”Kau mau?” tanya Mama seraya mendorong sebuah
toples ke hadapanku. Toples itu disesaki oleh puluhan kue kering yang berbentuk
lingkaran.
Aku
menjatuhkan dagu ke atas meja panjang yang memisahkan ruang makan dan dapur. Aku memandang kue-kue kering itu dengan
tidak berselera. Warnanya kuning kecokelatan. Aku tidak tahu apa rasanya, namun
sepertinya bukan cokelat. Aku mendesah. Padahal aku berharap rasanya cokelat.
Mama
masih menatapku. Karena aku tahu ia menunggu jawabanku, maka aku menggeleng. Sebagai
tambahan, aku bertanya, ”Apa tidak ada yang rasanya cokelat?”
”Tidak
ada,” sahut Mama cepat. Mama lalu berbalik dan kembali sibuk di dapur,
membersihkan alat-alat yang tadi digunakan untuk membuat kue. Kembali terdengar
suara gemerecik air saat Mama berkata, ”Coba saja yang itu. Rasanya enak. Resep
buatan Bibi Nindy.”
Kurang
sopan memang, tapi aku tetap mengangkat kepalaku, memajukannya sedikit dan
mengendus ke dalam toples. ”Keju?”
”Ya,”
sahut Mama.
Kupandangi
toples kue itu dengan malas, lalu mendorongnya menjauh dariku. Aku lebih suka
cokelat daripada keju.
”Kenapa
bukan cokelat?”
Mama
berbalik. ”Kau tahu betul apa alasannya.”
”Karena aku akan sakit kalau memakan
cokelat?”
Itu
pernah terjadi. Aku pernah jatuh sakit setelah melahap dua batang cokelat. Aku
sampai harus menginap di rumah sakit. Aku tidak tahu apa yang dikatakan dokter
kepada Mama dan Papa saat itu, tapi sejak itu aku dilarang memakan cokelat.
Sejak itu pula cokelat menjadi sesuatu yang sangat jarang ada di rumah.
”Tepat.”
Aku tidak mau kalah. ”Omong kosong.”
Aku
tidak berkata asal-asalan. Aku akan sakit kalau memakan cokelat—itu memang
omong kosong. Aku pernah beberapa kali memakan cokelat tanpa sepengetahuan Mama
dan Papa, dan selepas itu aku baik-baik saja. Aku tidak sakit. Aku tidak masuk
rumah sakit. Mama dan Papa saja yang berlebihan.
Bukannya
tidak pernah. Aku sudah berulang kali meyakinkan Mama dan Papa kalau aku tidak
akan sakit kalau memakan cokelat, tapi nihil. Mereka bersikukuh melarangku
memakannya, terutama Mama. Mama keras kepala sekali. Tidak mau memercayai apa
yang aku katakan.
”Setidaknya
Mama punya bukti kalau itu benar,” kata Mama dengan santai. ”Sedangkan kau? Kau
punya bukti kalau itu tidak benar?” Mama menantangku lalu tersenyum kecil.
”Aku...”
Aku menggantungkan kalimatku, lalu berpikir-pikir. Untuk sesaat, aku sempat berpikir
untuk memberitahu Mama kalau aku pernah memakan cokelat tanpa sepengetahuannya,
namun segera kubuang jauh-jauh pikiran itu. Memberitahu Mama sama saja dengan
melompat ke dalam lubang masalah. Aku tidak mau!
”Aku
apa?”
”Aku...
Izinkan aku memakannya. Akan kubuktikan kalau aku akan baik-baik saja.”
Mama
menggeleng dengan tegas. ”Jangan coba-coba.”
”Bagaimana
aku bisa membuktikannya kalau Mama terus melarangku memakan cokelat,” protesku
dengan kesal.
”Kalau
begitu, tidak perlu membuktikannya,” tandas Mama dengan ringan. Dan, itu
benar-benar membuatku kesal.
”Tidak
adil!” seruku. ”Aku ingin makan cokelat! Aku tidak akan apa-apa!”
”Kenapa kau keras kepala sekali?”
”Jangan
salahkan aku. Ini kesalahan Mama. Mama yang menurunkannya kepadaku,” tandasku.
Mama
menyerah. Ia mendesah, lalu berbalik dan tidak berkata apa-apa lagi.
Setelahnya, ia telah kembali sibuk.
Aku
mendengus, kemudian meninggalkan Mama sendirian di dapur.
***
Siang
masih tampak belum lelah saat aku duduk tanpa melakukan hal yang penting di
halaman belakang. Halaman belakang rumah tidak terlalu luas. Tanahnya ditumbuhi
rumput yang memang sengaja ditanam oleh Mama. Ada jalan setapak sederhana yang mengalur ke gazebo yang sekarang ini sedang
ditempati oleh Kak Desta.
Di
gazebo itu Kak Desta terlihat sibuk
dengan beberapa komponen elektronika. Ia tengah mencoba mengerjakan tugas
sekolahnya, merangkai sebuah rangkaian bel listrik. Beberapa kali aku
melihatnya memasang komponen ke papan rangkai, lalu melepaskannya, kemudian
memasangnya lagi. Ia sudah menghabiskan banyak waktu, tapi belum juga berhasil
merangkainya dengan benar.
Aku
tersentak kaget saat Kak Desta tiba-tiba membanting papan rangkainya. Beberapa
komponen terberai ke sana-sini, namun ada beberapa yang masih melekat.
Sepertinya Kak Desta mulai kehilangan kesabaran. Ia sering begitu, aku tahu.
Tanpa
menoleh ke papan rangkainya, Kak Desta kemudian berderap menjauhi gazebo. Ia sempat melirikku sesaat
sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah. Pasti hendak membuat secangkir
kopi untuk menenangkan diri, satu kebiasaan yang membuat Kak Desta dan Papa
kelihatan mirip.
Aku
tidak memiliki niat khusus saat aku memutuskan untuk menghampiri gazebo. Akan
tetapi, ketika mataku tertambat pada sebuah buku yang ada di sana, aku jadi
berniat untuk sedikit membantu Kak Desta. Aku tidak mengerti tentang
elektronika, tapi aku bisa memberinya semangat meski hanya sebatas kata-kata.
Aku
lalu meraih buku itu beserta bolpoin di dekatnya dan mulai menuliskan sesuatu
di salah satu halaman kosong.
Kau mencoba untuk
berhasil. Jadi, ketika kau mencoba dan gagal, ingatlah kembali untuk apa kau
mencoba.
Kubaca kembali apa yang telah aku tulis dan
tersenyum. Kuletakkan kembali
buku itu sambil berharap ini akan sedikit membantu.
***
Sekitar setengah jam kemudian aku
mendengar suara bel listrik. Sumber suaranya dari bawah. Di dalam kamarku, aku
tersenyum senang. Aku tahu Kak Desta pasti bisa. Ia hanya perlu sedikit
bersabar.
Acapkali
kita salah mengerti. Bukannya kita tidak bisa, namun kita hanya perlu sedikit
bersabar untuk bisa. Benar?
Bermenit-menit
berselang, aku lalu mendengar pintu kamarku diketuk. Aku pun beringsut turun dari ranjangku dan
berjalan ke arah pintu. Ketika aku membuka pintu kamarku, aku melihat Kak Desta.
Keningku berkernyit-kernyit saat tahu-tahu Kak Desta menyodorkan sebatang
cokelat ke hadapanku.
”Ini,”
katanya, ”untukmu.”
Aku
menerimanya tanpa bersuara.
”Jangan
sampai Mama tahu,” tambahnya kemudian.
Aku mengangguk.
”Untuk
suratnya, terima kasih,” ucapnya. Setelah itu, Kak Desta membalikkan badannya dan mulai berjalan menjauh.
”Kak,”
panggilku. Ketika Kak Desta menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapku,
aku melanjutkan, ”Cokelatnya, terima kasih.”
Kak
Desta mengangguk kecil. ”Sama-sama,” balasnya. Dan, perlahan-lahan ia tersenyum.
Selama beberapa saat aku
merasa aku kembali berhadapan dengan Kak Desta yang dulu, yang hangat.
”Seperti
ini saja,” ujarku lirih, setengah termenung.
”Apa?”
Aku
tersengat sadar, lalu buru-buru menggeleng. ”Tidak ada apa-apa.”
Kak
Desta mengangguk satu—dua kali. Ia lantas berbalik, berjalan menuruni tangga
dan menghilang dari pandanganku.
Seperti ini saja. Jangan ada lagi yang
berubah. Teruslah seperti ini karena memang beginilah seharusnya....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar