanganku. Aku berhenti saat melihat Kak Desta tengah berbaring di atas kasurnya dengan earphone yang menyumpal kedua lubang telinganya. Pantas saja ia tidak membukakan pintu. Suara dari earphone itu sudah pasti membuatnya tuli terhadap suara lain di sekitarnya.

Aku masih memperhatikan Kak Desta. Tubuhnya bergerak ke kanan dan ke kiri. Matanya terpejam seperti tengah benar-benar menghayati apa yang ia dengarkan. Aku jadi bertanya-tanya apa yang sedang ia dengarkan. Ah, paling-paling lagu beraliran rock dengan dentam-dentum yang tidak jelas itu.

Kak Desta masih belum menyadari keberadaanku, bahkan sampai aku berdiri di samping ranjangnya. Kusambar bantal yang tergolek di atas kasurnya, lalu melemparkannya ke arah Kak Desta. Sama seperti bunyi hukum aksi-reaksi, aksiku tadi menimbulkan reaksi pada Kak Desta. Kak Desta membuka matanya, menoleh menatapku dan bertanya, ”Apa?”

Aku mendengus. Dengan agak malas, aku menunjuk telingaku sendiri sambil terus menatapnya, isyarat agar ia melepaskan earphone-nya terlebih dulu. Percuma, kan kalau aku berbicara kepadanya sementara ia masih memakai earphone itu? Aku tidak mau membuang-buang energi untuk sesuatu yang percuma.

Kak Desta mengerti maksudku. Ia melepaskan earphone yang ia pakai, kemudian mengulang, ”Apa?”

”Pinjam komputer Kakak, ya,” ujarku. ”Randy mengajakku chatting,” tambahku.

Aku tidak memiliki komputer pribadi, bahkan sekadar ponsel saja aku tidak punya. Bukannya Papa tidak bersedia membelikannya untukku, namun memang akulah yang tidak menginginkannya. Uang Papa sudah cukup terbuang untuk membantuku melawan penyakitku. Aku tidak mau uang Papa terbuang lebih banyak lagi untuk hal-hal yang tidak akan kubawa ketika aku pergi nanti.

”Pakai saja,” ujar Kak Desta. ”Komputernya sedang stand-by.” Setelah itu, ia kembali mengenakan earphone-nya.

Aku mengangkat bahu, berputar, lalu melangkah menuju komputer Kak Desta. Aku menarik kursi dan duduk. Aku menekan salah satu tuts keyboard sembarangan untuk menghidupkan layar komputer. Aku menunggu beberapa saat. Setelahnya, aku segera sign-in ke salah satu situs penyedia fasilitas chatting yang biasa aku dan Randy gunakan.

Ran_dy    :  Sobatku tersayang... :)

Vin_Varo  :  Bagaimana kalau aku tidak online? Kau akan menungguku sampai pagi?

Ran_dy    :  Aku tahu kau tidak akan begitu. :)

Vin_Varo  :  Senyummu itu menyebalkan sekali!

Ran_dy    :  Bagaimana kau bisa tahu? Kau bahkan tidak melihat aku tersenyum secara langsung.

Vin_Varo  :  Aku cukup mengenalmu, dan aku tahu betul senyum seperti apa yang akan kaupajang di saat seperti ini.

Ran_dy    :  Kau memang sahabatku yang pengertian. Aku terharu.

Vin_Varo  :  Ada apa?

Ran_dy    :  Baru saja aku ingin menyanjungmu karena sudah pandai berbasa-basi.

Vin_Varo  :  Ada apa???

Ran_dy    :  Kau benar-benar tidak seru.

Vin_Varo  :  Ada apa????? Kalau kau tidak menjawab pertanyaanku kali ini, percayalah aku akan langsung sign-out.

Ran_dy    :  Baiklah, baiklah. Aku menonton sebuah film tadi siang.

Vin_Varo  :  Kau memintaku online hanya untuk menyampaikan hal itu?

Demi Tuhan! Jika itu benar, aku bersumpah akan memukul kepalanya dengan novel Harry Potter seri ketujuh kalau aku bertemu dengannya nanti.

Ran_dy    :  Film itu bercerita tentang seorang anak kecil yang menderita kanker otak. Sama sepertimu.

Vin_Varo  :  Lalu?

Ran_dy    :  Di akhir film itu, anak kecil itu...

Vin_Varo  :  Meninggal?

Ran_dy    :  Ya.

Aku tidak mengetik untuk membalas. Aku hanya tercenung menatap layar komputer sampai akhirnya Randy mengirimkan sesuatu.

Ran_dy    :  Vin...

Vin_Varo  :  Ya?

Ran_dy    :  Kau takut?

Vin_Varo  :  Apa aku harus takut?

Ran_dy    :  Kau yakin kau bisa sembuh?

Vin_Varo  :  Ya.

Meski mengetikkan ’ya’, sebenarnya aku sendiri tidak begitu yakin. Aku malah jadi bertanya sendiri, apakah aku bisa sembuh? Apakah aku diberi kesempatan untuk sembuh?

 Ran_dy    :  Bagus! Jangan putus asa. Jangan pernah. Janji, ya. :)

Vin_Varo  :  Putus asa hanya untuk mereka yang tidak lagi punya alasan untuk hidup. Aku masih punya
alasan untuk hidup.

”Memang seperti inilah adikku seharusnya.”

Aku terkesiap. Aku sontak berbalik dan mendapati Kak Desta berdiri di dekatku. Ia tengah menunduk menatapku. Aku balas menatapnya. Keningku berkerut karena aku tidak begitu mengerti apa yang ia katakan barusan. Dan, saat mendadak aku tersadar akan sesuatu, mataku pun membelalak.

”Kakak membaca obrolanku dengan Randy?”

Kak Desta tidak menjawab. Ia hanya menepuk pelan kepalaku dua kali, kemudian berlalu keluar kamar. Aku tersenyum tipis menanggapinya. Setelahnya, aku kembali menatap layar komputer. Randy telah mengetikkan sebuah balasan.

Ran_dy                        :  Apa?

Vin_Varo                     :  Alasanku? Aku hidup untuk mereka yang menyayangiku.


***

Kalau aku hidup hanya untuk diriku sendiri, mungkin aku sudah mati dari dulu. Namun karena aku tahu aku harus hidup untuk orang lain, maka aku masih bertahan hidup.

Aku meletakkan bolpoin ke atas halaman buku yang baru saja aku tulis. Merasa cukup, aku pun menutup buku itu dan meletakkannya di atas meja kecil di samping ranjangku.

Ah, aku menguap. Lelah sekali. Aku merebahkan tubuhku, menarik selimut, kemudian memejamkan mata sembari merapalkan sebaris doa yang selalu aku rapalkan setiap malam saat aku hendak tidur.

Semoga aku masih bisa melihat mentari esok pagi.

Sesederhana itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar