Rabu, 30 Januari 2013

Catatan Khusus Dari Mereka Tentang Davin

Elis tentang Davin

Awal bulan September—nyaris—14 tahun yang lalu, aku melahirkan putra keduaku. Ketika dia keluar dari rahimku dan menangis kencang, aku tahu suatu saat nanti dia akan menjadi seseorang yang hebat.

Jadilah manusia yang berguna, itulah bisikkan pertamaku kepadanya. Aku tahu dia mendengarkanku saat itu karena di kemudian hari dia memang menjadi apa yang aku harapkan.

Davin. Dialah putra kebanggaanku. Dialah salah satu dari harta hidupku yang paling berharga. Dialah bagian dari kebahagiaanku yang hanya bisa kumiliki dalam waktu yang amat singkat.

Davin Alvaro. Dialah putraku. Si batu karang yang hidup.

Untuk Davin...

Davin sudah pergi. Lantas siapa yang akan mengingatkan Mama ini-itu? Kau tahu, kan Mama ini pelupa?
Davin, jangan lupa temui Mama di dalam mimpi, ya. Katakan kau baik-baik saja di sana karena hanya dengan itulah, Mama akan bisa tenang di sini...

***

Nathan tentang Davin

Tidak ada orang yang tahu betapa takutnya aku ketika mengetahui ada sel-sel kanker yang bersarang di otaknya. Aku takut dia akan ‘jatuh’ dan semuanya akan berubah kacau. Akan tetapi, semuanya tidak begitu seperti apa yang aku bayangkan. Dia memang ‘jatuh’, namun tidak lama. Dan saat dia bangkit, aku baru sadar kalau aku melupakan satu hal: aku punya putra yang hebat.

Aku tidak pernah tahu kalau diam-diam Davin menulis buku ini. Aku terkejut saat membacanya. Setelah aku membacanya, setidaknya aku tahu kalau Davin tidak pernah benar-benar pergi. Dia masih hidup di buku ini, di hati kami dan di setiap berkas-berkas semangat yang dia tinggalkan.

Untuk Davin...

Dua bulan lagi kami akan merayakan ulang tahunmu yang ke-14. Tenang saja. Hanya akan ada pesta kecil-kecilan karena kami tahu kau tidak suka keramaian. Hanya akan ada kami, Randy dan mungkin juga Dokter Riko dan Suster Acha. Pesta yang kecil, bukan?

Tidurlah dengan tenang, putraku...

***

Desta tentang Davin

Dia adalah adikku yang terbaik. Bukan karena dia adalah adikku satu-satunya, namun karena dia memang yang terbaik.

Jika diibaratkan dengan  sesuatu, dia itu seperti...
1. Halaman buku yang kosong—polos.
2. Bola basket yang memantul ke sana ke mari—ceria dan aktif.
3. Batu—keras dan tegar.
4. Buku ini—memotivasi dan menginspirasi.

Untuk adikku...

Vin, kau selalu memperhatikan kami dari atas sana, kan? Dari bintang yang kautunjukkan kepada Kakak dulu. Setiap malam Kakak selalu mencari bintang itu dan melihatnya. Dan setiap kali Kakak melihatnya Kakak tahu—seperti katamu dulu—kau menyayangi Kakak.

Ah iya, Kakak ingin mengakui satu hal. Kakak memang tengah jatuh cinta. Kakak harap kau mau menjaga rahasia ini, ya.

***

Randy tentang Davin

Dia itu menyebalkan dan susah diajari. Entah sudah berapa kali aku mengajarkannya untuk berbasa-basi, namun dia benar-benar masa bodoh dengan itu. Menyebalkan sekali, kan? Namun dari sanalah aku tahu kalau dia adalah seseorang dengan pendirian yang teguh. Mencoba menggoyahkan pendiriannya sama sulitnya dengan mengerjakan pekerjaan rumah Matematika.

Sebenarnya sebelum ini aku sudah yakin, namun ketika aku selesai membaca buku ini, aku bertambah yakin kalau keberuntungan terbesarku dalam hidup adalah bisa mengenal dia sebagai sahabatku.

Sahabatku...

Bak seorang ilmuwan besar, semua tentang dirimu akan selalu dikenang.

P. S: bagaimana? Kau terharu membaca ini?

***

Acha tentang Davin

Sejak pertama kali mengenalnya, entah kenapa aku yakin dia bukanlah anak yang biasa. Dia lebih dari itu. Buku ini telah membuktikannya. Membaca buku ini, aku seperti menyelami pikiran Davin yang sederhana, namun sesak akan inspirasi.

Dia telah pergi, dan dia tidak sendiri. Dia pergi bersama harapannya. Davin telah menunjukkan satu hal kecil kepada siapa pun yang membaca buku ini bahwa tidak ada alasan untuk berhenti berharap, sekalipun itu kematian.

Hei, Davin...

Saranmu tentang bubur dan kecap asin itu telah suster sampaikan. Sudah suster bilang, kan suster akan menyampaikannya. :)

***

Riko tentang Davin

Seperti yang pernah kukatakan kepada Davin, aku memberikan buku ini kepada Davin karena dia punya cara berpikir yang luar biasa. Dia bisa memikirkan sesuatu yang kemungkinan besar tidak akan pernah terpikirkan oleh anak-anak seusianya. Mungkin penyakit yang dia derita telah mengajarkannya untuk menjadi dewasa lebih cepat dari semestinya. Dan setelah membaca apa yang ia tulis, aku tahu aku sama sekali tidak salah.

Davin menulis buku ini karena dia ingin berbagi dan aku harap dia benar-benar telah melakukannya.

Pasienku yang hebat...

Terima kasih karena telah bersedia memenuhi buku ini dengan tulisanmu.