Rabu, 30 Januari 2013

Catatan #22: Aku Pergi



Sore di hari keempatku di rumah sakit...

Kumatikan televisi di depanku. Kutatap televisi itu dengan sebal, lalu menggerutu tanpa suara. Niat awalku adalah menonton televisi, tapi yang aku lakukan dari tadi hanyalah menggonta-ganti siaran. Tidak ada siaran yang menarik, simpulku. Kuletakkan remote yang kupegang ke atas ranjang sembarangan, lalu mendesah keras-keras.

“Kenapa, Vin?” tanya Papa. Ia mengalihkan perhatiannya dari laptop yang berada di atas pangkuannya. Saat ini Papa sedang menemaniku sendirian. Tadi Mama bersama dengan Papa, tapi beberapa saat yang lalu Mama keluar ruangan untuk mengambil air panas untuk kopi Papa.

“Aku bosan,” keluhku.

Papa melipat laptop-nya, lalu diletakkannya laptop itu di atas meja, bersebelahan dengan gelas berisi air putih yang hampir tandas. “Mau main monopoli?”

Aku menggeleng tidak bersemangat. “Aku malas memainkannya.”

Papa mengangguk maklum. Aku merebahkan diri di atas ranjang kemudian meringkuk dalam-dalam.

“Aku mau tidur saja,” kataku.

“Tidur panjang,” celetukku kemudian.

Aku melihat Papa tersentak, begitu tiba-tiba. Papa seperti dihantam oleh sesuatu yang tidak kasatmata dan tepat mengenai belakang kepalanya. Raut wajahnya sontak berubah. Urat-urat wajahnya menegang. Semua itu pasti karena kata-kataku barusan. Aku sendiri tidak tahu. Kata-kata itu terlontar keluar begitu saja, nyaris di luar kesadaranku.

Setelah membeku cukup lama, Papa akhirnya mengangguk dengan gamang dan tersenyum pahit. “Ya, tidurlah,” ujarnya. Papa menatapku dalam-dalam, jakunnya naik-turun perlahan-lahan. “Tapi katakan kepada Tuhan, kau tidak boleh tidur lama-lama,” desahnya rangup.

“Ya,” sahutku. “Akan kukatakan kepada-Nya. Jika bertemu dengan-Nya, Davin juga akan minta disembuhkan.”

“Ya.” Papa mengangguk kembali. “Minta Dia menyembuhkanmu.” Papa menangis. “Katakan kepada-Nya, jangan ambil putra bungsu Papa cepat-cepat.”

Aku menutup mata, dan tidak lama setelahnya aku pun melayang ke alam di mana hanya ada aku dan imajinasiku. Alam mimpi.

***

Ketika aku membuka mata, aku merasakan ada keanehan yang bergelung-gelung di sekitarku. Aku merasa berada di kamar itu, namun aku juga merasa aku masih terjebak di alam mimpi. Aku tidak benar-benar sadar, namun aku juga tidak benar-benar tidak sadar. Tubuhku memberat dan sesaat kemudian meringan. Berat, kemudian ringan lagi. Sangat tidak menyenangkan.

Aku tidak mengerti. Aku kebingungan. Aku menggeliat dengan gelisah.

Aneh. Aneh. Aneh...

“Vin, kau kenapa?”

Aku tahu Mama bersuara. Aku mendengarnya. Aku ingin menjawabnya, tapi tidak bisa. Suaraku seperti telah hilang.

“Vin... Davin...”

Aku menoleh.

“Ada apa?” tanya Mama lembut dan hangat.

Aku tidak menyahut. Aku hanya menggeleng, namun aku merasa baikkan. Kehangatan suara Mama membuatku tenang. Aku berhenti menggeliat.

“Bicaralah, Vin,” minta Mama dengan halus.

Susah payah aku mencoba bersuara. “Di luar sana ada banyak bintang, kan, Ma?” Aku berbicara seperti meyakinkan diriku sendiri. “Bantu Davin, ya...”

“Bantu apa, Sayang?”

“Jika ada bintang yang jatuh, tolong titipkan satu keinginan kecil Davin kepada bintang itu.”

“Apa?”

Meski mendadak merasa lemas, aku tetap berkata, “Davin hanya ingin hidup satu hari lebih lama daripada yang Tuhan gariskan untuk Davin.”

Air mata Mama mengalir. Mama menangis. Lagi. Namun, tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Mama menangis tanpa suara.

“Jangan menangis,” kataku. Kuseka air mata Mama. Tanganku lantas bergerak untuk membentuk segaris senyum di wajahnya. “Tersenyumlah. Davin suka senyum Mama.”

Mama memelukku yang tengah terbaring di atas ranjang. Tubuhnya menggigil hebat. “Mama pasti akan menitipkannya. Mama janji.”

Suara Mama menipis, hampir tidak terdengar olehku.

Aku semakin lelah. “Aku ingin tidur.”

Mama menguraikan pelukannya. Ia mengangguk, lalu mengatakan sesuatu. Bibirnya bergerak-gerak, namun aku tidak mendengar suara apa pun.

Aku menutup mata. Setelah itu aku merasa begitu ringan, seperti melayang di udara.

Tuhan, bersediakah Kau menyembuhkanku?

***

Davin meninggal beberapa menit kemudian. Setelah berjuang melawan kanker otaknya selama hampir dua tahun, Davin akhirnya menyerah dan pergi di malam mendung yang tidak berbintang. Beberapa saat sebelumnya, ia sempat menuliskan sebuah surat yang kemudian ia selipkan di antara halaman buku kecilnya.

***

Isi surat yang ditulis Davin


Nanti, ketika aku sudah pergi, ketahuilah aku tidak benar-benar menghilang dari kehidupan kalian. Aku masih ada, sangat dekat dengan kalian. Di sana. Di hati kalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar