Jumat, 18 Januari 2013

Catatan #11: Sebatang Cokelat



”Kau mau?” tanya Mama seraya mendorong sebuah toples ke hadapanku. Toples itu disesaki oleh puluhan kue kering yang berbentuk lingkaran.

Aku menjatuhkan dagu ke atas meja panjang yang memisahkan ruang makan dan dapur. Aku memandang kue-kue kering itu dengan tidak berselera. Warnanya kuning kecokelatan. Aku tidak tahu apa rasanya, namun sepertinya bukan cokelat. Aku mendesah. Padahal aku berharap rasanya cokelat.

Mama masih menatapku. Karena aku tahu ia menunggu jawabanku, maka aku menggeleng. Sebagai tambahan, aku bertanya, ”Apa tidak ada yang rasanya cokelat?”

”Tidak ada,” sahut Mama cepat. Mama lalu berbalik dan kembali sibuk di dapur, membersihkan alat-alat yang tadi digunakan untuk membuat kue. Kembali terdengar suara gemerecik air saat Mama berkata, ”Coba saja yang itu. Rasanya enak. Resep buatan Bibi Nindy.”

Kurang sopan memang, tapi aku tetap mengangkat kepalaku, memajukannya sedikit dan mengendus ke dalam toples. ”Keju?”

”Ya,” sahut Mama.

Kupandangi toples kue itu dengan malas, lalu mendorongnya menjauh dariku. Aku lebih suka cokelat daripada keju.

”Kenapa bukan cokelat?”

Mama berbalik. ”Kau tahu betul apa alasannya.”

”Karena aku akan sakit kalau memakan cokelat?”

Itu pernah terjadi. Aku pernah jatuh sakit setelah melahap dua batang cokelat. Aku sampai harus menginap di rumah sakit. Aku tidak tahu apa yang dikatakan dokter kepada Mama dan Papa saat itu, tapi sejak itu aku dilarang memakan cokelat. Sejak itu pula cokelat menjadi sesuatu yang sangat jarang ada di rumah.

”Tepat.”

Aku tidak mau kalah. ”Omong kosong.”

Aku tidak berkata asal-asalan. Aku akan sakit kalau memakan cokelat—itu memang omong kosong. Aku pernah beberapa kali memakan cokelat tanpa sepengetahuan Mama dan Papa, dan selepas itu aku baik-baik saja. Aku tidak sakit. Aku tidak masuk rumah sakit. Mama dan Papa saja yang berlebihan.

Bukannya tidak pernah. Aku sudah berulang kali meyakinkan Mama dan Papa kalau aku tidak akan sakit kalau memakan cokelat, tapi nihil. Mereka bersikukuh melarangku memakannya, terutama Mama. Mama keras kepala sekali. Tidak mau memercayai apa yang aku katakan.

”Setidaknya Mama punya bukti kalau itu benar,” kata Mama dengan santai. ”Sedangkan kau? Kau punya bukti kalau itu tidak benar?” Mama menantangku lalu tersenyum kecil.

”Aku...” Aku menggantungkan kalimatku, lalu berpikir-pikir. Untuk sesaat, aku sempat berpikir untuk memberitahu Mama kalau aku pernah memakan cokelat tanpa sepengetahuannya, namun segera kubuang jauh-jauh pikiran itu. Memberitahu Mama sama saja dengan melompat ke dalam lubang masalah. Aku tidak mau!

”Aku apa?”

”Aku... Izinkan aku memakannya. Akan kubuktikan kalau aku akan baik-baik saja.”

Mama menggeleng dengan tegas. ”Jangan coba-coba.”

”Bagaimana aku bisa membuktikannya kalau Mama terus melarangku memakan cokelat,” protesku dengan kesal.

”Kalau begitu, tidak perlu membuktikannya,” tandas Mama dengan ringan. Dan, itu benar-benar membuatku kesal.

”Tidak adil!” seruku. ”Aku ingin makan cokelat! Aku tidak akan apa-apa!”

”Kenapa kau keras kepala sekali?”

”Jangan salahkan aku. Ini kesalahan Mama. Mama yang menurunkannya kepadaku,” tandasku.

Mama menyerah. Ia mendesah, lalu berbalik dan tidak berkata apa-apa lagi. Setelahnya, ia telah kembali sibuk.

Aku mendengus, kemudian meninggalkan Mama sendirian di dapur.

***
Siang masih tampak belum lelah saat aku duduk tanpa melakukan hal yang penting di halaman belakang. Halaman belakang rumah tidak terlalu luas. Tanahnya ditumbuhi rumput yang memang sengaja ditanam oleh Mama. Ada jalan setapak sederhana yang mengalur ke gazebo yang sekarang ini sedang ditempati oleh Kak Desta.

Di gazebo itu Kak Desta terlihat sibuk dengan beberapa komponen elektronika. Ia tengah mencoba mengerjakan tugas sekolahnya, merangkai sebuah rangkaian bel listrik. Beberapa kali aku melihatnya memasang komponen ke papan rangkai, lalu melepaskannya, kemudian memasangnya lagi. Ia sudah menghabiskan banyak waktu, tapi belum juga berhasil merangkainya dengan benar.

Aku tersentak kaget saat Kak Desta tiba-tiba membanting papan rangkainya. Beberapa komponen terberai ke sana-sini, namun ada beberapa yang masih melekat. Sepertinya Kak Desta mulai kehilangan kesabaran. Ia sering begitu, aku tahu.

Tanpa menoleh ke papan rangkainya, Kak Desta kemudian berderap menjauhi gazebo. Ia sempat melirikku sesaat sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah. Pasti hendak membuat secangkir kopi untuk menenangkan diri, satu kebiasaan yang membuat Kak Desta dan Papa kelihatan mirip.

Aku tidak memiliki niat khusus saat aku memutuskan untuk menghampiri gazebo. Akan tetapi, ketika mataku tertambat pada sebuah buku yang ada di sana, aku jadi berniat untuk sedikit membantu Kak Desta. Aku tidak mengerti tentang elektronika, tapi aku bisa memberinya semangat meski hanya sebatas kata-kata.

Aku lalu meraih buku itu beserta bolpoin di dekatnya dan mulai menuliskan sesuatu di salah satu halaman kosong.

Kau mencoba untuk berhasil. Jadi, ketika kau mencoba dan gagal, ingatlah kembali untuk apa kau mencoba.

Kubaca kembali apa yang telah aku tulis dan tersenyum. Kuletakkan kembali buku itu sambil berharap ini akan sedikit membantu.

***

Sekitar setengah jam kemudian aku mendengar suara bel listrik. Sumber suaranya dari bawah. Di dalam kamarku, aku tersenyum senang. Aku tahu Kak Desta pasti bisa. Ia hanya perlu sedikit bersabar.

Acapkali kita salah mengerti. Bukannya kita tidak bisa, namun kita hanya perlu sedikit bersabar untuk bisa. Benar?

Bermenit-menit berselang, aku lalu mendengar pintu kamarku diketuk. Aku pun beringsut turun dari ranjangku dan berjalan ke arah pintu. Ketika aku membuka pintu kamarku, aku melihat Kak Desta. Keningku berkernyit-kernyit saat tahu-tahu Kak Desta menyodorkan sebatang cokelat ke hadapanku.

”Ini,” katanya, ”untukmu.”

Aku menerimanya tanpa bersuara.

”Jangan sampai Mama tahu,” tambahnya kemudian.

Aku mengangguk.

”Untuk suratnya, terima kasih,” ucapnya. Setelah itu, Kak Desta membalikkan badannya dan mulai berjalan menjauh.

”Kak,” panggilku. Ketika Kak Desta menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapku, aku melanjutkan, ”Cokelatnya, terima kasih.”

Kak Desta mengangguk kecil. ”Sama-sama,” balasnya. Dan, perlahan-lahan ia tersenyum. Selama beberapa saat aku merasa aku kembali berhadapan dengan Kak Desta yang dulu, yang hangat.

”Seperti ini saja,” ujarku lirih, setengah termenung.

”Apa?”

Aku tersengat sadar, lalu buru-buru menggeleng. ”Tidak ada apa-apa.”

Kak Desta mengangguk satu—dua kali. Ia lantas berbalik, berjalan menuruni tangga dan menghilang dari pandanganku.

Seperti ini saja. Jangan ada lagi yang berubah. Teruslah seperti ini karena memang beginilah seharusnya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar