Aku segera membuka pintu mobil dan melompat turun sesaat setelah Papa
menghentikan laju mobil. Dengan
langkah-langkah panjang dan cepat aku berjalan
meninggalkan mobil. Kalau saja aku tidak takut pakaianku basah oleh
keringat, aku pasti sudah berlari secepat yang aku bisa. Aku sedang buru-buru.
Tanpa perlu diragukan lagi, aku pasti sudah terlambat menghadiri pesta ulang
tahun Randy. Di saat seperti inilah aku benar-benar merutuki satu kondisi yang
dinamakan kemacetan.
Sambil terus melangkah,
aku berharap aku memiliki kesempatan untuk membungkam Randy terlebih dahulu
sebelum ia memuntahkan serentetan kata bernada kesal karena aku terlambat.
Tenagaku sudah cukup terkuras untuk menunggu kemacetan tadi terurai. Itu sudah
cukup, dan aku tidak mau mendengar celotehan Randy yang bisa mengalahkan
panjangnya kereta api. Untuk ukuran laki-laki, Randy itu cerewet sekali.
Saat aku hampir mencapai
teras, aku melihat Randy tengah berdiri di sana. Keningku berkerut-kerut. Untuk
apa ia berdiri di sana?
Aku buru-buru mengangkat
tangan tepat di depan wajahnya, lalu berkata dengan napas terputus-putus, ”Sebelum
kau bersuara, dengarkan aku dulu.” Aku mengambil napas panjang dan melanjutkan,
”Aku minta maaf karena aku terlambat. Tunggu dulu, jangan menyela. Biar kau
tahu, aku sudah berangkat dari rumah dua jam yang lalu. Dan, kalau kau ingin marah, marah saja pada
kemacetan. Dia yang membuatku terlambat. Oke?” Aku mengambil napas panjang lagi.
”Omong-omong, untuk apa kau berdiri di sini?”
Sementara menunggu jawaban
Randy, aku memperhatikan penampilannya malam ini sambil diam-diam membandingkannya
dengan penampilanku. Randy memakai kemeja putih lengan panjang, aku memakai
kaos krem lengan panjang. Kami sama-sama mengenakan celana panjang berwarna
hitam. Randy tampak tampan, dan aku yakin aku tidak kalah tampan. Astaga! Apa
yang baru saja aku pikirkan?
”Sudah jelas, kan?” sahutnya tidak sabar.
”Menunggumu.”
”Menungguku?”
”Memangnya untuk apa aku
berdiri di sini seperti orang bodoh kalau bukan untuk menunggumu?” Randy balas
bertanya dengan malas.
Aku hanya diam dan tersenyum
tipis. Namun, saat aku tersadar akan sesuatu, aku segera bertanya, ”Acara
puncaknya—tiup lilin maksudku—sudah lewat?”
”Yang benar saja,”
cetusnya. ”Acaranya bahkan belum benar-benar dimulai.”
Aku mengangkat sebelah
alisku. ”Maksudmu, kau belum meniup lilin?”
Randy menggeleng.
”Ha?” Aku terkejut.
”Bukankah seharusnya kau sudah meniup lilin...” aku melirik jam tangan,
”setengah jam yang lalu?”
”He-emh,” Randy
membenarkan, lalu mengangkat bahunya, berlagak tidak peduli. ”Tapi, aku tidak
mau melakukannya kalau sahabat terbaikku belum datang.” Randy tersenyum.
Bersahabat.
Aku terharu. Randy
benar-benar setia kawan. Aku
meninju pelan pundaknya. ”Untuk apa sampai seperti itu? But, thanks.”
Randy mengangguk. ”Ayo,
sekarang ikut aku ke dalam. Kita harus bergegas memulai acaranya sebelum para
tamu melempari kita dengan pie.”
”Kita?” gurauku.
Randy meringis. ”Ingat? Ini semua, kan gara-gara
kau terlambat.” Randy menyambar tanganku dan menyeretku mengikutinya. Ia
melangkah dalam langkah panjang-panjang.
”Tunggu dulu,” selaku
buru-buru. ”Kado untukmu tertinggal di mobil.”
Randy tidak peduli, tidak
berhenti. Ia terus saja
melangkah dan menyeretku. ”Sudahlah. Kan, sudah kubilang aku tidak butuh
kadomu. Kau datang saja itu sudah cukup,” katanya. Ia diam sebentar, lantas bergumam, ”Lagi pula,
siapa juga yang ingin dihadiahi bom?”
***
Pestanya diadakan di ruang
tamu. Sofa, meja, televisi dan beberapa perabot yang biasanya menghuni ruangan
itu telah diungsikan, entah ke mana. Sebagai gantinya, sekarang ruangan itu
disesaki oleh para tamu. Ada sebuah meja panjang di salah satu sudut ruangan,
bertaplak kain putih dan di atasnya penuh dengan bermacam-macam makanan. Di
sudut lain, terdapat pula meja yang serupa, namun dipenuhi oleh bermacam-macam
minuman. Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah kue ulang tahun bertingkat
dua, diletakkan di atas sebuah meja kaca.
Saat ini aku tengah berdiri
di depan kue itu, di samping kanan Randy. Di samping kiri Randy ada kedua
orangtuanya. Selalu seperti ini. Randy selalu memintaku untuk menemaninya saat
ia hendak meniup lilin. Aku tidak tahu untuk apa. Ia sendiri tidak pernah
memberiku alasan yang jelas.
Ketika lagu Selamat Ulang
Tahun selesai dinyanyikan, Randy memejamkan matanya sesaat, lalu meniup lilin
berbentuk angka 14 yang tertancap di atas kue. Api yang menari-nari kecil di
pucuk sumbu pun padam, dan begitulah harapannya tersampaikan.
Sembari menatap sumbu
lilin yang menguarkan asap rapuh, aku berdoa dalam hati semoga apa yang Randy
harapkan akan terkabul, apa pun itu. Dan, untuk satu alasan yang tidak aku
mengerti, tiba-tiba saja aku merasa begitu ringan. Lalu, tahu-tahu air mataku
menetes turun.
***
Beberapa saat setelah
acara puncak itu, Randy mengajakku ke kolam berenang di belakang rumahnya. Kami
duduk di pinggir kolam dengan kaki yang terjuntai turun menyentuh air. Suasana
di sekitar kami sepi dan tenang. Langit malam masih terjaga dan terlihat belum
lelah.
”Apa yang kauminta tadi?” tanyaku
sambil memandangi pantulan bulan di permukaan air. Bentuknya tampak tidak
keruan akibat ulah iseng kaki kami.
”Apa?” tanya Randy tidak
mengerti.
”Birthday wish-mu.”
”Kau
berani bayar berapa untuk informasi itu?” tanyanya seakan-akan ia tengah
menyimpan sebuah informasi superpenting yang sedang diburu banyak orang.
Aku mendengus terang-terangan. ”Belum
cukupkah puluhan kado yang kaudapatkan malam ini?” tanyaku datar.
”Kau ingin tahu?”
Aku mengibas-ngibaskan
tangan kananku asal-asalan. ”Tidak lagi.”
”Sungguh kau tidak ingin
tahu?”
Aku menoleh menatapnya dan
mendapati ia tengah memasang senyum yang sangat menyebalkan. Aku diam saja, malas
menanggapinya. Ia pun begitu, diam.
”Aku meminta
kesembuhanmu,” katanya memecah kebisuan. Sewaktu Randy mengatakannya, ia tidak
menatapku. Matanya menatap lurus ke depan. Namun, percayalah, aku tidak perlu
melihat ke dalam matanya untuk mengetahui apakah ia bersungguh-sungguh atau tidak.
Semuanya sudah jelas.
Dengan ringan aku
tersenyum. Inikah sebabnya kenapa air mataku menetes tadi? Karena di luar yang
aku tahu, aku telah mengaminkan sebuah harapan yang sebenarnya ditujukan untuk
diriku sendiri.
”Kau tahu, kata mereka
jika kita memberitahukan apa birthday
wish kita kepada orang lain, wish
itu tidak akan terkabul,” tuturku kalem.
Randy mengangkat bahunya. ”Mamaku
pernah bilang, ketika kita mengucapkan sebuah harapan, Tuhan hanya melihat dua
hal. Yang pertama, kesungguhan kita. Yang kedua, seberapa besar kita memercayakan
harapan itu kepada-Nya. Dan, aku... Aku bersungguh-sungguh dan percaya seratus
persen.”
Aku tersenyum terharu,
lalu menengadah menatap langit. ”Kata mereka, sahabat sejati adalah dia yang
menempatkan kepentingan sahabatnya di atas kepentingannya sendiri. Dulu aku
ragu ada sahabat seperti itu. Tapi, selepas malam ini, aku tidak lagi punya
alasan untuk ragu karena aku tahu sahabat seperti itu ternyata ada.” Aku
menoleh menatap Randy. ”Dia tengah duduk bersamaku sekarang.”
Randy tersenyum lebar
sekali. Setelah mendorong pelan bahuku, ia bergumam, ”Kau membuatku terharu.”
Ia melakukan gerakan menyeka air mata padahal ia tidak menangis. Ia hanya
berlagak.
”Untuk harapannya, terima kasih,” ucapku.
”Ya.”
Dan, begitulah
persahabatan kami terjalin...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar