Sabtu, 26 Januari 2013

Catatan #17: Awal Dari Air Mata

Pelan-pelan aku membuka mata. Aku mengerjap beberapa kali sebelum melirik jam dinding yang tengah berdetak-detik. Pukul enam lewat lima menit. Saat aku mengalihkan perhatianku dari jam dinding, sekilas aku melihat kaos krem yang kukenakan di pesta ulang tahun Randy seminggu yang lalu, tergantung di pegangan lemari pakaian. Aku sudah membiarkan kaos itu tergantung di sana berhari-hari. Entah kenapa aku tidak berniat memasukkannya ke dalam lemari.

Berdetik-detik kemudian, setelah kesadaranku terkumpul sepenuhnya, aku baru merasa ada yang aneh. Aku tidak tahu apa yang aneh, tapi aku bisa merasakannya. Jelas-jelas sesuatu yang sulit dijabarkan. Sesuatu yang membuat jantungku berdegup tidak nyaman.

Aku menggeleng, mendesah, lalu turun dari ranjang. Dengan langkah yang lemah dan berat aku menuju pintu. Saat tanganku hendak meraih kenop pintu, saat itulah aku merasa dunia di sekitarku berputar-putar. Gempa bumi! Setidaknya itulah yang aku rasakan. Di detik berikutnya aku mendapati mataku berkunang-kunang dan kepalaku mendadak terasa berat. Kalau saja aku tidak cepat-cepat bersandar pada tembok, bisa kupastikan aku telah jatuh membentur lantai.

Selama beberapa saat aku bertahan dalam posisi itu—bersandar pada tembok. Berkali-kali aku mengerjap untuk menghilangkah kunang-kunang dari mataku. Beberapa saat kemudian, setelah kurasakan dunia tidak lagi berputar-putar, barulah aku menyusup keluar kamar.

Aku menuruni satu per satu anak tangga dengan gontai. Pekerjaan mudah ini terasa dua kali lebih sulit dari biasanya. Aku tahu aku harus bergerak lambat kalau aku tidak mau sampai di bawah dengan berguling-guling di atas anak-anak tangga.

Tepat ketika hanya tersisa tiga anak tangga, aku kembali merasakan dunia di sekitarku berputar-putar. Kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Aku merasa mual, begitu mendadak. Kedua kakiku melemas seketika, memaksaku untuk segera bertumpuh pada terali besi. Aku mendesah ringkih. Tidak sampai sepuluh detik kemudian, aku telah berguling-guling di atas sisa anak tangga dan terkulai lemas di bawah.

Aku memutar mata. Dengan mengandalkan sisa tenaga yang aku punya, aku beringsut sedikit untuk menjatuhkan tempat payung yang berada di dekat tangga. Aku sudah nyaris tidak sadarkan diri ketika melihat Mama berlari menghampiriku. Setelahnya aku tidak melihat apa-apa lagi. Kedua mataku terpejam. Aku hanya bisa mendengar Mama menjerit-jerit histeris.

”Nathan, Desta, cepat ke sini. DEMI TUHAN! CEPATLAH KE SINI!”

Lalu dunia mendadak begitu sunyi. Aku tidak mendengar apa-apa lagi...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar