Rabu, 23 Januari 2013

Catatan #16: Sahabat Sejati


Aku segera membuka pintu mobil dan melompat turun sesaat setelah Papa menghentikan laju mobil. Dengan langkah-langkah panjang dan cepat aku berjalan  meninggalkan mobil. Kalau saja aku tidak takut pakaianku basah oleh keringat, aku pasti sudah berlari secepat yang aku bisa. Aku sedang buru-buru. Tanpa perlu diragukan lagi, aku pasti sudah terlambat menghadiri pesta ulang tahun Randy. Di saat seperti inilah aku benar-benar merutuki satu kondisi yang dinamakan kemacetan.

Sambil terus melangkah, aku berharap aku memiliki kesempatan untuk membungkam Randy terlebih dahulu sebelum ia memuntahkan serentetan kata bernada kesal karena aku terlambat. Tenagaku sudah cukup terkuras untuk menunggu kemacetan tadi terurai. Itu sudah cukup, dan aku tidak mau mendengar celotehan Randy yang bisa mengalahkan panjangnya kereta api. Untuk ukuran laki-laki, Randy itu cerewet sekali.

Saat aku hampir mencapai teras, aku melihat Randy tengah berdiri di sana. Keningku berkerut-kerut. Untuk apa ia berdiri di sana?

Aku buru-buru mengangkat tangan tepat di depan wajahnya, lalu berkata dengan napas terputus-putus, ”Sebelum kau bersuara, dengarkan aku dulu.” Aku mengambil napas panjang dan melanjutkan, ”Aku minta maaf karena aku terlambat. Tunggu dulu, jangan menyela. Biar kau tahu, aku sudah berangkat dari rumah dua jam yang lalu. Dan, kalau kau ingin marah, marah saja pada kemacetan. Dia yang membuatku terlambat. Oke?” Aku mengambil napas panjang lagi. ”Omong-omong, untuk apa kau berdiri di sini?”

Sementara menunggu jawaban Randy, aku memperhatikan penampilannya malam ini sambil diam-diam membandingkannya dengan penampilanku. Randy memakai kemeja putih lengan panjang, aku memakai kaos krem lengan panjang. Kami sama-sama mengenakan celana panjang berwarna hitam. Randy tampak tampan, dan aku yakin aku tidak kalah tampan. Astaga! Apa yang baru saja aku pikirkan?

”Sudah jelas, kan?” sahutnya tidak sabar. ”Menunggumu.”

”Menungguku?”

”Memangnya untuk apa aku berdiri di sini seperti orang bodoh kalau bukan untuk menunggumu?” Randy balas bertanya dengan malas.

Aku hanya diam dan tersenyum tipis. Namun, saat aku tersadar akan sesuatu, aku segera bertanya, ”Acara puncaknya—tiup lilin maksudku—sudah lewat?”

”Yang benar saja,” cetusnya. ”Acaranya bahkan belum benar-benar dimulai.”

Aku mengangkat sebelah alisku. ”Maksudmu, kau belum meniup lilin?”

Randy menggeleng.

”Ha?” Aku terkejut. ”Bukankah seharusnya kau sudah meniup lilin...” aku melirik jam tangan, ”setengah jam yang lalu?”

”He-emh,” Randy membenarkan, lalu mengangkat bahunya, berlagak tidak peduli. ”Tapi, aku tidak mau melakukannya kalau sahabat terbaikku belum datang.” Randy tersenyum. Bersahabat.

Aku terharu. Randy benar-benar setia kawan. Aku meninju pelan pundaknya. ”Untuk apa sampai seperti itu? But, thanks.”

Randy mengangguk. ”Ayo, sekarang ikut aku ke dalam. Kita harus bergegas memulai acaranya sebelum para tamu melempari kita dengan pie.”

”Kita?” gurauku.

Randy meringis. ”Ingat? Ini semua, kan gara-gara kau terlambat.” Randy menyambar tanganku dan menyeretku mengikutinya. Ia melangkah dalam langkah panjang-panjang.

”Tunggu dulu,” selaku buru-buru. ”Kado untukmu tertinggal di mobil.”

Randy tidak peduli, tidak berhenti. Ia terus saja melangkah dan menyeretku. ”Sudahlah. Kan, sudah kubilang aku tidak butuh kadomu. Kau datang saja itu sudah cukup,” katanya. Ia diam sebentar, lantas bergumam, ”Lagi pula, siapa juga yang ingin dihadiahi bom?”

***

Pestanya diadakan di ruang tamu. Sofa, meja, televisi dan beberapa perabot yang biasanya menghuni ruangan itu telah diungsikan, entah ke mana. Sebagai gantinya, sekarang ruangan itu disesaki oleh para tamu. Ada sebuah meja panjang di salah satu sudut ruangan, bertaplak kain putih dan di atasnya penuh dengan bermacam-macam makanan. Di sudut lain, terdapat pula meja yang serupa, namun dipenuhi oleh bermacam-macam minuman. Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah kue ulang tahun bertingkat dua, diletakkan di atas sebuah meja kaca.

Saat ini aku tengah berdiri di depan kue itu, di samping kanan Randy. Di samping kiri Randy ada kedua orangtuanya. Selalu seperti ini. Randy selalu memintaku untuk menemaninya saat ia hendak meniup lilin. Aku tidak tahu untuk apa. Ia sendiri tidak pernah memberiku alasan yang jelas.

Ketika lagu Selamat Ulang Tahun selesai dinyanyikan, Randy memejamkan matanya sesaat, lalu meniup lilin berbentuk angka 14 yang tertancap di atas kue. Api yang menari-nari kecil di pucuk sumbu pun padam, dan begitulah harapannya tersampaikan.

Sembari menatap sumbu lilin yang menguarkan asap rapuh, aku berdoa dalam hati semoga apa yang Randy harapkan akan terkabul, apa pun itu. Dan, untuk satu alasan yang tidak aku mengerti, tiba-tiba saja aku merasa begitu ringan. Lalu, tahu-tahu air mataku menetes turun.

***

Beberapa saat setelah acara puncak itu, Randy mengajakku ke kolam berenang di belakang rumahnya. Kami duduk di pinggir kolam dengan kaki yang terjuntai turun menyentuh air. Suasana di sekitar kami sepi dan tenang. Langit malam masih terjaga dan terlihat belum lelah.

”Apa yang kauminta tadi?” tanyaku sambil memandangi pantulan bulan di permukaan air. Bentuknya tampak tidak keruan akibat ulah iseng kaki kami.

”Apa?” tanya Randy tidak mengerti.

Birthday wish-mu.”

”Kau berani bayar berapa untuk informasi itu?” tanyanya seakan-akan ia tengah menyimpan sebuah informasi superpenting yang sedang diburu banyak orang.

Aku mendengus terang-terangan. ”Belum cukupkah puluhan kado yang kaudapatkan malam ini?” tanyaku datar.

”Kau ingin tahu?”

Aku mengibas-ngibaskan tangan kananku asal-asalan. ”Tidak lagi.”

”Sungguh kau tidak ingin tahu?”

Aku menoleh menatapnya dan mendapati ia tengah memasang senyum yang sangat menyebalkan. Aku diam saja, malas menanggapinya. Ia pun begitu, diam.

”Aku meminta kesembuhanmu,” katanya memecah kebisuan. Sewaktu Randy mengatakannya, ia tidak menatapku. Matanya menatap lurus ke depan. Namun, percayalah, aku tidak perlu melihat ke dalam matanya untuk mengetahui apakah ia bersungguh-sungguh atau tidak. Semuanya sudah jelas.

Dengan ringan aku tersenyum. Inikah sebabnya kenapa air mataku menetes tadi? Karena di luar yang aku tahu, aku telah mengaminkan sebuah harapan yang sebenarnya ditujukan untuk diriku sendiri.

”Kau tahu, kata mereka jika kita memberitahukan apa birthday wish kita kepada orang lain, wish itu tidak akan terkabul,” tuturku kalem.

Randy mengangkat bahunya. ”Mamaku pernah bilang, ketika kita mengucapkan sebuah harapan, Tuhan hanya melihat dua hal. Yang pertama, kesungguhan kita. Yang kedua, seberapa besar kita memercayakan harapan itu kepada-Nya. Dan, aku... Aku bersungguh-sungguh dan percaya seratus persen.”

Aku tersenyum terharu, lalu menengadah menatap langit. ”Kata mereka, sahabat sejati adalah dia yang menempatkan kepentingan sahabatnya di atas kepentingannya sendiri. Dulu aku ragu ada sahabat seperti itu. Tapi, selepas malam ini, aku tidak lagi punya alasan untuk ragu karena aku tahu sahabat seperti itu ternyata ada.” Aku menoleh menatap Randy. ”Dia tengah duduk bersamaku sekarang.”

Randy tersenyum lebar sekali. Setelah mendorong pelan bahuku, ia bergumam, ”Kau membuatku terharu.” Ia melakukan gerakan menyeka air mata padahal ia tidak menangis. Ia hanya berlagak.

”Untuk harapannya, terima kasih,” ucapku.

”Ya.”

Dan, begitulah persahabatan kami terjalin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar