Aku mematut diri di depan cermin besar
yang ada di kamarku. Wajahku terlihat sedikit pucat, juga terlihat kurang
bersemangat. Entahlah. Belakangan ini aku memang merasa kurang bersemangat. Aku
mulai bosan dengan hari-hariku yang nyaris terus kuhabiskan di rumah. Aku
lantas mendesah panjang. Aku sempat menyisir rambutku dengan jemariku seadanya.
Aku jarang menggunakan sisir yang kusimpan di dalam laci lemariku. Aku jarang
mengeluarkannya. Lagi pula menyisir rambut bisa dibilang bukan rutinitasku. Aku
sempat berhenti melakukannya berbulan-bulan ketika rambut meninggalkan kepalaku
setelah aku menjalani kemoterapi tahun lalu. Tidak seperti makan yang merupakan rutinitasku. Ya,
aku bisa saja berhenti melakukannya kalau aku ingin mati lebih cepat. Dan ketika aku mati, aku akan benar-benar
berhenti melakukan semua rutinitasku. Eh, belum tentu. Bisa iya, bisa juga tidak.
Ah, lupakan saja. Aku menggeleng tegas, lalu berjalan menuju balkon kamarku
yang berbentuk setengah lingkaran.
Aku
berdiri di balkon kamarku dan menyapa singkat mentari. Sebenarnya ada dua buah
kursi di dekatku, namun aku lebih memilih untuk berdiri. Selama aku masih bisa
berdiri, aku akan berdiri. Dengan memilih untuk berdiri daripada duduk,
setidaknya aku sedikit membuktikan kepada dunia bahwa aku masih kuat. Aku ingin kuat. Aku tersenyum bangga.
Aku
memandang langit. Mentari yang kusapa tadi belum merangkak terlalu tinggi.
Langit ditemani oleh gumpalan-gumpalan awan yang tipis, berarak pelan dibawa
angin yang terasa sejuk, membuatku kembali mengantuk.
Tiba-tiba saja aku merasa
kesal. Di saat seperti sekarang, di saat anak-anak seusiaku sibuk di sekolah,
aku malah harus puas mendekam di dalam rumahku sendiri. Jujur saja, sampai saat
ini aku masih sedikit tidak terima dengan keputusan Papa dan Mama yang
memintaku—sebenarnya bisa dibilang memaksaku—untuk berhenti bersekolah 6 bulan
yang lalu. Ya, aku memang masih bisa belajar di rumah. Di hari-hari tertentu, Mama akan ‘menjelma’
menjadi seorang guru untukku. Akan tetapi, yang aku butuhkan bukan hanya ilmu. Aku juga ingin
bersosialisasi dan mengobrol dengan teman-teman di sekolah tentang banyak hal. Namun di sisi lain, keputusan Papa dan
Mama ada baiknya. Dengan berhenti
bersekolah, ketika aku pergi nanti, orang-orang yang menangisiku tidak akan
bertambah banyak. Aku tidak suka orang-orang menangisiku ketika aku pergi
nanti. Sewaktu aku lahir, aku disambut dengan senyuman bahagia. Aku ingin
sewaktu aku pergi nanti, aku diantar dengan senyuman juga. Sederhana, bukan?
Aku tengah menggaruk-garuk
lengan kiriku yang terasa gatal saat Fedora—burung nuri peliharaan
keluargaku—berkicau-kicau nyaring. Ia lapar, mungkin. Aku mengelus kecil
perutku. Aku juga lapar. Sebaiknya aku segera turun untuk menyantap sarapanku.
***
Aku sampai di dua anak tangga terakhir. Aku menuruni keduanya dengan sekali
lompatan. Setelah itu aku berbelok ke kanan menuju meja makan. Meja makan yang
kumaksudkan itu berbentuk persegi panjang. Tidak terlalu besar. Keempat kakinya menyangga
selempeng kaca tebal yang transparan. Di atasnya terdapat beberapa toples
berisi selai dengan rasa yang berbeda-beda. Ada pula sebuah wadah yang dihuni
oleh beberapa lembar roti gandum. Selain toples dan wadah itu, terdapat juga
dua buah gelas dengan air putih yang hampir tandas dan dua piring kotor. Bekas
Papa dan Kak Desta yang belum dibereskan, pasti.
Aku mengangkat kedua
bahuku, tidak begitu peduli. Kutarik kursi di dekatku dan duduk di atasnya. Ruang
makan dan dapur hanya dibatasi oleh sebuah counter
panjang. Aku bisa melihat Mama di dapur, tengah mencuci sebuah piring keramik.
Setelah selesai mencuci piring itu, Mama menghampiriku dan memberiku satu
kecupan sayang di kening. Aku menerimanya dan tersenyum.
“Mau makan apa, Vin?”
tanyanya dengan lembut. “Katakan
saja. Mama akan buatkan untukmu,” tambahnya.
“Sekalipun aku meminta pizza seafood dengan ukuran besar?”
tanyaku polos.
Mama terdiam sesaat. Ia
memiringkan kepalanya, tampak berpikir-pikir, lalu mengangguk singkat. “Kalau
itu yang kau mau, Mama bisa memesannya.”
“Tadi Mama bilang akan
membuatkannya, bukan memesannya,” cibirku. Ketika Mama hendak membalas, aku segera menyambar,
“Aku makan roti saja.”
Mama mengangguk segera.
“Kalau begitu, Mama buatkan segelas susu dulu untukmu,” ujarnya, lalu berjalan
kembali ke dapur.
“Apa yang ingin kaulakukan hari ini, Vin?” tanya
Mama, lalu meletakkan segelas susu di hadapanku. Mama duduk di sampingku dan
bertopang dagu sambil menanti jawabanku.
“Sekolah,” sahutku singkat.
Kuraih selembar roti gandum dan kubaluri dengan selai nanas.
Mama kelihatan sedikit tersentak mendengar
jawabanku. Sesaat setelahnya, ia tersenyum kikuk dan mengangguk-angguk.
“Baiklah. Kita akan belajar bersama hari ini,” katanya.
Aku tidak langsung
menanggapi. Kulahap rotiku dulu. “Sekolah sungguhan,” ucapku setelah selesai
mengunyah.
Selama beberapa detik, aku
mendapati Mama menatapku dengan mimik wajah terpukul. Aku tidak suka melihat
Mama seperti itu, namun aku bingung harus mengatakan apa. Maka aku hanya diam
dan terus melahap rotiku dengan nafsu makan yang menguap pelan-pelan.
***
Setelah sarapan, aku tidak ‘bersekolah’. Mama sempat menawarkannya, tetapi
aku menolaknya. Kukatakan kepadanya aku ingin bermain bersama Fedora saja, dan
Mama tidak keberatan. Jadi, di sinilah aku sekarang, di teras depan
rumahku.
Aku baru saja memberi Fedora makan. Ia
melahapnya dengan cepat. Ia memang lapar. Aku menghela napas panjang sementara
Fedora melompat ke sana-sini dalam sangkarnya.
Aku memandang halaman
depan rumah. Ada beberapa pot di sana, dihuni oleh tumbuh-tumbuhan yang tidak
aku tahu apa namanya. Semua itu milik Mama. Mama suka berkebun—sebut saja
begitu. Sesekali aku pernah menemani Mama merawat tanaman-tanamannya itu, namun
aku cepat merasa bosan. Jika sudah begitu, aku akan duduk di teras, bermain
dengan Fedora atau sekadar mengawasi Mama yang terlihat bersemangat merawat
tanaman-tanamannya.
Aku sebenarnya bingung,
apa nikmatnya merawat tanaman-tanaman seperti itu. Bagiku itu sangat membosankan.
Sempat aku menanyakannya kepada Mama dan Mama hanya menjawab,
“Tidak semua yang kita
sukai harus disukai oleh orang lain juga, kan? Bagi Mama, ini menyenangkan.
Kalau bagimu ini membosankan, tidak masalah. Dan, kalau kau bertanya kenapa
Mama suka melakukan ini, alasannya mungkin mirip dengan alasan kenapa kau suka
bermain sepak bola.”
Ah, Mama sering begitu. Ia
sering berbelit-belit dalam menjawab pertanyaan yang aku lemparkan. Terkadang
aku jadi pusing sendiri. Bahkan, aku idak jarang merasa kalau Mama sama sekali
tidak menjawab apa yang aku tanyakan. Meski begitu, aku bisa menyimpulkan satu
hal dari jawaban Mama waktu itu—aku suka mengambil kesimpulan dari sesuatu. Aku
menyimpulkan bahwa manusia tidak memiliki hak sedikit pun untuk memaksakan
kehendaknya kepada manusia lain. Memaksa sama saja dengan membunuh kebebasan.
Dan, membunuh itu dosa. Benar?
Aku menoleh ke arah
sangkar Fedora yang kuletakkan di atas meja kecil di sampingku. Fedora
berkali-kali membenturkan dirinya ke sangkar. Sepertinya ia ingin keluar. Aku
menurutinya. Kukeluarkan Fedora dari sangkar dan membiarkan burung kecil itu
bertengger tenang di atas jari tengahku. Kemudian aku mulai memikirkan sesuatu.
Untuk apa ada penyakit?
Tuhan mencintai manusia,
kan? Lantas kenapa ada penyakit? Mengapa Tuhan membiarkan manusia terserang
oleh penyakit? Bukankah penyakit itu menyakitkan? Bukankah dengan memiliki
penyakit akan membuat manusia menderita? Kenapa Tuhan tidak membuat semua
manusia sehat-sehat saja? Bukankah dengan begitu pernyataan bahwa Tuhan
mencintai manusia itu akan benar-benar terbukti?
Aku memijat keningku, sedikit berlebihan. Kutantang diriku sendiri untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan itu. Aku sering begini. Aku sering melemparkan pertanyaan,
lalu menantang diriku sendiri untuk menjawabnya. Sedikit aneh memang, namun ini
menyenangkan. Percayalah. Ada kesenangan tersendiri saat aku berhasil membuat
diriku sendiri puas dengan jawaban-jawaban yang aku berikan.
Beberapa saat kemudian,
setelah sempat berpikir, aku mengangguk mantap dua kali, menerima tantangan
yang aku ajukan sendiri. Dan, inilah jawabanku.
Aku tidak tahu untuk apa
manusia diberi penyakit. Apakah itu untuk menyulitkan hidup manusia atau
mempermudahnya. Apakah itu untuk melemahkan manusia atau menguatkannya. Aku
tidak tahu. Namun, ada satu hal yang aku tahu. Banyak manusia yang baru
menyadari arti penting dari hidup setelah mereka sakit. Setuju?
Lalu aku menyadari satu
hal. Meski terkadang sulit dipahami, Tuhan memiliki cara tersendiri untuk mencintai
manusia.
***
Sudah malam. Jam dinding klasik yang
tergantung di ruang keluarga sudah menunjukkan pukul tujuh lewat beberapa menit.
Aku baru saja selesai menyantap makan malamku—bersama dengan yang lain
tentunya. Ketika aku hendak meringkuk malas di atas tempat tidurku, Mama
memintaku untuk menunggu di ruang keluarga sementara ia melakukan sesuatu di
kamarku—entah apa itu. Mungkin Mama ingin mengganti seprai dan selimutku.
Mungkin juga ia hendak mencari dan menangkap kecoa di kamarku—aku benci kecoa.
Aku tidak tahu pasti.
Aku menguap lebar-lebar.
Di saat yang nyaris bersamaan, aku mendapati Kak Desta juga tengah menguap. Aku
sempat melihat ia melirikku singkat. Selesai menguap, aku tersenyum simpul.
Kebetulan yang konyol, pikirku. Aku memandangi Kak Desta, menunggu reaksinya
atas kebetulan itu. Akan
tetapi, lama aku menunggu, ia tidak beraksi apa-apa. Aku mendesah kecewa.
Aku tidak tahu sejak
kapan, namun Kak Desta telah berubah. Ia tidak lagi sehangat dulu. Sekarang ia
terkesan dingin, menjauhiku seolah-olah aku adalah virus yang mematikan. Aku
sendiri tidak tahu kenapa Kak Desta bersikap seperti itu. Mungkin ia takut
terserang oleh kanker sepertiku. Akan tetapi, kanker, kan bukan penyakit
menular.
Aku mendesau, kemudian melangkah
menuju rak buku yang ada di salah satu sudut ruang keluarga. Kutilik rak buku
itu sejenak. Sedikit berantakan. Mama belum sempat merapikannya. Mencoba untuk
mengabaikan itu, dengan berjinjit aku berusaha meraih salah satu buku yang
terletak di sekat teratas. Tidak berhasil. Tidak ingin menyerah begitu saja,
aku kembali berjinjit dan mengulurkan tangan kananku sepanjang-panjangnya.
Setelah beberapa detik berusaha, akhirnya aku menyerah. Buku itu berada di luar
jangkauanku. Aku perlu bantuan. Aku lalu menoleh ke arah Kak Desta.
Sebaiknyakah aku meminta bantuan Kak Desta? Ia tidak kelihatan sedang sibuk.
Aku menimbang-nimbang, kemudian menggeleng. Lebih baik tidak. Lagi pula aku
tidak benar-benar sedang ingin membaca. Aku hendak berbalik. Namun, belum sempat
apa-apa, sebuah tangan terulur di atas kepalaku, meraih buku yang tadi aku
incar. Aku berbalik, mendongak dan mendapati Kak Desta sedang menunduk
menatapku.
“Buku ini yang ingin
kauambil?” tanyanya kepadaku.
Aku mengangguk dengan
canggung.
“Ini,” ucapnya sambil
mengangsurkan buku itu kepadaku.
Aku menerimanya dan
memberanikan diri untuk tersenyum. Saat aku ingin mengucapkan terima kasih, Kak
Desta lebih dulu berkata dengan datar, “Merepotkan saja.”
Dan, detik itu juga senyum
yang aku ulas luntur. Aku mematung sementara Kak Desta berbalik, menjauh, lalu
hilang dari ruang keluarga. Satu pertanyaan sederhana kemudian menyambangiku. Sewaktu
aku pergi nanti, apakah Kak Desta akan menangis?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar