Dengan bermalas-malasan aku menarik langkah menuju
ruang keluarga. Kuempaskan tubuh ke sofa yang ada di sana, lalu meringkuk di
atasnya. Aku menguap. Sebenarnya aku masih ingin berbaring di tempat tidur,
namun Mama mengatakan pagi ini ada jadwal pemeriksaan rutin di rumah sakit. Aku
mengerang. Aku masih kantuk!
Karena merasa tidak nyaman, aku kemudian
mengangkat tubuh dan mengubah posisi menjadi duduk. Kurentangkan kedua tanganku
di udara, bermaksud merenggangkan otot-ototku. Tanpa sengaja mataku tertumbuk
pada rak buku. Kedua tanganku merendah sementara sepasang mataku menyipit
tajam. Ada yang berubah dari rak buku itu. Terlihat lebih rapi, juga
buku-bukunya berubah letak. Seingatku, semalam, komik Detective Conan dan
Bleach milikku terletak di sekat teratas, bukan di sekat terbawah seperti
sekarang. Sama halnya dengan ketujuh seri novel Harry Potter-ku. Keningku
berkerut samar dan aku mulai berpikir. Kuperhatikan rak buku itu lekat-lekat,
lalu menyadari sesuatu. Semua bukuku sekarang berada di sekat terbawah!
Aku tersenyum. Aku menyukai perubahan ini. Dengan
begini aku tidak akan kesulitan lagi jika sewaktu-waktu aku ingin mengulang
membaca buku-bukuku. Penasaran dengan siapa yang ada di balik perubahan ini,
aku pun membuka mulutku dan memanggil Mama dengan lantang.
Tidak butuh
waktu lama sampai aku melihat Mama setengah berlari mendekatiku. Dengan
terburu-buru Mama bertanya, “Ada
apa, Vin? Ada yang sakit? Di mana?”
Aku mengibas-ngibaskan tanganku ke udara. “Tidak.
Tidak ada yang sakit,” aku menyahut. Semenjak aku diketahui mengidap kanker
otak, setiap panggilanku seolah-olah menjadi tanda pemberitahuan kalau aku
tengah dalam kondisi yang tidak baik. Aku sempat bertanya-tanya, apakah mereka
akan tetap sepeduli ini kepadaku jika aku tidak mengidap kanker otak.
Mama bernapas lega. “Lalu?” tanyanya.
“Itu,”kataku sembari menunjuk rak buku, “Mama yang
merapikannya?”
Mama menggeleng. “Bukan,” tandasnya. “Bukan Mama,
tapi kakakmu,” jelasnya kemudian. “Subuh tadi, Mama melihatnya merapikan rak
buku itu.”
“Kak Desta?”
“He- emh.” Sebagai penegasan, Mama mengangguk dua kali.
Kedua alisku saling bertaut. Apakah Kak Desta
sengaja merapikan rak buku itu untukku? Mungkin Kak Desta tidak ingin aku kesulitan mengambil buku-bukuku. Mungkin
Kak Desta ingin membantuku dengan memindahkan buku-bukuku ke sekat paling
bawah. Heumh… Mungkin saja begitu. Aku tersenyum. Terlepas dari iya atau
tidaknya, aku tetap harus berterima kasih kepada Kak Desta nanti.
***
Aku duduk di ruang tunggu, menatap keramik
putih di bawah dengan bosan. Aku baru saja selesai menjalani pemeriksaan rutin.
Saat ini, Mama sedang membicarakan sesuatu dengan Dokter Riko. Aku diminta
untuk menunggu di luar. Mereka pasti tengah membicarakanku. Tapi, kenapa aku
justru tidak boleh mendengarnya? Aku mendengus keras-keras. Ini tidak adil!
Mama mungkin saja menanyakan berapa lama lagi
waktu yang aku punya. Ya, kemungkinan besar pasti begitu. Namun, jika aku, aku
tidak akan menanyakan itu. Bukan saatnya lagi aku menanyakan hal semacam itu.
Lebih baik bertanya kepada diriku sendiri, apa lagi yang bisa aku lakukan
selama aku masih punya waktu.
“Davin…”
Aku menoleh ke kanan, mencari tahu siapa yang
memanggilku. Aku tersenyum kecil begitu melihat seorang suster menghampiriku,
lalu mengambil tempat tepat di sebelahku. Ia Suster Acha, suster yang selalu
ditugaskan untuk merawatku kalau aku diharuskan untuk menginap di rumah sakit.
Kami berdua cukup akrab. Aku menyukai Suster Acha. Ia suster yang baik dan
ramah, tidak pernah mengeluh meski aku sering merepotkannya.
“Sedang apa?” tanyanya ramah.
“Duduk,” jawabku singkat. Dan, tepat tentunya.
Suster Acha terkikik mendengar jawabanku. Ada rona
merah pudar yang sempat merayapi wajahnya selama beberapa detik, lalu perlahan
mengabur saat ia berhenti terkikik. “Kau selalu begini. Tidak suka
berbasa-basi,” komentarnya.
Aku mengangkat bahuku, tidak begitu peduli. Sambil
menendang-nendang udara kosong, aku berkata, “Mama sedang berbicara dengan
Dokter Riko. Pasti membicarakan aku. Aku kesal. Kenapa aku tidak boleh ikut
mendengar.”
Aku terus menatap Suster Acha, berharap ia berada
di pihakku. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. “Mereka melakukan itu juga
untuk kebaikanmu, Davin.”
Aku mendengus sebal. “Akan tetapi, aku ingin tahu
apa saja yang mereka bicarakan tentang aku.”
Suster Acha mengulas senyum di wajahnya yang ayu.
“Davin, tidak semua hal harus kita ketahui. Justru dengan ketidaktahuan itulah
hidup ini menjadi menarik dan pantas untuk ditunggu. Karena bisa saja di detik
berikutnya kita mendapatkan jawaban untuk ketidaktahuan itu.”
“Kapan aku mati, misalnya?”
Suster Acha sontak menatapku dengan ekspresi yang
ganjil, campuran antara terkejut dan iba. Mungkin ia sadar aku terus
memperhatikannya, maka ia buru-buru menormalkan lagi air mukanya. Ia sempat
memaksakan sebuah senyum sebelum akhirnya berkata, “Tuhan menyayangi Davin.
Davin pasti bisa sembuh. Katakan kepada dirimu sendiri ‘aku pasti bisa sembuh’.
Kau tahu, setiap perkataan kita sesungguhnya adalah doa.”
Aku baru akan membalas ketika tiba-tiba Mama
memanggilku.
Aku berputar. Belum sempat aku menyahut, Mama
telah kembali bersuara. “Eh,
Suster Acha,” sapa Mama saat menyadari keberadaan Suster Acha. “Terima kasih
sudah menemani Davin,” lanjut Mama dengan sungkan.
Suster Acha mengangguk. “Tidak apa-apa.”
“Vin, Dokter Riko ingin berbicara denganmu. Ayo.”
Aku mengangguk, lalu cepat-cepat melompat berdiri.
Sebelum melangkah pergi, aku sempat berbisik kepada Suster Acha, “Aku pasti
akan sembuh.”
Suster Acha tersenyum ceria, begitu pula aku.
Ternyata rasanya menyenangkan bisa meyakinkan diriku sendiri.
***
“Ma, Kakak sudah pulang?”
Sambil
menyiapkan meja makan untuk makan siang, Mama mengangguk.
“Sekarang Kakak ada di mana?”
“Di halaman belakang. Tadi Mama lihat kakakmu
sedang duduk di dekat kolam ikan,” jawab Mama. “Ada apa?”
“Aku ke belakang dulu,” aku pamit tanpa menjawab
pertanyaan Mama, melangkah menuju halaman belakang.
Benar. Kak Desta memang ada di sana, sedang duduk
di dekat kolam ikan yang baru dibuat beberapa bulan yang lalu. Ia tidak hanya
sedang duduk, namun juga membaca sebuah majalah—mungkin majalah otomotif. Ia
masih mengenakan seragam putih abu-abunya.
Pelan-pelan aku mendekatinya. Sampai aku duduk di sampingnya, Kak Desta
masih menekuni majalahnya.
“Kak,” panggilku.
“Hemh,” balasnya tanpa menoleh.
Aku membuka mulut, bermaksud bertanya, namun
segera aku katupkan kembali. Aku ingin menanyakan tentang perubahan di rak buku
itu, tapi aku bingung harus mulai dari mana. Karena kebingungan, aku malah beringsut merapat ke
Kak Desta dan memeluknya dengan takut-takut.
“Mengenai rak buku itu, terima kasih, Kak,”
gumamku.
Aku takut Kak Desta marah karena aku memeluknya,
namun ternyata tidak. Ia tidak marah, tapi tidak juga membalas pelukanku.
Dengan menempel kepadanya aku bisa mencium bau
parfumnya yang berbaur dengan bau keringat dan matahari. Sedikit tidak keruan,
namun aku menyukainya. Memang begitulah Kak Desta-ku.
Ketika aku hendak melepaskan pelukanku, aku
merasakan tangan Kak Desta meraih puncak kepalaku. Lalu Kak Desta mengelusnya
pelan-pelan. Aku sedikit terkejut, tapi tentu saja aku tidak menolaknya. Aku
hanya diam, terus memeluk Kak Desta dan membiarkannya mengelus kepalaku. Aku
merasakan hangat menjalar turun dari kepalaku sampai ke hatiku.
Dan, aku tahu masih ada rasa sayang di hatinya.
Untukku...
***
Sekitar pukul delapan malam aku sudah berada di
dalam kamarku. Lebih cepat dari biasanya. Aku berjalan menuju meja belajar.
Meja belajarku rapi meski sudah lama tidak aku gunakan. Aku sudah jarang
menggunakannya semenjak aku berhenti bersekolah. Namun, malam ini ada sesuatu
yang membuatku ingin menggunakannya lagi. Aku meraih sebuah buku kecil yang
terletak di sudut meja belajar. Buku kecil ini dihadiahkan oleh Dokter Riko
untukku tadi siang sebelum aku meninggalkan rumah sakit.
“Penuhilah buku ini dengan tulisanmu. Tulis tentang
apa saja. Dan, ketika buku
ini sudah penuh, pinjamkanlah kepada Dokter. Dokter ingin tahu apa saja yang
kautuliskan di dalamnya.”
Begitulah kata Dokter Riko sewaktu ia memberikan
buku ini kepadaku. Aku bukanlah tipe anak yang mau menurut begitu saja, maka
aku pun bertanya, “Apakah aku harus melakukannya?”
Ketika Dokter Riko mengangguk, aku bertanya lagi,
“Kenapa harus?”
“Karena kau punya cara berpikir yang luar biasa.
Dokter yakin apa yang kautuliskan nanti akan berguna bagi setiap orang yang
membacanya.”
Aku sedang menimbang-nimbang ketika Dokter Riko
bertanya, “Kau suka berbagi, bukan?” Belum sempat aku menjawab, Dokter Riko
telah melanjutkan, “Berbagi juga bisa dilakukan dengan menulis.”
Dan, setelah itu aku menyerah. Dokter Riko
berhasil memengaruhiku.
Aku menarik kursi, lalu duduk di atasnya. Aku meraih sebuah bolpoin hitam, kemudian
membuka buku pemberian Dokter Riko. Dan, sebagai pembuka, aku menuliskan satu kalimat di halaman pertama.
Hal paling mutlak yang akan dihadapi manusia adalah
kematian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar