Sabtu, 05 Januari 2013

Catatan #4: Yang Pernah Aku Alami


Sekarang ini aku ingin menceritakan apa-apa saja yang pernah aku alami semenjak aku sakit. Tentu saja yang berhubungan dengan penyakitku. Di bawah ini hanya beberapa saja. Aku malas jika harus menceritakan semuanya.
  1. Aku mengalami serangan pertamaku sewaktu aku baru saja akan menginjak umur 11 tahun. Waktu itu sekitar pertengahan bulan Agustus. Aku merasakan rasa sakit yang luar biasa di kepalaku. Karena tidak sanggup menahan rasa sakit itu, aku pun tersungkur dan tidak sadarkan diri. Saat aku membuka mata, aku sudah berada di rumah sakit. Tidak ada permeriksaan yang lebih lanjut karena dokter mengatakan aku hanya lelah berlebihan.
     
  2. Berselang kira-kira 3 bulan, aku mendadak kehilangan kemampuan melihat. Mama sangat khawatir dan langsung membawaku ke rumah sakit. Karena kebutaan mendadak itulah, aku jadi tahu kalau ada sel-sel kanker yang bersarang di otakku.
     
  3. Selama 2 minggu penuh, aku di rawat di rumah sakit untuk memulihkan penglihatanku. Di sanalah aku mengenal Dokter Riko dan Suster Acha.
     
  4. Beberapa bulan semenjak aku dipastikan menderita kanker otak, aku merasa suasana di rumah menjadi sangat berbeda. Tidak ada keceriaan. Tawa pun tidak. Semuanya berubah murung dan suram. Aku jadi sering mendapati Mama menangis diam-diam di halaman belakang rumah. Aku berkali-kali mendapati Papa memeluk Mama yang tengah menangis. Papa memang tidak menangis, namun aku tahu Papa tidak lebih kuat dari Mama. Suasana rumah menjadi kelabu seperti aku sudah pergi saja.
     
  5. Berkali-kali aku diserang oleh rasa pusing yang memualkan. Saat serangan itu datang, aku merasa seperti tengah berdiri di atas perahu yang tengah diombang-ambing oleh ombak besar. Biasanya, pada akhirnya aku akan memuntahkan isi lambungku. Tidak persis memuntahkan sebenarnya. Lebih tepatnya menyemburkan.
     
  6. Aku sudah menjalani kemoterapi sebanyak 4 kali. Rasanya sungguh menyiksa. Setelah kemoterapi yang keempat, Dokter Riko mengatakan aku tidak akan sanggup menjalani kemoterapi selanjutnya karena fisikku melemah. Aku tidak membantah. Aku memang tidak sanggup sampai-sampai saat itu aku berpikir lebih baik aku segera mati saja. Sekarang aku hanya diminta untuk meminum beberapa obat yang aku tahu itu hanya untuk menunda kematianku saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar