Sore di hari
keempatku di rumah sakit...
Kumatikan televisi di
depanku. Kutatap televisi itu dengan sebal, lalu menggerutu tanpa suara. Niat
awalku adalah menonton televisi, tapi yang aku lakukan dari tadi hanyalah
menggonta-ganti siaran. Tidak
ada siaran yang menarik, simpulku. Kuletakkan remote yang kupegang ke atas
ranjang sembarangan, lalu mendesah keras-keras.
“Kenapa, Vin?” tanya Papa.
Ia mengalihkan perhatiannya dari laptop
yang berada di atas pangkuannya. Saat ini Papa sedang menemaniku sendirian. Tadi
Mama bersama dengan Papa, tapi beberapa saat yang lalu Mama keluar ruangan
untuk mengambil air panas untuk kopi Papa.
“Aku bosan,” keluhku.
Papa melipat laptop-nya, lalu diletakkannya laptop itu di atas meja, bersebelahan
dengan gelas berisi air putih yang hampir tandas. “Mau main monopoli?”
Aku menggeleng tidak
bersemangat. “Aku malas memainkannya.”
Papa mengangguk maklum.
Aku merebahkan diri di atas ranjang kemudian meringkuk dalam-dalam.
“Aku mau tidur saja,” kataku.
“Tidur panjang,” celetukku
kemudian.
Aku melihat Papa
tersentak, begitu tiba-tiba. Papa seperti dihantam oleh sesuatu yang tidak
kasatmata dan tepat mengenai belakang kepalanya. Raut wajahnya sontak berubah.
Urat-urat wajahnya menegang. Semua itu pasti karena kata-kataku barusan. Aku
sendiri tidak tahu. Kata-kata itu terlontar keluar begitu saja, nyaris di luar
kesadaranku.
Setelah membeku cukup
lama, Papa akhirnya mengangguk dengan gamang dan tersenyum pahit. “Ya,
tidurlah,” ujarnya. Papa menatapku dalam-dalam, jakunnya naik-turun
perlahan-lahan. “Tapi katakan kepada Tuhan, kau tidak boleh tidur lama-lama,”
desahnya rangup.
“Ya,” sahutku. “Akan
kukatakan kepada-Nya. Jika
bertemu dengan-Nya, Davin juga akan minta disembuhkan.”
“Ya.” Papa mengangguk
kembali. “Minta Dia menyembuhkanmu.” Papa menangis. “Katakan kepada-Nya, jangan
ambil putra bungsu Papa cepat-cepat.”
Aku menutup mata, dan
tidak lama setelahnya aku pun melayang ke alam di mana hanya ada aku dan
imajinasiku. Alam mimpi.
***
Ketika aku membuka mata,
aku merasakan ada keanehan yang bergelung-gelung di sekitarku. Aku merasa
berada di kamar itu, namun aku juga merasa aku masih terjebak di alam mimpi.
Aku tidak benar-benar sadar, namun aku juga tidak benar-benar tidak sadar.
Tubuhku memberat dan sesaat kemudian meringan. Berat, kemudian ringan lagi.
Sangat tidak menyenangkan.
Aku tidak mengerti. Aku
kebingungan. Aku menggeliat dengan gelisah.
Aneh. Aneh. Aneh...
“Vin, kau kenapa?”
Aku tahu Mama bersuara.
Aku mendengarnya. Aku ingin menjawabnya, tapi tidak bisa. Suaraku seperti telah
hilang.
“Vin... Davin...”
Aku menoleh.
“Ada apa?” tanya Mama
lembut dan hangat.
Aku tidak menyahut. Aku hanya
menggeleng, namun aku merasa baikkan. Kehangatan suara Mama membuatku tenang.
Aku berhenti menggeliat.
“Bicaralah, Vin,” minta
Mama dengan halus.
Susah payah aku mencoba
bersuara. “Di luar sana ada banyak bintang, kan, Ma?” Aku berbicara seperti meyakinkan
diriku sendiri. “Bantu Davin, ya...”
“Bantu apa, Sayang?”
“Jika ada bintang yang
jatuh, tolong titipkan satu keinginan kecil Davin kepada bintang itu.”
“Apa?”
Meski mendadak merasa
lemas, aku tetap berkata, “Davin hanya ingin hidup satu hari lebih lama daripada
yang Tuhan gariskan untuk Davin.”
Air mata Mama mengalir. Mama
menangis. Lagi. Namun, tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Mama menangis
tanpa suara.
“Jangan menangis,” kataku. Kuseka air mata Mama. Tanganku lantas bergerak untuk membentuk
segaris senyum di wajahnya. “Tersenyumlah. Davin suka senyum Mama.”
Mama memelukku yang tengah
terbaring di atas ranjang. Tubuhnya menggigil hebat. “Mama pasti akan
menitipkannya. Mama janji.”
Suara Mama menipis, hampir
tidak terdengar olehku.
Aku semakin lelah. “Aku
ingin tidur.”
Mama menguraikan
pelukannya. Ia mengangguk, lalu mengatakan sesuatu. Bibirnya bergerak-gerak,
namun aku tidak mendengar suara apa pun.
Aku menutup mata. Setelah
itu aku merasa begitu ringan, seperti melayang di udara.
Tuhan, bersediakah Kau
menyembuhkanku?
***
Davin meninggal beberapa menit kemudian. Setelah
berjuang melawan kanker otaknya selama hampir dua tahun, Davin akhirnya
menyerah dan pergi di malam mendung yang tidak berbintang. Beberapa saat
sebelumnya, ia sempat menuliskan sebuah surat yang kemudian ia selipkan di
antara halaman buku kecilnya.
***
Isi surat yang ditulis Davin
Nanti, ketika
aku sudah pergi, ketahuilah aku tidak benar-benar menghilang dari kehidupan
kalian. Aku masih ada, sangat dekat dengan kalian. Di sana. Di hati kalian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar