Hari kedua di
rumah sakit...
Hari ini nyaris semua paman dan bibiku datang
menjengukku bergantian. Mereka membawakan bermacam-macam buah untukku. Banyak
sekali sampai-sampai meja di samping ranjang tidak sanggup menampungnya.
Sebenarnya aku ingin meminta mereka membawa buah-buahan itu pulang saja karena
aku tidak berminat untuk memakannya. Akan tetapi, karena aku tahu itu tidak sopan,
maka aku diam saja.
Sepanjang mereka berada di
kamarku, mereka bertanya ini-itu kepadaku. Aku hanya menjawab singkat-singkat.
Selain bertanya ini-itu, mereka juga menceritakan macam-macam hal, tapi aku
hanya diam dan mendengar tanpa benar-benar peduli. Mereka juga
berbincang-bincang dengan Mama dan Mama hanya menanggapi seperlunya. Mama terlihat tidak bersemangat. Pasti
kelelahan. Kemarin Mama menjagaku semalaman.
Sekarang ini, suasana
kamar rawatku sudah sepi. Hanya ada aku yang tengah duduk di atas ranjang. Mama sedang menerima telepon Papa di luar.
Aku mengembuskan napas lega. Sepertinya tidak akan ada lagi paman dan bibi yang
menjengukku hari ini. Syukurlah. Jadi, aku tidak perlu berpura-pura bersikap
manis di depan mereka. Rasanya melelahkan sekali ketika berpura-pura.
Aku mengembuskan napas
lega sekali lagi. Setelah itu, aku menoleh menatap ke luar jendela kaca. Sudah
sore. Semburat-semburat lembayung tampak di langit.
Aku menoleh ke arah pintu
saat mendengar suara deritan pintu. Di sana aku melihat Randy menyusup masuk
dan menarik langkah ke arahku dengan tergesa-gesa.
”Maaf, aku baru menjengukmu
sekarang. Kemarin kami sekeluarga sedang ada di luar kota,” katanya dengan
lantang sedetik setelah ia duduk di samping ranjang.
”Pelankan suaramu kalau
kau tidak ingin ditendang keluar dari sini,” ucapku datar.
Segera Randy membekap
mulutnya. Kelopak matanya melebar menatapku. Kemudian ia mengangguk-angguk, sepertinya
sadar kalau ia tidak perlu bersuara selantang tadi.
”Maaf,” bisiknya dengan
sangat pelan. Suaranya hampir menghilang ditelan udara.
Aku menatapnya
malas-malasan dan berdecak. ”Tidak harus sepelan itu, Randy Galvarez,” gumamku
dongkol.
Randy tertawa lepas, namun langsung berhenti saat
aku melotot ke arahnya.
Anak menyebalkan itu memperhatikanku
lekat-lekat selama beberapa detik, lalu, ”Bagaimana keadaanmu?” tanyanya
hati-hati.
Pertanyaan yang sebetulnya
biasa, namun di telingaku, pertanyaan itu terdengar tidak biasa. Pertanyaan itu
menakut-nakutiku dan membuat jantungku berdetak cepat.
Kenapa harus pertanyaan
itu?
Sepertinya Randy cukup
peka karena ia buru-buru mengimbuhkan, ”Ah, tentu kau baik-baik saja. Omong-omong, aku baru membeli beberapa cd Playstation baru. Kelihatannya seru. Setelah kau keluar dari sini, bagaimana
kalau kita me...”
”Dua minggu,” gumamku
mengambang.
Randy berhenti berbicara.
Ia mengernyitkan dahinya, menatapku lurus dan bertanya, ”A-apa?”
Aku menghela napas dan mengalihkan
tatapan ke langit-langit kamar. ”Dua minggu.” Hening sejenak sebelum aku menambahkan, ”Kata
dokter, umurku tinggal dua minggu lagi.”
Dan, saat aku kembali menatap Randy, aku melihat
ia terperangah di tempat. Matanya terbelalak lebar. Ombak terkejut baru saja
menerjangnya. Selama berdetik-detik Randy hanya membeku di tempatnya, tidak
melakukan apa-apa selain bernapas, duduk dan menatapku tidak percaya.
”D-dua minggu?”
Aku mengangguk.
Dan, ombak terkejut
kembali menerjang Randy. Bahunya
terkulai turun dan ia jadi lemas. Kepalanya tertunduk dalam gerakan lambat.
Tangan kanannya bergerak di sekitar wajahnya—dan sepertinya aku tahu apa yang
ia lakukan.
Randy kemudian mengangkat wajahnya. Jejak basah
tinggal di sekitar matanya. Tatapannya berubah sendu.
”Lalu, kau percaya?”
tanyanya.
Aku mendesah. ”Aku
ingin—ingin sekali—tidak memercayainya, tapi...”
”Kalau begitu jangan memercayainya,”
sela Randy cepat-cepat.
Aku menggeleng kecil, lalu
tersenyum getir. ”Bagaimanapun juga, ini hidupku. Aku bisa merasakannya,” aku
menarik napas dalam-dalam, ”Aku bisa merasakan kalau waktuku memang tidak lama
lagi.”
”Itu pasti hanya
perasaanmu,” seru Randy. ”Aku tidak merasakan apa-apa. Sungguh,” Randy
meyakinkan. Raut wajahnya
terlihat serius.
Aku tersenyum hambar. ”Ini
hidupku, Ran, bukan hidupmu.”
”Yang benar saja,” balasnya sengit. ”Aku ini
sahabatmu. Aku bisa merasakan
kalau waktumu masih sangat panjang.”
”Sudahlah, Ran...”
Randy kelihatan ingin
membantah, namun akhirnya ia urungkan. ”Sepertinya memang sebaiknya aku tidak
memberitahukan apa birthday wish-ku,”
ucapnya menyesal.
Aku menggeleng. ”Bukan
salahmu,” kataku. ”Ini bukan tentang harapanmu, tapi ini tentang takdirku.”
”Kau percaya takdir?”
”Bukankah mati memang
takdir dari setiap yang hidup?”
Randy mengangguk
samar-samar. ”Pokoknya apa pun yang terjadi, apa pun yang kaurasakan, kau tidak
boleh putus asa. Kau sudah berjanji kepadaku. Ingat? Aku tahu kau kuat.”
Aku menggeleng lagi. ”Aku
hanya sedang mencoba untuk kuat.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar