Kamis, 03 Januari 2013

Catatan #2: Untuk Apa Ada Penyakit?



Aku mematut diri di depan cermin besar yang ada di kamarku. Wajahku terlihat sedikit pucat, juga terlihat kurang bersemangat. Entahlah. Belakangan ini aku memang merasa kurang bersemangat. Aku mulai bosan dengan hari-hariku yang nyaris terus kuhabiskan di rumah. Aku lantas mendesah panjang. Aku sempat menyisir rambutku dengan jemariku seadanya. Aku jarang menggunakan sisir yang kusimpan di dalam laci lemariku. Aku jarang mengeluarkannya. Lagi pula menyisir rambut bisa dibilang bukan rutinitasku. Aku sempat berhenti melakukannya berbulan-bulan ketika rambut meninggalkan kepalaku setelah aku menjalani kemoterapi tahun lalu. Tidak seperti makan yang merupakan rutinitasku. Ya, aku bisa saja berhenti melakukannya kalau aku ingin mati lebih cepat. Dan ketika aku mati, aku akan benar-benar berhenti melakukan semua rutinitasku. Eh, belum tentu. Bisa iya, bisa juga tidak. Ah, lupakan saja. Aku menggeleng tegas, lalu berjalan menuju balkon kamarku yang berbentuk setengah lingkaran.

Aku berdiri di balkon kamarku dan menyapa singkat mentari. Sebenarnya ada dua buah kursi di dekatku, namun aku lebih memilih untuk berdiri. Selama aku masih bisa berdiri, aku akan berdiri. Dengan memilih untuk berdiri daripada duduk, setidaknya aku sedikit membuktikan kepada dunia bahwa aku masih kuat. Aku ingin kuat. Aku tersenyum bangga.

Aku memandang langit. Mentari yang kusapa tadi belum merangkak terlalu tinggi. Langit ditemani oleh gumpalan-gumpalan awan yang tipis, berarak pelan dibawa angin yang terasa sejuk, membuatku kembali mengantuk.

Tiba-tiba saja aku merasa kesal. Di saat seperti sekarang, di saat anak-anak seusiaku sibuk di sekolah, aku malah harus puas mendekam di dalam rumahku sendiri. Jujur saja, sampai saat ini aku masih sedikit tidak terima dengan keputusan Papa dan Mama yang memintaku—sebenarnya bisa dibilang memaksaku—untuk berhenti bersekolah 6 bulan yang lalu. Ya, aku memang masih bisa belajar di rumah. Di hari-hari tertentu, Mama akan ‘menjelma’ menjadi seorang guru untukku. Akan tetapi, yang aku butuhkan bukan hanya ilmu. Aku juga ingin bersosialisasi dan mengobrol dengan teman-teman di sekolah tentang banyak hal. Namun di sisi lain, keputusan Papa dan Mama ada baiknya. Dengan berhenti bersekolah, ketika aku pergi nanti, orang-orang yang menangisiku tidak akan bertambah banyak. Aku tidak suka orang-orang menangisiku ketika aku pergi nanti. Sewaktu aku lahir, aku disambut dengan senyuman bahagia. Aku ingin sewaktu aku pergi nanti, aku diantar dengan senyuman juga. Sederhana, bukan?

Aku tengah menggaruk-garuk lengan kiriku yang terasa gatal saat Fedora—burung nuri peliharaan keluargaku—berkicau-kicau nyaring. Ia lapar, mungkin. Aku mengelus kecil perutku. Aku juga lapar. Sebaiknya aku segera turun untuk menyantap sarapanku.

***

Aku sampai di dua anak tangga terakhir. Aku menuruni keduanya dengan sekali lompatan. Setelah itu aku berbelok ke kanan menuju meja makan. Meja makan yang kumaksudkan itu berbentuk persegi panjang. Tidak terlalu besar. Keempat kakinya menyangga selempeng kaca tebal yang transparan. Di atasnya terdapat beberapa toples berisi selai dengan rasa yang berbeda-beda. Ada pula sebuah wadah yang dihuni oleh beberapa lembar roti gandum. Selain toples dan wadah itu, terdapat juga dua buah gelas dengan air putih yang hampir tandas dan dua piring kotor. Bekas Papa dan Kak Desta yang belum dibereskan, pasti.

Aku mengangkat kedua bahuku, tidak begitu peduli. Kutarik kursi di dekatku dan duduk di atasnya. Ruang makan dan dapur hanya dibatasi oleh sebuah counter panjang. Aku bisa melihat Mama di dapur, tengah mencuci sebuah piring keramik. Setelah selesai mencuci piring itu, Mama menghampiriku dan memberiku satu kecupan sayang di kening. Aku menerimanya dan tersenyum.

“Mau makan apa, Vin?” tanyanya dengan lembut. “Katakan saja. Mama akan buatkan untukmu,” tambahnya.

“Sekalipun aku meminta pizza seafood dengan ukuran besar?” tanyaku polos.

Mama terdiam sesaat. Ia memiringkan kepalanya, tampak berpikir-pikir, lalu mengangguk singkat. “Kalau itu yang kau mau, Mama bisa memesannya.”

“Tadi Mama bilang akan membuatkannya, bukan memesannya,” cibirku. Ketika Mama hendak membalas, aku segera menyambar, “Aku makan roti saja.”

Mama mengangguk segera. “Kalau begitu, Mama buatkan segelas susu dulu untukmu,” ujarnya, lalu berjalan kembali ke dapur.

“Apa yang ingin kaulakukan hari ini, Vin?” tanya Mama, lalu meletakkan segelas susu di hadapanku. Mama duduk di sampingku dan bertopang dagu sambil menanti jawabanku.

“Sekolah,” sahutku singkat. Kuraih selembar roti gandum dan kubaluri dengan selai nanas.

Mama kelihatan sedikit tersentak mendengar jawabanku. Sesaat setelahnya, ia tersenyum kikuk dan mengangguk-angguk. “Baiklah. Kita akan belajar bersama hari ini,” katanya.

Aku tidak langsung menanggapi. Kulahap rotiku dulu. “Sekolah sungguhan,” ucapku setelah selesai mengunyah.

Selama beberapa detik, aku mendapati Mama menatapku dengan mimik wajah terpukul. Aku tidak suka melihat Mama seperti itu, namun aku bingung harus mengatakan apa. Maka aku hanya diam dan terus melahap rotiku dengan nafsu makan yang menguap pelan-pelan.

***

Setelah sarapan, aku tidak ‘bersekolah’. Mama sempat menawarkannya, tetapi aku menolaknya. Kukatakan kepadanya aku ingin bermain bersama Fedora saja, dan Mama tidak keberatan. Jadi, di sinilah aku sekarang, di teras depan rumahku.

Aku baru saja memberi Fedora makan. Ia melahapnya dengan cepat. Ia memang lapar. Aku menghela napas panjang sementara Fedora melompat ke sana-sini dalam sangkarnya.

Aku memandang halaman depan rumah. Ada beberapa pot di sana, dihuni oleh tumbuh-tumbuhan yang tidak aku tahu apa namanya. Semua itu milik Mama. Mama suka berkebun—sebut saja begitu. Sesekali aku pernah menemani Mama merawat tanaman-tanamannya itu, namun aku cepat merasa bosan. Jika sudah begitu, aku akan duduk di teras, bermain dengan Fedora atau sekadar mengawasi Mama yang terlihat bersemangat merawat tanaman-tanamannya.

Aku sebenarnya bingung, apa nikmatnya merawat tanaman-tanaman seperti itu. Bagiku itu sangat membosankan. Sempat aku menanyakannya kepada Mama dan Mama hanya menjawab,

“Tidak semua yang kita sukai harus disukai oleh orang lain juga, kan? Bagi Mama, ini menyenangkan. Kalau bagimu ini membosankan, tidak masalah. Dan, kalau kau bertanya kenapa Mama suka melakukan ini, alasannya mungkin mirip dengan alasan kenapa kau suka bermain sepak bola.”

Ah, Mama sering begitu. Ia sering berbelit-belit dalam menjawab pertanyaan yang aku lemparkan. Terkadang aku jadi pusing sendiri. Bahkan, aku idak jarang merasa kalau Mama sama sekali tidak menjawab apa yang aku tanyakan. Meski begitu, aku bisa menyimpulkan satu hal dari jawaban Mama waktu itu—aku suka mengambil kesimpulan dari sesuatu. Aku menyimpulkan bahwa manusia tidak memiliki hak sedikit pun untuk memaksakan kehendaknya kepada manusia lain. Memaksa sama saja dengan membunuh kebebasan. Dan, membunuh itu dosa. Benar?

Aku menoleh ke arah sangkar Fedora yang kuletakkan di atas meja kecil di sampingku. Fedora berkali-kali membenturkan dirinya ke sangkar. Sepertinya ia ingin keluar. Aku menurutinya. Kukeluarkan Fedora dari sangkar dan membiarkan burung kecil itu bertengger tenang di atas jari tengahku. Kemudian aku mulai memikirkan sesuatu.

Untuk apa ada penyakit?

Tuhan mencintai manusia, kan? Lantas kenapa ada penyakit? Mengapa Tuhan membiarkan manusia terserang oleh penyakit? Bukankah penyakit itu menyakitkan? Bukankah dengan memiliki penyakit akan membuat manusia menderita? Kenapa Tuhan tidak membuat semua manusia sehat-sehat saja? Bukankah dengan begitu pernyataan bahwa Tuhan mencintai manusia itu akan benar-benar terbukti?

Aku memijat keningku, sedikit berlebihan. Kutantang diriku sendiri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Aku sering begini. Aku sering melemparkan pertanyaan, lalu menantang diriku sendiri untuk menjawabnya. Sedikit aneh memang, namun ini menyenangkan. Percayalah. Ada kesenangan tersendiri saat aku berhasil membuat diriku sendiri puas dengan jawaban-jawaban yang aku berikan.

Beberapa saat kemudian, setelah sempat berpikir, aku mengangguk mantap dua kali, menerima tantangan yang aku ajukan sendiri. Dan, inilah jawabanku.

Aku tidak tahu untuk apa manusia diberi penyakit. Apakah itu untuk menyulitkan hidup manusia atau mempermudahnya. Apakah itu untuk melemahkan manusia atau menguatkannya. Aku tidak tahu. Namun, ada satu hal yang aku tahu. Banyak manusia yang baru menyadari arti penting dari hidup setelah mereka sakit. Setuju?

 Lalu aku menyadari satu hal. Meski terkadang sulit dipahami, Tuhan memiliki cara tersendiri untuk mencintai manusia.

***


Sudah malam. Jam dinding klasik yang tergantung di ruang keluarga sudah menunjukkan pukul tujuh lewat beberapa menit. Aku baru saja selesai menyantap makan malamku—bersama dengan yang lain tentunya. Ketika aku hendak meringkuk malas di atas tempat tidurku, Mama memintaku untuk menunggu di ruang keluarga sementara ia melakukan sesuatu di kamarku—entah apa itu. Mungkin Mama ingin mengganti seprai dan selimutku. Mungkin juga ia hendak mencari dan menangkap kecoa di kamarku—aku benci kecoa. Aku tidak tahu pasti.

Aku menguap lebar-lebar. Di saat yang nyaris bersamaan, aku mendapati Kak Desta juga tengah menguap. Aku sempat melihat ia melirikku singkat. Selesai menguap, aku tersenyum simpul. Kebetulan yang konyol, pikirku. Aku memandangi Kak Desta, menunggu reaksinya atas kebetulan itu. Akan tetapi, lama aku menunggu, ia tidak beraksi apa-apa. Aku mendesah kecewa.

Aku tidak tahu sejak kapan, namun Kak Desta telah berubah. Ia tidak lagi sehangat dulu. Sekarang ia terkesan dingin, menjauhiku seolah-olah aku adalah virus yang mematikan. Aku sendiri tidak tahu kenapa Kak Desta bersikap seperti itu. Mungkin ia takut terserang oleh kanker sepertiku. Akan tetapi, kanker, kan bukan penyakit menular.

Aku mendesau, kemudian melangkah menuju rak buku yang ada di salah satu sudut ruang keluarga. Kutilik rak buku itu sejenak. Sedikit berantakan. Mama belum sempat merapikannya. Mencoba untuk mengabaikan itu, dengan berjinjit aku berusaha meraih salah satu buku yang terletak di sekat teratas. Tidak berhasil. Tidak ingin menyerah begitu saja, aku kembali berjinjit dan mengulurkan tangan kananku sepanjang-panjangnya. Setelah beberapa detik berusaha, akhirnya aku menyerah. Buku itu berada di luar jangkauanku. Aku perlu bantuan. Aku lalu menoleh ke arah Kak Desta. Sebaiknyakah aku meminta bantuan Kak Desta? Ia tidak kelihatan sedang sibuk. Aku menimbang-nimbang, kemudian menggeleng. Lebih baik tidak. Lagi pula aku tidak benar-benar sedang ingin membaca. Aku hendak berbalik. Namun, belum sempat apa-apa, sebuah tangan terulur di atas kepalaku, meraih buku yang tadi aku incar. Aku berbalik, mendongak dan mendapati Kak Desta sedang menunduk menatapku.

“Buku ini yang ingin kauambil?” tanyanya kepadaku.

Aku mengangguk dengan canggung.

“Ini,” ucapnya sambil mengangsurkan buku itu kepadaku.

Aku menerimanya dan memberanikan diri untuk tersenyum. Saat aku ingin mengucapkan terima kasih, Kak Desta lebih dulu berkata dengan datar, “Merepotkan saja.”

Dan, detik itu juga senyum yang aku ulas luntur. Aku mematung sementara Kak Desta berbalik, menjauh, lalu hilang dari ruang keluarga. Satu pertanyaan sederhana kemudian menyambangiku. Sewaktu aku pergi nanti, apakah Kak Desta akan menangis?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar