Elis tentang Davin
Awal bulan September—nyaris—14 tahun
yang lalu, aku melahirkan putra keduaku. Ketika dia keluar dari rahimku dan
menangis kencang, aku tahu suatu saat nanti dia akan menjadi seseorang yang
hebat.
Jadilah manusia yang berguna, itulah bisikkan
pertamaku kepadanya. Aku tahu dia mendengarkanku saat itu karena di kemudian
hari dia memang menjadi apa yang aku harapkan.
Davin. Dialah putra kebanggaanku.
Dialah salah satu dari harta hidupku yang paling berharga. Dialah bagian dari
kebahagiaanku yang hanya bisa kumiliki dalam waktu yang amat singkat.
Davin Alvaro. Dialah putraku. Si
batu karang yang hidup.
Untuk Davin...
Davin sudah
pergi. Lantas siapa yang akan mengingatkan Mama ini-itu? Kau tahu, kan Mama ini
pelupa?
Davin, jangan
lupa temui Mama di dalam mimpi, ya. Katakan kau baik-baik saja di sana karena hanya dengan
itulah, Mama akan bisa tenang di sini...
***
Nathan tentang Davin
Tidak ada
orang yang tahu betapa takutnya aku ketika mengetahui ada sel-sel kanker yang
bersarang di otaknya. Aku takut dia akan ‘jatuh’ dan semuanya akan berubah
kacau. Akan tetapi, semuanya tidak begitu seperti apa yang aku bayangkan. Dia
memang ‘jatuh’, namun tidak lama. Dan saat dia bangkit, aku baru sadar kalau
aku melupakan satu hal: aku punya putra yang hebat.
Aku tidak
pernah tahu kalau diam-diam Davin menulis buku ini. Aku terkejut saat
membacanya. Setelah aku membacanya, setidaknya aku tahu kalau Davin tidak pernah
benar-benar pergi. Dia masih hidup di buku ini, di hati kami dan di setiap
berkas-berkas semangat yang dia tinggalkan.
Untuk Davin...
Dua bulan lagi kami akan merayakan ulang tahunmu yang ke-14.
Tenang saja. Hanya akan ada pesta kecil-kecilan karena kami tahu kau tidak suka
keramaian. Hanya akan ada kami, Randy dan mungkin juga Dokter Riko dan Suster
Acha. Pesta yang kecil, bukan?
Tidurlah dengan tenang, putraku...
***
Desta tentang Davin
Dia adalah adikku yang terbaik.
Bukan karena dia adalah adikku satu-satunya, namun karena dia memang yang
terbaik.
Jika
diibaratkan dengan sesuatu, dia itu
seperti...
1. Halaman buku yang kosong—polos.
2. Bola basket yang memantul ke sana ke mari—ceria dan aktif.
3. Batu—keras dan tegar.
4. Buku ini—memotivasi dan menginspirasi.
Untuk adikku...
Vin, kau selalu memperhatikan kami dari atas sana, kan?
Dari bintang yang kautunjukkan kepada Kakak dulu. Setiap malam Kakak selalu
mencari bintang itu dan melihatnya. Dan setiap kali Kakak melihatnya Kakak
tahu—seperti katamu dulu—kau menyayangi Kakak.
Ah iya, Kakak ingin mengakui satu hal. Kakak memang tengah
jatuh cinta. Kakak harap kau mau menjaga rahasia ini, ya.
***
Randy tentang Davin
Dia itu
menyebalkan dan susah diajari. Entah sudah berapa kali aku mengajarkannya untuk
berbasa-basi, namun dia benar-benar masa bodoh dengan itu. Menyebalkan sekali, kan? Namun dari sanalah
aku tahu kalau dia adalah seseorang dengan pendirian yang teguh. Mencoba
menggoyahkan pendiriannya sama sulitnya dengan mengerjakan pekerjaan rumah
Matematika.
Sebenarnya
sebelum ini aku sudah yakin, namun ketika aku selesai membaca buku ini, aku
bertambah yakin kalau keberuntungan terbesarku dalam hidup adalah bisa mengenal
dia sebagai sahabatku.
Sahabatku...
Bak seorang ilmuwan besar, semua tentang dirimu akan selalu
dikenang.
P. S: bagaimana? Kau terharu membaca ini?
***
Acha tentang Davin
Sejak
pertama kali mengenalnya, entah kenapa aku yakin dia bukanlah anak yang biasa.
Dia lebih dari itu. Buku ini telah membuktikannya. Membaca buku ini, aku
seperti menyelami pikiran Davin yang sederhana, namun sesak akan inspirasi.
Dia telah
pergi, dan dia tidak sendiri. Dia pergi bersama harapannya. Davin telah
menunjukkan satu hal kecil kepada siapa pun yang membaca buku ini bahwa tidak
ada alasan untuk berhenti berharap, sekalipun itu kematian.
Hei, Davin...
Saranmu tentang bubur dan kecap asin itu telah suster
sampaikan. Sudah suster bilang, kan
suster akan menyampaikannya. :)
***
Seperti
yang pernah kukatakan kepada Davin, aku memberikan buku ini kepada Davin karena
dia punya cara berpikir yang luar biasa. Dia bisa memikirkan sesuatu yang
kemungkinan besar tidak akan pernah terpikirkan oleh anak-anak seusianya.
Mungkin penyakit yang dia derita telah mengajarkannya untuk menjadi dewasa
lebih cepat dari semestinya. Dan setelah membaca apa yang ia tulis, aku tahu
aku sama sekali tidak salah.
Davin
menulis buku ini karena dia ingin berbagi dan aku harap dia benar-benar telah
melakukannya.
Pasienku yang hebat...
Terima kasih karena telah bersedia memenuhi buku ini dengan
tulisanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar