Jumat, 04 Januari 2013

Catatan #3: Buku Baru


Dengan bermalas-malasan aku menarik langkah menuju ruang keluarga. Kuempaskan tubuh ke sofa yang ada di sana, lalu meringkuk di atasnya. Aku menguap. Sebenarnya aku masih ingin berbaring di tempat tidur, namun Mama mengatakan pagi ini ada jadwal pemeriksaan rutin di rumah sakit. Aku mengerang. Aku masih kantuk!

Karena merasa tidak nyaman, aku kemudian mengangkat tubuh dan mengubah posisi menjadi duduk. Kurentangkan kedua tanganku di udara, bermaksud merenggangkan otot-ototku. Tanpa sengaja mataku tertumbuk pada rak buku. Kedua tanganku merendah sementara sepasang mataku menyipit tajam. Ada yang berubah dari rak buku itu. Terlihat lebih rapi, juga buku-bukunya berubah letak. Seingatku, semalam, komik Detective Conan dan Bleach milikku terletak di sekat teratas, bukan di sekat terbawah seperti sekarang. Sama halnya dengan ketujuh seri novel Harry Potter-ku. Keningku berkerut samar dan aku mulai berpikir. Kuperhatikan rak buku itu lekat-lekat, lalu menyadari  sesuatu. Semua bukuku sekarang berada di sekat terbawah!

Aku tersenyum. Aku menyukai perubahan ini. Dengan begini aku tidak akan kesulitan lagi jika sewaktu-waktu aku ingin mengulang membaca buku-bukuku. Penasaran dengan siapa yang ada di balik perubahan ini, aku pun membuka mulutku dan memanggil Mama dengan lantang.

Tidak butuh waktu lama sampai aku melihat Mama setengah berlari mendekatiku. Dengan terburu-buru Mama bertanya, “Ada apa, Vin? Ada yang sakit? Di mana?”

Aku mengibas-ngibaskan tanganku ke udara. “Tidak. Tidak ada yang sakit,” aku menyahut. Semenjak aku diketahui mengidap kanker otak, setiap panggilanku seolah-olah menjadi tanda pemberitahuan kalau aku tengah dalam kondisi yang tidak baik. Aku sempat bertanya-tanya, apakah mereka akan tetap sepeduli ini kepadaku jika aku tidak mengidap kanker otak.

Mama bernapas lega. “Lalu?” tanyanya.

“Itu,”kataku sembari menunjuk rak buku, “Mama yang merapikannya?”

Mama menggeleng. “Bukan,” tandasnya. “Bukan Mama, tapi kakakmu,” jelasnya kemudian. “Subuh tadi, Mama melihatnya merapikan rak buku itu.”

“Kak Desta?”

“He- emh.” Sebagai penegasan, Mama mengangguk dua kali.

Kedua alisku saling bertaut. Apakah Kak Desta sengaja merapikan rak buku itu untukku? Mungkin Kak Desta tidak ingin aku kesulitan mengambil buku-bukuku. Mungkin Kak Desta ingin membantuku dengan memindahkan buku-bukuku ke sekat paling bawah. Heumh… Mungkin saja begitu. Aku tersenyum. Terlepas dari iya atau tidaknya, aku tetap harus berterima kasih kepada Kak Desta nanti.


***

 Aku duduk di ruang tunggu, menatap keramik putih di bawah dengan bosan. Aku baru saja selesai menjalani pemeriksaan rutin. Saat ini, Mama sedang membicarakan sesuatu dengan Dokter Riko. Aku diminta untuk menunggu di luar. Mereka pasti tengah membicarakanku. Tapi, kenapa aku justru tidak boleh mendengarnya? Aku mendengus keras-keras. Ini tidak adil!

Mama mungkin saja menanyakan berapa lama lagi waktu yang aku punya. Ya, kemungkinan besar pasti begitu. Namun, jika aku, aku tidak akan menanyakan itu. Bukan saatnya lagi aku menanyakan hal semacam itu. Lebih baik bertanya kepada diriku sendiri, apa lagi yang bisa aku lakukan selama aku masih punya waktu.

“Davin…”

Aku menoleh ke kanan, mencari tahu siapa yang memanggilku. Aku tersenyum kecil begitu melihat seorang suster menghampiriku, lalu mengambil tempat tepat di sebelahku. Ia Suster Acha, suster yang selalu ditugaskan untuk merawatku kalau aku diharuskan untuk menginap di rumah sakit. Kami berdua cukup akrab. Aku menyukai Suster Acha. Ia suster yang baik dan ramah, tidak pernah mengeluh meski aku sering merepotkannya.

“Sedang apa?” tanyanya ramah.

“Duduk,” jawabku singkat. Dan, tepat tentunya.

Suster Acha terkikik mendengar jawabanku. Ada rona merah pudar yang sempat merayapi wajahnya selama beberapa detik, lalu perlahan mengabur saat ia berhenti terkikik. “Kau selalu begini. Tidak suka berbasa-basi,” komentarnya.

Aku mengangkat bahuku, tidak begitu peduli. Sambil menendang-nendang udara kosong, aku berkata, “Mama sedang berbicara dengan Dokter Riko. Pasti membicarakan aku. Aku kesal. Kenapa aku tidak boleh ikut mendengar.”

Aku terus menatap Suster Acha, berharap ia berada di pihakku. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. “Mereka melakukan itu juga untuk kebaikanmu, Davin.”

Aku mendengus sebal. “Akan tetapi, aku ingin tahu apa saja yang mereka bicarakan tentang aku.”

Suster Acha mengulas senyum di wajahnya yang ayu. “Davin, tidak semua hal harus kita ketahui. Justru dengan ketidaktahuan itulah hidup ini menjadi menarik dan pantas untuk ditunggu. Karena bisa saja di detik berikutnya kita mendapatkan jawaban untuk ketidaktahuan itu.”

“Kapan aku mati, misalnya?”

Suster Acha sontak menatapku dengan ekspresi yang ganjil, campuran antara  terkejut dan iba. Mungkin ia sadar aku terus memperhatikannya, maka ia buru-buru menormalkan lagi air mukanya. Ia sempat memaksakan sebuah senyum sebelum akhirnya berkata, “Tuhan menyayangi Davin. Davin pasti bisa sembuh. Katakan kepada dirimu sendiri ‘aku pasti bisa sembuh’. Kau tahu, setiap perkataan kita sesungguhnya adalah doa.”

Aku baru akan membalas ketika tiba-tiba Mama memanggilku.

Aku berputar. Belum sempat aku menyahut, Mama telah kembali bersuara. “Eh, Suster Acha,” sapa Mama saat menyadari keberadaan Suster Acha. “Terima kasih sudah menemani Davin,” lanjut Mama dengan sungkan.

Suster Acha mengangguk. “Tidak apa-apa.”

“Vin, Dokter Riko ingin berbicara denganmu. Ayo.”

Aku mengangguk, lalu cepat-cepat melompat berdiri. Sebelum melangkah pergi, aku sempat berbisik kepada Suster Acha, “Aku pasti akan sembuh.”

Suster Acha tersenyum ceria, begitu pula aku. Ternyata rasanya menyenangkan bisa meyakinkan diriku sendiri.

***


“Ma, Kakak sudah pulang?”

Sambil menyiapkan meja makan untuk makan siang, Mama mengangguk.

“Sekarang Kakak ada di mana?”

“Di halaman belakang. Tadi Mama lihat kakakmu sedang duduk di dekat kolam ikan,” jawab Mama. “Ada apa?”

“Aku ke belakang dulu,” aku pamit tanpa menjawab pertanyaan Mama, melangkah menuju halaman belakang.

Benar. Kak Desta memang ada di sana, sedang duduk di dekat kolam ikan yang baru dibuat beberapa bulan yang lalu. Ia tidak hanya sedang duduk, namun juga membaca sebuah majalah—mungkin majalah otomotif. Ia masih mengenakan seragam putih abu-abunya.

Pelan-pelan aku mendekatinya. Sampai aku duduk di sampingnya, Kak Desta masih menekuni majalahnya.

“Kak,” panggilku.

“Hemh,” balasnya tanpa menoleh.

Aku membuka mulut, bermaksud bertanya, namun segera aku katupkan kembali. Aku ingin menanyakan tentang perubahan di rak buku itu, tapi aku bingung harus mulai dari mana. Karena kebingungan, aku malah beringsut merapat ke Kak Desta dan memeluknya dengan takut-takut.

“Mengenai rak buku itu, terima kasih, Kak,” gumamku.

Aku takut Kak Desta marah karena aku memeluknya, namun ternyata tidak. Ia tidak marah, tapi tidak juga membalas pelukanku.

Dengan menempel kepadanya aku bisa mencium bau parfumnya yang berbaur dengan bau keringat dan matahari. Sedikit tidak keruan, namun aku menyukainya. Memang begitulah Kak Desta-ku.

Ketika aku hendak melepaskan pelukanku, aku merasakan tangan Kak Desta meraih puncak kepalaku. Lalu Kak Desta mengelusnya pelan-pelan. Aku sedikit terkejut, tapi tentu saja aku tidak menolaknya. Aku hanya diam, terus memeluk Kak Desta dan membiarkannya mengelus kepalaku. Aku merasakan hangat menjalar turun dari kepalaku sampai ke hatiku.

Dan, aku tahu masih ada rasa sayang di hatinya. Untukku...

***

Sekitar pukul delapan malam aku sudah berada di dalam kamarku. Lebih cepat dari biasanya. Aku berjalan menuju meja belajar. Meja belajarku rapi meski sudah lama tidak aku gunakan. Aku sudah jarang menggunakannya semenjak aku berhenti bersekolah. Namun, malam ini ada sesuatu yang membuatku ingin menggunakannya lagi. Aku meraih sebuah buku kecil yang terletak di sudut meja belajar. Buku kecil ini dihadiahkan oleh Dokter Riko untukku tadi siang sebelum aku meninggalkan rumah sakit.

“Penuhilah buku ini dengan tulisanmu. Tulis tentang apa saja. Dan, ketika buku ini sudah penuh, pinjamkanlah kepada Dokter. Dokter ingin tahu apa saja yang kautuliskan di dalamnya.”

Begitulah kata Dokter Riko sewaktu ia memberikan buku ini kepadaku. Aku bukanlah tipe anak yang mau menurut begitu saja, maka aku pun bertanya, “Apakah aku harus melakukannya?”

Ketika Dokter Riko mengangguk, aku bertanya lagi, “Kenapa harus?”

“Karena kau punya cara berpikir yang luar biasa. Dokter yakin apa yang kautuliskan nanti akan berguna bagi setiap orang yang membacanya.”

Aku sedang menimbang-nimbang ketika Dokter Riko bertanya, “Kau suka berbagi, bukan?” Belum sempat aku menjawab, Dokter Riko telah melanjutkan, “Berbagi juga bisa dilakukan dengan menulis.”

Dan, setelah itu aku menyerah. Dokter Riko berhasil memengaruhiku.

Aku menarik kursi, lalu duduk di atasnya. Aku meraih sebuah bolpoin hitam, kemudian membuka buku pemberian Dokter Riko. Dan, sebagai pembuka, aku menuliskan satu kalimat di halaman pertama.

Hal paling mutlak yang akan dihadapi manusia adalah kematian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar