Senin, 28 Januari 2013

Catatan #20: Mencoba Untuk Kuat

Hari kedua di rumah sakit...

Hari ini nyaris semua paman dan bibiku datang menjengukku bergantian. Mereka membawakan bermacam-macam buah untukku. Banyak sekali sampai-sampai meja di samping ranjang tidak sanggup menampungnya. Sebenarnya aku ingin meminta mereka membawa buah-buahan itu pulang saja karena aku tidak berminat untuk memakannya. Akan tetapi, karena aku tahu itu tidak sopan, maka aku diam saja.

Sepanjang mereka berada di kamarku, mereka bertanya ini-itu kepadaku. Aku hanya menjawab singkat-singkat. Selain bertanya ini-itu, mereka juga menceritakan macam-macam hal, tapi aku hanya diam dan mendengar tanpa benar-benar peduli. Mereka juga berbincang-bincang dengan Mama dan Mama hanya menanggapi seperlunya. Mama terlihat tidak bersemangat. Pasti kelelahan. Kemarin Mama menjagaku semalaman.

Sekarang ini, suasana kamar rawatku sudah sepi. Hanya ada aku yang tengah duduk di atas ranjang. Mama sedang menerima telepon Papa di luar. Aku mengembuskan napas lega. Sepertinya tidak akan ada lagi paman dan bibi yang menjengukku hari ini. Syukurlah. Jadi, aku tidak perlu berpura-pura bersikap manis di depan mereka. Rasanya melelahkan sekali ketika berpura-pura.

Aku mengembuskan napas lega sekali lagi. Setelah itu, aku menoleh menatap ke luar jendela kaca. Sudah sore. Semburat-semburat lembayung tampak di langit.

Aku menoleh ke arah pintu saat mendengar suara deritan pintu. Di sana aku melihat Randy menyusup masuk dan menarik langkah ke arahku dengan tergesa-gesa.

”Maaf, aku baru menjengukmu sekarang. Kemarin kami sekeluarga sedang ada di luar kota,” katanya dengan lantang sedetik setelah ia duduk di samping ranjang.

”Pelankan suaramu kalau kau tidak ingin ditendang keluar dari sini,” ucapku datar.

Segera Randy membekap mulutnya. Kelopak matanya melebar menatapku. Kemudian ia mengangguk-angguk, sepertinya sadar kalau ia tidak perlu bersuara selantang tadi.

”Maaf,” bisiknya dengan sangat pelan. Suaranya hampir menghilang ditelan udara.

Aku menatapnya malas-malasan dan berdecak. ”Tidak harus sepelan itu, Randy Galvarez,” gumamku dongkol.

Randy tertawa lepas, namun langsung berhenti saat aku melotot ke arahnya.

Anak menyebalkan itu memperhatikanku lekat-lekat selama beberapa detik, lalu, ”Bagaimana keadaanmu?” tanyanya hati-hati.

Pertanyaan yang sebetulnya biasa, namun di telingaku, pertanyaan itu terdengar tidak biasa. Pertanyaan itu menakut-nakutiku dan membuat jantungku berdetak cepat.

Kenapa harus pertanyaan itu?

Sepertinya Randy cukup peka karena ia buru-buru mengimbuhkan, ”Ah, tentu kau baik-baik saja. Omong-omong, aku baru membeli beberapa cd Playstation baru. Kelihatannya seru. Setelah kau keluar dari sini, bagaimana kalau kita me...”

”Dua minggu,” gumamku mengambang.

Randy berhenti berbicara. Ia mengernyitkan dahinya, menatapku lurus dan bertanya, ”A-apa?”

Aku menghela napas dan mengalihkan tatapan ke langit-langit kamar. ”Dua minggu.” Hening sejenak sebelum aku menambahkan, ”Kata dokter, umurku tinggal dua minggu lagi.”

Dan, saat aku kembali menatap Randy, aku melihat ia terperangah di tempat. Matanya terbelalak lebar. Ombak terkejut baru saja menerjangnya. Selama berdetik-detik Randy hanya membeku di tempatnya, tidak melakukan apa-apa selain bernapas, duduk dan menatapku tidak percaya.

”D-dua minggu?”

Aku mengangguk.

Dan, ombak terkejut kembali menerjang Randy. Bahunya terkulai turun dan ia jadi lemas. Kepalanya tertunduk dalam gerakan lambat. Tangan kanannya bergerak di sekitar wajahnya—dan sepertinya aku tahu apa yang ia lakukan.

Randy kemudian mengangkat wajahnya. Jejak basah tinggal di sekitar matanya. Tatapannya berubah sendu.

”Lalu, kau percaya?” tanyanya.

Aku mendesah. ”Aku ingin—ingin sekali—tidak memercayainya, tapi...”

”Kalau begitu jangan memercayainya,” sela Randy cepat-cepat.

Aku menggeleng kecil, lalu tersenyum getir. ”Bagaimanapun juga, ini hidupku. Aku bisa merasakannya,” aku menarik napas dalam-dalam, ”Aku bisa merasakan kalau waktuku memang tidak lama lagi.”

”Itu pasti hanya perasaanmu,” seru Randy. ”Aku tidak merasakan apa-apa. Sungguh,” Randy meyakinkan. Raut wajahnya terlihat serius.

Aku tersenyum hambar. ”Ini hidupku, Ran, bukan hidupmu.”

”Yang benar saja,” balasnya sengit. ”Aku ini sahabatmu. Aku bisa merasakan kalau waktumu masih sangat panjang.”

”Sudahlah, Ran...”

Randy kelihatan ingin membantah, namun akhirnya ia urungkan. ”Sepertinya memang sebaiknya aku tidak memberitahukan apa birthday wish-ku,” ucapnya menyesal.

Aku menggeleng. ”Bukan salahmu,” kataku. ”Ini bukan tentang harapanmu, tapi ini tentang takdirku.”

”Kau percaya takdir?”

”Bukankah mati memang takdir dari setiap yang hidup?”

Randy mengangguk samar-samar. ”Pokoknya apa pun yang terjadi, apa pun yang kaurasakan, kau tidak boleh putus asa. Kau sudah berjanji kepadaku. Ingat? Aku tahu kau kuat.”

Aku menggeleng lagi. ”Aku hanya sedang mencoba untuk kuat.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar