Rabu, 30 Januari 2013

Catatan Khusus Dari Mereka Tentang Davin

Elis tentang Davin

Awal bulan September—nyaris—14 tahun yang lalu, aku melahirkan putra keduaku. Ketika dia keluar dari rahimku dan menangis kencang, aku tahu suatu saat nanti dia akan menjadi seseorang yang hebat.

Jadilah manusia yang berguna, itulah bisikkan pertamaku kepadanya. Aku tahu dia mendengarkanku saat itu karena di kemudian hari dia memang menjadi apa yang aku harapkan.

Davin. Dialah putra kebanggaanku. Dialah salah satu dari harta hidupku yang paling berharga. Dialah bagian dari kebahagiaanku yang hanya bisa kumiliki dalam waktu yang amat singkat.

Davin Alvaro. Dialah putraku. Si batu karang yang hidup.

Untuk Davin...

Davin sudah pergi. Lantas siapa yang akan mengingatkan Mama ini-itu? Kau tahu, kan Mama ini pelupa?
Davin, jangan lupa temui Mama di dalam mimpi, ya. Katakan kau baik-baik saja di sana karena hanya dengan itulah, Mama akan bisa tenang di sini...

***

Nathan tentang Davin

Tidak ada orang yang tahu betapa takutnya aku ketika mengetahui ada sel-sel kanker yang bersarang di otaknya. Aku takut dia akan ‘jatuh’ dan semuanya akan berubah kacau. Akan tetapi, semuanya tidak begitu seperti apa yang aku bayangkan. Dia memang ‘jatuh’, namun tidak lama. Dan saat dia bangkit, aku baru sadar kalau aku melupakan satu hal: aku punya putra yang hebat.

Aku tidak pernah tahu kalau diam-diam Davin menulis buku ini. Aku terkejut saat membacanya. Setelah aku membacanya, setidaknya aku tahu kalau Davin tidak pernah benar-benar pergi. Dia masih hidup di buku ini, di hati kami dan di setiap berkas-berkas semangat yang dia tinggalkan.

Untuk Davin...

Dua bulan lagi kami akan merayakan ulang tahunmu yang ke-14. Tenang saja. Hanya akan ada pesta kecil-kecilan karena kami tahu kau tidak suka keramaian. Hanya akan ada kami, Randy dan mungkin juga Dokter Riko dan Suster Acha. Pesta yang kecil, bukan?

Tidurlah dengan tenang, putraku...

***

Desta tentang Davin

Dia adalah adikku yang terbaik. Bukan karena dia adalah adikku satu-satunya, namun karena dia memang yang terbaik.

Jika diibaratkan dengan  sesuatu, dia itu seperti...
1. Halaman buku yang kosong—polos.
2. Bola basket yang memantul ke sana ke mari—ceria dan aktif.
3. Batu—keras dan tegar.
4. Buku ini—memotivasi dan menginspirasi.

Untuk adikku...

Vin, kau selalu memperhatikan kami dari atas sana, kan? Dari bintang yang kautunjukkan kepada Kakak dulu. Setiap malam Kakak selalu mencari bintang itu dan melihatnya. Dan setiap kali Kakak melihatnya Kakak tahu—seperti katamu dulu—kau menyayangi Kakak.

Ah iya, Kakak ingin mengakui satu hal. Kakak memang tengah jatuh cinta. Kakak harap kau mau menjaga rahasia ini, ya.

***

Randy tentang Davin

Dia itu menyebalkan dan susah diajari. Entah sudah berapa kali aku mengajarkannya untuk berbasa-basi, namun dia benar-benar masa bodoh dengan itu. Menyebalkan sekali, kan? Namun dari sanalah aku tahu kalau dia adalah seseorang dengan pendirian yang teguh. Mencoba menggoyahkan pendiriannya sama sulitnya dengan mengerjakan pekerjaan rumah Matematika.

Sebenarnya sebelum ini aku sudah yakin, namun ketika aku selesai membaca buku ini, aku bertambah yakin kalau keberuntungan terbesarku dalam hidup adalah bisa mengenal dia sebagai sahabatku.

Sahabatku...

Bak seorang ilmuwan besar, semua tentang dirimu akan selalu dikenang.

P. S: bagaimana? Kau terharu membaca ini?

***

Acha tentang Davin

Sejak pertama kali mengenalnya, entah kenapa aku yakin dia bukanlah anak yang biasa. Dia lebih dari itu. Buku ini telah membuktikannya. Membaca buku ini, aku seperti menyelami pikiran Davin yang sederhana, namun sesak akan inspirasi.

Dia telah pergi, dan dia tidak sendiri. Dia pergi bersama harapannya. Davin telah menunjukkan satu hal kecil kepada siapa pun yang membaca buku ini bahwa tidak ada alasan untuk berhenti berharap, sekalipun itu kematian.

Hei, Davin...

Saranmu tentang bubur dan kecap asin itu telah suster sampaikan. Sudah suster bilang, kan suster akan menyampaikannya. :)

***

Riko tentang Davin

Seperti yang pernah kukatakan kepada Davin, aku memberikan buku ini kepada Davin karena dia punya cara berpikir yang luar biasa. Dia bisa memikirkan sesuatu yang kemungkinan besar tidak akan pernah terpikirkan oleh anak-anak seusianya. Mungkin penyakit yang dia derita telah mengajarkannya untuk menjadi dewasa lebih cepat dari semestinya. Dan setelah membaca apa yang ia tulis, aku tahu aku sama sekali tidak salah.

Davin menulis buku ini karena dia ingin berbagi dan aku harap dia benar-benar telah melakukannya.

Pasienku yang hebat...

Terima kasih karena telah bersedia memenuhi buku ini dengan tulisanmu.

Catatan #22: Aku Pergi



Sore di hari keempatku di rumah sakit...

Kumatikan televisi di depanku. Kutatap televisi itu dengan sebal, lalu menggerutu tanpa suara. Niat awalku adalah menonton televisi, tapi yang aku lakukan dari tadi hanyalah menggonta-ganti siaran. Tidak ada siaran yang menarik, simpulku. Kuletakkan remote yang kupegang ke atas ranjang sembarangan, lalu mendesah keras-keras.

“Kenapa, Vin?” tanya Papa. Ia mengalihkan perhatiannya dari laptop yang berada di atas pangkuannya. Saat ini Papa sedang menemaniku sendirian. Tadi Mama bersama dengan Papa, tapi beberapa saat yang lalu Mama keluar ruangan untuk mengambil air panas untuk kopi Papa.

“Aku bosan,” keluhku.

Papa melipat laptop-nya, lalu diletakkannya laptop itu di atas meja, bersebelahan dengan gelas berisi air putih yang hampir tandas. “Mau main monopoli?”

Aku menggeleng tidak bersemangat. “Aku malas memainkannya.”

Papa mengangguk maklum. Aku merebahkan diri di atas ranjang kemudian meringkuk dalam-dalam.

“Aku mau tidur saja,” kataku.

“Tidur panjang,” celetukku kemudian.

Aku melihat Papa tersentak, begitu tiba-tiba. Papa seperti dihantam oleh sesuatu yang tidak kasatmata dan tepat mengenai belakang kepalanya. Raut wajahnya sontak berubah. Urat-urat wajahnya menegang. Semua itu pasti karena kata-kataku barusan. Aku sendiri tidak tahu. Kata-kata itu terlontar keluar begitu saja, nyaris di luar kesadaranku.

Setelah membeku cukup lama, Papa akhirnya mengangguk dengan gamang dan tersenyum pahit. “Ya, tidurlah,” ujarnya. Papa menatapku dalam-dalam, jakunnya naik-turun perlahan-lahan. “Tapi katakan kepada Tuhan, kau tidak boleh tidur lama-lama,” desahnya rangup.

“Ya,” sahutku. “Akan kukatakan kepada-Nya. Jika bertemu dengan-Nya, Davin juga akan minta disembuhkan.”

“Ya.” Papa mengangguk kembali. “Minta Dia menyembuhkanmu.” Papa menangis. “Katakan kepada-Nya, jangan ambil putra bungsu Papa cepat-cepat.”

Aku menutup mata, dan tidak lama setelahnya aku pun melayang ke alam di mana hanya ada aku dan imajinasiku. Alam mimpi.

***

Ketika aku membuka mata, aku merasakan ada keanehan yang bergelung-gelung di sekitarku. Aku merasa berada di kamar itu, namun aku juga merasa aku masih terjebak di alam mimpi. Aku tidak benar-benar sadar, namun aku juga tidak benar-benar tidak sadar. Tubuhku memberat dan sesaat kemudian meringan. Berat, kemudian ringan lagi. Sangat tidak menyenangkan.

Aku tidak mengerti. Aku kebingungan. Aku menggeliat dengan gelisah.

Aneh. Aneh. Aneh...

“Vin, kau kenapa?”

Aku tahu Mama bersuara. Aku mendengarnya. Aku ingin menjawabnya, tapi tidak bisa. Suaraku seperti telah hilang.

“Vin... Davin...”

Aku menoleh.

“Ada apa?” tanya Mama lembut dan hangat.

Aku tidak menyahut. Aku hanya menggeleng, namun aku merasa baikkan. Kehangatan suara Mama membuatku tenang. Aku berhenti menggeliat.

“Bicaralah, Vin,” minta Mama dengan halus.

Susah payah aku mencoba bersuara. “Di luar sana ada banyak bintang, kan, Ma?” Aku berbicara seperti meyakinkan diriku sendiri. “Bantu Davin, ya...”

“Bantu apa, Sayang?”

“Jika ada bintang yang jatuh, tolong titipkan satu keinginan kecil Davin kepada bintang itu.”

“Apa?”

Meski mendadak merasa lemas, aku tetap berkata, “Davin hanya ingin hidup satu hari lebih lama daripada yang Tuhan gariskan untuk Davin.”

Air mata Mama mengalir. Mama menangis. Lagi. Namun, tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Mama menangis tanpa suara.

“Jangan menangis,” kataku. Kuseka air mata Mama. Tanganku lantas bergerak untuk membentuk segaris senyum di wajahnya. “Tersenyumlah. Davin suka senyum Mama.”

Mama memelukku yang tengah terbaring di atas ranjang. Tubuhnya menggigil hebat. “Mama pasti akan menitipkannya. Mama janji.”

Suara Mama menipis, hampir tidak terdengar olehku.

Aku semakin lelah. “Aku ingin tidur.”

Mama menguraikan pelukannya. Ia mengangguk, lalu mengatakan sesuatu. Bibirnya bergerak-gerak, namun aku tidak mendengar suara apa pun.

Aku menutup mata. Setelah itu aku merasa begitu ringan, seperti melayang di udara.

Tuhan, bersediakah Kau menyembuhkanku?

***

Davin meninggal beberapa menit kemudian. Setelah berjuang melawan kanker otaknya selama hampir dua tahun, Davin akhirnya menyerah dan pergi di malam mendung yang tidak berbintang. Beberapa saat sebelumnya, ia sempat menuliskan sebuah surat yang kemudian ia selipkan di antara halaman buku kecilnya.

***

Isi surat yang ditulis Davin


Nanti, ketika aku sudah pergi, ketahuilah aku tidak benar-benar menghilang dari kehidupan kalian. Aku masih ada, sangat dekat dengan kalian. Di sana. Di hati kalian.

Selasa, 29 Januari 2013

Catatan #21: Air Mata Lagi



Malam di hari ketigaku di rumah sakit...

Papa sudah memasuki kamar rawatku bermenit-menit yang lalu, namun ia belum menyuarakan sepatah kata pun. Papa membisu dan terus berdiri menghadap Mama yang sedang duduk di samping ranjangku. Mama juga membisu. Aku tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka, namun Papa kelihatan sedang berpikir keras, sedangkan Mama hanya menatap sudut ranjangku dengan tatapan yang tidak berisi. Karena larut dalam kebingungan, aku ikut-ikutan membisu.

Papa mendesah cukup keras. "Elis, ayolah," Papa akhirnya bersuara.

Aku tidak mengerti.

Mama menoleh menatap Papa dengan tajam. "Nathan, kita sudah membicarakan hal ini siang tadi, dan aku rasa kau seharusnya sudah mengerti," balas Mama.

Aku masih tidak mengerti.

Papa mendesah lagi. Ia memegangi kepalanya sebentar, kemudian, "Elis, kalau kau seperti ini terus, kau akan sakit. Pulang dan beristirahatlah.”

Aku mulai mengerti.

"Aku baik-baik saja," tukas Mama. "Tidak perlu mengkhawatirkanku.”

"Elis..."

"Nathan, aku ingin menjaga anakku. Aku mohon.”

"Kau sudah menjaganya selama dua hari berturut-turut," beritahu Papa seakan-akan Mama tidak menyadari itu. "Pulanglah. Untuk malam ini saja. Biar Desta yang menjaga Davin malam ini. Setelah itu, kau boleh menjaganya lagi besok. Ya?" Papa menatap Mama dalam-dalam. Dan, aku tahu semua rasa sayang hidup di balik tatapan itu. 

Mama hanya diam, tidak membalas. Kurasa Mama mulai melunak.

Papa lalu meraih tangan kiri Mama dan menggenggam jemari pendek Mama di antara jemari Papa yang panjang dan kokoh. "Semuanya akan baik-baik saja," Papa meyakinkan.

 Tiba-tiba saja Mama menarik tangannya, lalu melompat berdiri. "Demi apa pun, aku juga ingin semuanya baik-baik saja. Aku ingin meyakini kalau semuanya akan baik-baik saja," seru Mama. Suaranya bergetar. Matanya mulai memerah. "Akan tetapi, adakah jaminan? Adakah jaminan kalau semuanya akan baik-baik saja?!" Mama menuntut.

Tanpa melewatkan satu detik pun, Papa langsung menarik Mama ke dalam pelukannya. Tangis Mama pecah di dada Papa. Papa membelai-belai kepala Mama dengan mesra, berusaha menenangkan.

"Kau... kau tidak tahu betapa takutnya aku, Nath. Saking takutnya, aku merasa dia bisa pergi kapan saja. Demi Tuhan, waktunya tidak lama lagi! Aku tidak mau melewatkan satu detik pun," rancau Mama di sela-sela tangisnya. Ada seribu getaran yang tidak mampu ia redam di suaranya.

Papa mengeratkan pelukannya. "Aku juga sama takutnya denganmu," bisiknya tertahan.

"Ma, turuti kata Papa. Pulang dan beristirahatlah," aku akhirnya angkat bicara.

Mama menarik diri, lalu beralih menatapku dengan ragu-ragu.

Ketika Mama hendak membuka mulutnya, aku segera berkata dengan pelan, "Pulanglah. Demi Davin." Aku tersenyum tipis, lalu, "Davin tidak akan ke mana-mana," aku menambahkan.

Dan, entah untuk keberapa kalinya, air mata Mama menetes turun. Gumpalan air hangat itu jatuh bebas mengusik udara, lantas langsung terberai ketika menyentuh lantai. Rintihan yang terkungkung di dalamnya kemudian menembus lantai dan teredam dalam pelukan bumi.

Bumi mendengarnya. Rintihan rasa takut kehilangan.

Mama kembali duduk. Diletakkannya tangannya di atas tanganku, kemudian diremasnya. "Jangan pergi ke mana-mana," desisnya rangup. Mama mendekatkan mulutnya ke telingaku, dan, "Jangan pergi ke mana-mana," desisnya lagi. "Ingat. Davin sudah berjanji."

Rasa sesak membuat tenggorokan dan mataku terasa panas. Sekuat yang aku bisa, aku mencoba menahan agar air mataku tidak sampai jatuh. Aku tidak ingin menangis. Tidak di depan Mama. Aku harus tegar agar Mama juga tegar.

"Ya," sahutku dengan serak.

Mama mengangguk-angguk, lalu tersenyum pahit. Mama sempat mengecup lembut keningku sebelum bangkit dari duduknya. Papa mengulurkan tangan kepada Mama, namun tidak langsung disambut. Mama diam di titik bumi itu dan menatapku lekat-lekat selama beberapa detik. Barulah setelah itu Mama menyambut tangan Papa, berbalik dan melangkah menjauh.

"Dia tidak akan ke mana-mana," Mama berbisik kepada Papa. Papa mengangguk seraya meremas-remas tangan Mama.

Di atas ranjang, aku mengedipkan mataku satu kali. Tepat di kala itulah, air mata yang sedari tadi kutahan mengalir turun.

Davin tidak ingin pergi....

***

 “Kak, aku ingin ke taman,” kataku kepada Kak Desta.

Kak Desta mengangkat wajah dari ponselnya. Ia menjejalkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu, “Ini sudah malam, Vin,” tolaknya halus. “Tinggal di kamar saja, ya.”

Aku berdecak. “Aku bosan. Aku ingin ke taman.”

“Vin...”

“Ayolah, Kak. Aku sungguh bosan berada di kamar terus. Tidak ada yang asyik di sini,” bujukku dengan nada sememohon mungkin.

Kak Desta membuka mulutnya, namun belum sempat ia bersuara, pintu kamar rawatku telah berderit terbuka. Sepersekian detik kemudian aku melihat Suster Acha melangkah masuk sambil mempertahankan seulas senyum tipis.

“Malam, Vin, Desta,” sapanya lembut. Suster Acha kemudian memeriksa mangkuk bubur yang ia bawa ke mari beberapa saat yang lalu. Ia pasti mau memastikan kalau aku sudah menghabiskan bubur itu. Setelah memeriksa, Suster Acha mengangguk samar-samar.

Suster Acha beralih menatapku dan berkata, “Selera makanmu masih bagus. Syukurlah.”

“Rumah sakit ini mulai kehabisan stok kecap asin, ya, Sus? Kenapa buburnya semakin hambar? Kalau iya, sebaiknya segera ditangani. Karena kalau tidak, aku rasa selera makanku yang bagus itu tidak akan bertahan lama.”

Mendengar itu, Kak Desta buru-buru memukul lenganku dan bergumam gemas, “Kau ini...,” sementara suster Acha hanya terkekeh.

“Akan kusampaikan saranmu itu,” kata Suster Acha kemudian. “Obatmu sudah kauminum?”

Aku mengangguk.

“Baguslah,” komentarnya. “Baiklah, Suster keluar dulu, ya. Kalau ada apa-apa, segera hubungi Suster.”

“Aku ingin ke taman, Sus. Boleh, kan?” tanyaku sebelum Suster Acha sempat membalikkan badan. Melihat Suster Acha yang tampak ragu-ragu, aku segera melemparkan tatapan memohon andalanku.

Suster Acha berpikir-pikir, lalu mengangguk. “Ya, boleh, tapi jangan lama-lama. Udara di luar sedang dingin. Kurang baik untuk kesehatanmu.”

Seketika aku tersenyum ceria. Tidak apalah hanya sebentar. Lebih baik sebentar daripada tidak sama sekali.

“Memangnya tidak apa-apa, Sus?” tanya Kak Desta cemas.

“Melihat keadaan Davin sekarang, rasanya tidak apa-apa,” sahut Suster Acha.

Ketika Kak Desta menoleh menatapku, aku bersicepat berkata, “Kakak tidak punya alasan untuk menolak lagi.” Final. Aku tersenyum penuh kemenangan.

Dan, di sinilah aku dan Kak Desta berada, di taman rumah sakit yang tidak begitu luas. Tidak ada orang lain selain kami. Beberapa lampu taman yang berdiri di sudut-sudut tertentu menyala terang, beberapa yang lain masih padam atau berkelap-kelip tidak menentu.

Suster Acha tidak berbohong. Memang dingin di luar sini. Berkali-kali aku menggigil kecil sampai-sampai Kak Desta melepaskan jaketnya untuk menyelimutiku.

“Kita kembali ke kamar saja, ya, Vin?” ajak Kak Desta. “Di sini dingin. Kau sampai menggigil begitu.”

Aku tahu Kak Desta mengkhawatirkanku, tapi aku berucap, “Sebentar lagi, ya, Kak.”

Kak Desta mengembuskan napas pasrah. Aku tersenyum kecil untuknya. Aku lalu menengadah menatap langit. Ada banyak bintang yang temabur di atas sana. Berkelap-kelip lemah menghias angkasa.

“Sewaktu kita masih kecil, Papa pernah menceritakan kepada kita apa itu bintang,” tuturku. “Kakak masih ingat apa yang Papa katakan waktu itu?”

Kak Desta mengangguk. “Kata Papa, bintang itu adalah tempat tinggal bagi mereka yang...” Suara Kak Desta tercekat di ujung. Ia terdiam tiba-tiba. Kalimatnya tergantung. Aku terus menatapnya dan menunggu, tapi Kak Desta tidak urung bersuara lagi.

Aku kembali menatap langit. Saat mataku tertumbuk pada sebutir bintang yang paling terang di atas sana, saat itulah aku mulai bercerita.

“Kata Papa, bintang itu adalah tempat tinggal bagi mereka yang sudah pergi.” Aku berhenti untuk mengambil napas, kemudian, “Waktu itu aku belum mengerti apa arti kata ‘pergi’ di kalimat itu, tapi sekarang aku mengerti,” aku melanjutkan.

Aku mengangkat tanganku dan menunjuk satu titik di atas sana. “Kak, coba lihat ke sana.”

Kak Desta menurut. Ia ikut menengadah dan melihat titik yang aku tunjuk, titik di mana bintang yang paling terang tengah berpendar.

“Kenalilah bintang itu,” pesanku, “karena jika yang dikatakan Papa itu benar, maka ketika aku pergi nanti, aku akan tinggal di sana.” Aku mendapati suaraku melirih ketika mengucapkannya. Aku merasakan ada sesuatu yang memberat, entah apa itu.

“Dan, ketika saat itu tiba, aku mohon jangan bersedih apalagi menangis. Percayalah, Davin pasti akan bahagia tinggal di dalam bintang. Rasanya pasti menyenangkan bisa melihat bumi dari atas sana,” tuturku pelan-pelan. Dan, sesuatu itu bertambah berat. Aku ingin tersenyum, namun tidak bisa. Sesuatu menahanku.

“Kakak akan mengenalinya,” eja Kak Desta getir. Ia mengangguk. “Kakak akan selalu mengenalinya.”

“Aku pinjam paha Kakak, ya. Aku ingin tidur sebentar di sini.” Tanpa menunggu persetujuan dari Kak Desta, aku meletakkan kepalaku di atas paha Kak Desta dan memejamkan mata. “Dan, nanti, setiap kali Kakak melihat bintang itu, Kakak harus tahu kalau Davin menyayangi Kakak.”

Di detik berikutnya aku merasakan ada sesuatu yang basah menetes ke atas pipiku. Tetes pertama, kedua, ketiga dan tetes selanjutnya pun membawaku ke alam mimpi.

Saat aku nyaris terlelap, aku mendengar Kak Desta membisikkan sesuatu.

“Karena aku juga menyayanginya, Tuhan, bisakah Kau membiarkan dia untuk tetap tinggal di sini bersamaku? Bersama kami?”

Dan, tetes-tetes basah itu semakin cepat menghujami pipiku...

Senin, 28 Januari 2013

Catatan #20: Mencoba Untuk Kuat

Hari kedua di rumah sakit...

Hari ini nyaris semua paman dan bibiku datang menjengukku bergantian. Mereka membawakan bermacam-macam buah untukku. Banyak sekali sampai-sampai meja di samping ranjang tidak sanggup menampungnya. Sebenarnya aku ingin meminta mereka membawa buah-buahan itu pulang saja karena aku tidak berminat untuk memakannya. Akan tetapi, karena aku tahu itu tidak sopan, maka aku diam saja.

Sepanjang mereka berada di kamarku, mereka bertanya ini-itu kepadaku. Aku hanya menjawab singkat-singkat. Selain bertanya ini-itu, mereka juga menceritakan macam-macam hal, tapi aku hanya diam dan mendengar tanpa benar-benar peduli. Mereka juga berbincang-bincang dengan Mama dan Mama hanya menanggapi seperlunya. Mama terlihat tidak bersemangat. Pasti kelelahan. Kemarin Mama menjagaku semalaman.

Sekarang ini, suasana kamar rawatku sudah sepi. Hanya ada aku yang tengah duduk di atas ranjang. Mama sedang menerima telepon Papa di luar. Aku mengembuskan napas lega. Sepertinya tidak akan ada lagi paman dan bibi yang menjengukku hari ini. Syukurlah. Jadi, aku tidak perlu berpura-pura bersikap manis di depan mereka. Rasanya melelahkan sekali ketika berpura-pura.

Aku mengembuskan napas lega sekali lagi. Setelah itu, aku menoleh menatap ke luar jendela kaca. Sudah sore. Semburat-semburat lembayung tampak di langit.

Aku menoleh ke arah pintu saat mendengar suara deritan pintu. Di sana aku melihat Randy menyusup masuk dan menarik langkah ke arahku dengan tergesa-gesa.

”Maaf, aku baru menjengukmu sekarang. Kemarin kami sekeluarga sedang ada di luar kota,” katanya dengan lantang sedetik setelah ia duduk di samping ranjang.

”Pelankan suaramu kalau kau tidak ingin ditendang keluar dari sini,” ucapku datar.

Segera Randy membekap mulutnya. Kelopak matanya melebar menatapku. Kemudian ia mengangguk-angguk, sepertinya sadar kalau ia tidak perlu bersuara selantang tadi.

”Maaf,” bisiknya dengan sangat pelan. Suaranya hampir menghilang ditelan udara.

Aku menatapnya malas-malasan dan berdecak. ”Tidak harus sepelan itu, Randy Galvarez,” gumamku dongkol.

Randy tertawa lepas, namun langsung berhenti saat aku melotot ke arahnya.

Anak menyebalkan itu memperhatikanku lekat-lekat selama beberapa detik, lalu, ”Bagaimana keadaanmu?” tanyanya hati-hati.

Pertanyaan yang sebetulnya biasa, namun di telingaku, pertanyaan itu terdengar tidak biasa. Pertanyaan itu menakut-nakutiku dan membuat jantungku berdetak cepat.

Kenapa harus pertanyaan itu?

Sepertinya Randy cukup peka karena ia buru-buru mengimbuhkan, ”Ah, tentu kau baik-baik saja. Omong-omong, aku baru membeli beberapa cd Playstation baru. Kelihatannya seru. Setelah kau keluar dari sini, bagaimana kalau kita me...”

”Dua minggu,” gumamku mengambang.

Randy berhenti berbicara. Ia mengernyitkan dahinya, menatapku lurus dan bertanya, ”A-apa?”

Aku menghela napas dan mengalihkan tatapan ke langit-langit kamar. ”Dua minggu.” Hening sejenak sebelum aku menambahkan, ”Kata dokter, umurku tinggal dua minggu lagi.”

Dan, saat aku kembali menatap Randy, aku melihat ia terperangah di tempat. Matanya terbelalak lebar. Ombak terkejut baru saja menerjangnya. Selama berdetik-detik Randy hanya membeku di tempatnya, tidak melakukan apa-apa selain bernapas, duduk dan menatapku tidak percaya.

”D-dua minggu?”

Aku mengangguk.

Dan, ombak terkejut kembali menerjang Randy. Bahunya terkulai turun dan ia jadi lemas. Kepalanya tertunduk dalam gerakan lambat. Tangan kanannya bergerak di sekitar wajahnya—dan sepertinya aku tahu apa yang ia lakukan.

Randy kemudian mengangkat wajahnya. Jejak basah tinggal di sekitar matanya. Tatapannya berubah sendu.

”Lalu, kau percaya?” tanyanya.

Aku mendesah. ”Aku ingin—ingin sekali—tidak memercayainya, tapi...”

”Kalau begitu jangan memercayainya,” sela Randy cepat-cepat.

Aku menggeleng kecil, lalu tersenyum getir. ”Bagaimanapun juga, ini hidupku. Aku bisa merasakannya,” aku menarik napas dalam-dalam, ”Aku bisa merasakan kalau waktuku memang tidak lama lagi.”

”Itu pasti hanya perasaanmu,” seru Randy. ”Aku tidak merasakan apa-apa. Sungguh,” Randy meyakinkan. Raut wajahnya terlihat serius.

Aku tersenyum hambar. ”Ini hidupku, Ran, bukan hidupmu.”

”Yang benar saja,” balasnya sengit. ”Aku ini sahabatmu. Aku bisa merasakan kalau waktumu masih sangat panjang.”

”Sudahlah, Ran...”

Randy kelihatan ingin membantah, namun akhirnya ia urungkan. ”Sepertinya memang sebaiknya aku tidak memberitahukan apa birthday wish-ku,” ucapnya menyesal.

Aku menggeleng. ”Bukan salahmu,” kataku. ”Ini bukan tentang harapanmu, tapi ini tentang takdirku.”

”Kau percaya takdir?”

”Bukankah mati memang takdir dari setiap yang hidup?”

Randy mengangguk samar-samar. ”Pokoknya apa pun yang terjadi, apa pun yang kaurasakan, kau tidak boleh putus asa. Kau sudah berjanji kepadaku. Ingat? Aku tahu kau kuat.”

Aku menggeleng lagi. ”Aku hanya sedang mencoba untuk kuat.”

Minggu, 27 Januari 2013

Catatan #19: Untuk-Mu

Aku tahu Engkau mencintaiku
Namun kenapa Engkau mencobaiku seberat ini?

Aku tahu Engkau mengasihiku
Namun kenapa Engkau memberiku napas yang disertai sakit?

Aku tahu Engkau menyayangiku
Namun kenapa Engkau menyediakan waktu yang amat singkat untukku?

Tuhan...
Ini aku, anak-Mu
Bolehkah aku meminta?
Satu hal saja
Izinkanlah aku hidup satu hari lebih lama dari yang Engkau gariskan
Agar aku bisa mengucapkan selamat tinggal kepada mereka

Catatan #18: Kematian Semakin Dekat

Tuhan, maukah Kau memberitahu berapa lama lagi waktuku?
Bolehkah aku mulai menghitung sisa waktuku dari sekarang?

***
 
Hal pertama yang aku lihat sewaktu membuka mata adalah putih. Putih yang bersih. Langit-langit kamarku memang berwarna putih, namun tidak sebersih yang aku lihat sekarang. Dan, aku segera sadar kalau aku 

”Syukurlah kau sudah sadar.” Ada kelegaan yang luar biasa besar di dalam suara itu. Aku merasakannya.

Seperti sebuah film yang digeraklambatkan, aku menoleh ke samping kiri perlahan-lahan. Kudapati Mama di sana, sedang menatapku dengan tatapan campuran cemas dan lega. Matanya sembap dan merah.

”Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Mama.

Aku menipiskan bibir dan tidak menyahut. Aku hanya diam sementara detik-detik yang berlalu pergi kian menggunung. Sampai di suatu detik, akhirnya aku bersuara.

”Bagaimana keadaanku?” aku bertanya. Diam sebentar. ”Menurut dokter, bagaimana keadaanku?”

Kulihat Mama tersentak, seperti dihantam oleh sesuatu yang tidak terlihat. Tubuhnya mundur pelan-pelan ke sandaran kursi. Matanya berubah layu dan ia bisu selama beberapa waktu.

”Bagaimana keadaanku sekarang?” aku mengulangi.

”Baik-baik saja,” sahut Mama. ”Ya, Davin baik-baik saja,” sahutnya lagi. Mama kedengaran sedang meyakinkan dirinya sendiri. Gemetar halus yang menyusupi suaranya menyakinkanku kalau aku tidak baik-baik saja.

”Ma...” panggilku lirih, ”Davin tidak ingin ada lagi kebohongan. Ini hidup Davin. Davin pantas untuk tahu.”

”Davin baik-baik saja,” Mama mengulangi dengan suara yang bergetar hebat. ”Demi Tuhan! Kau harus baik-baik saja,” pekik Mama menyerah. Air matanya berlinang turun dari matanya. Kedua bahunya berguncang. Tangan kanannya terangkat menutupi mulutnya.

Aku tersenyum pilu. Air mataku mengalir turun. Aku merasakan sesak dalam dada. Tenggorokkanku kering dan panas.

Dan, saat ini akan aku tarik kembali kata-kataku yang dulu. Akan kuanggap aku tidak pernah mengucapkan kata-kata itu. Untuk pertama kalinya, satu kali saja, aku ingin bertanya, ”Berapa lama lagi waktuku?”

Punggung Mama menegang. Ia terlihat begitu terkejut mendengar pertanyaanku. Untuk sesaat, Mama hanya tercenung dan diam. Aku terus menunggu sampai akhirnya Mama mengangguk gemetaran.

”Dua...” desah Mama. Ia tampak menggigil kecil sementara aku menerka-nerka apakah dua hari, dua minggu, dua bulan atau dua tahun. Setelah jeda yang cukup panjang, Mama melanjutkan dengan enggan, ”Dua minggu.”

Tubuhku serasa menembus ranjang yang tengah kutempati dan jatuh membentur lantai. Aku merasa sakit dan sesaat kemudian ringkih. Dunia mendadak terasa begitu hampa. Semuanya tampak meredup seolah-olah tidak ada lagi harapan yang berpijar.

Susah payah aku menarik napas.

Tuhan, apakah Kau sudah bersiap-siap untuk memanggilku? Kapan saja?

”Astaga! Tuhan, aku mohon...” Mama merintih dan mulai terisak. ”Aku butuh dia. Aku butuh anakku. Tolonglah...”

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat Mama bersimbah air mata sebanyak sekarang. Hatiku ngilu melihatnya.

”Ma, berhentilah menangis... untukku,” ujarku pelan. Air mataku menetes lagi.

Tuhan, jangan ada lagi air mata...

***

Pernah merasa kalau kematian itu terasa begitu dekat?

Aku tengah merasakannya. Aku tahu ia sedang berada di dekatku sekarang. Sangat dekat. Dan, aku takut. Aku sepetrti tengah tersudut di jalan buntu, tidak bisa ke mana-mana sementara kematian itu terus saja melangkah menghampiriku. Semakin dekat dan semakin dekat. Semakin ia mendekat, semakin aku bisa merasakan hawa asing yang menyebar,  yang tidak menyenangkan dan membuat jantungku berdebar-debar tidak menentu.

Pernah merasa kalau kematian itu terlihat?

Aku tengah merasakannya. Aku bisa melihatnya. Sangat jelas. Ia sedang berdiri di depanku, berjarak tidak jauh dariku. Ia menatapku tanpa jeda dan tersenyum aneh. Suasana mendadak menjadi kelabu. Bersama dengan datangnya keheningan yang tidak biasa, ia mengulurkan tangannya, berusaha menyentuhku. Aku tahu hanya butuh waktu yang tidak lama sampai ia benar-benar bisa menyentuhku.

Waktuku tidak lama lagi. Aku tahu itu...

Sabtu, 26 Januari 2013

Catatan #17: Awal Dari Air Mata

Pelan-pelan aku membuka mata. Aku mengerjap beberapa kali sebelum melirik jam dinding yang tengah berdetak-detik. Pukul enam lewat lima menit. Saat aku mengalihkan perhatianku dari jam dinding, sekilas aku melihat kaos krem yang kukenakan di pesta ulang tahun Randy seminggu yang lalu, tergantung di pegangan lemari pakaian. Aku sudah membiarkan kaos itu tergantung di sana berhari-hari. Entah kenapa aku tidak berniat memasukkannya ke dalam lemari.

Berdetik-detik kemudian, setelah kesadaranku terkumpul sepenuhnya, aku baru merasa ada yang aneh. Aku tidak tahu apa yang aneh, tapi aku bisa merasakannya. Jelas-jelas sesuatu yang sulit dijabarkan. Sesuatu yang membuat jantungku berdegup tidak nyaman.

Aku menggeleng, mendesah, lalu turun dari ranjang. Dengan langkah yang lemah dan berat aku menuju pintu. Saat tanganku hendak meraih kenop pintu, saat itulah aku merasa dunia di sekitarku berputar-putar. Gempa bumi! Setidaknya itulah yang aku rasakan. Di detik berikutnya aku mendapati mataku berkunang-kunang dan kepalaku mendadak terasa berat. Kalau saja aku tidak cepat-cepat bersandar pada tembok, bisa kupastikan aku telah jatuh membentur lantai.

Selama beberapa saat aku bertahan dalam posisi itu—bersandar pada tembok. Berkali-kali aku mengerjap untuk menghilangkah kunang-kunang dari mataku. Beberapa saat kemudian, setelah kurasakan dunia tidak lagi berputar-putar, barulah aku menyusup keluar kamar.

Aku menuruni satu per satu anak tangga dengan gontai. Pekerjaan mudah ini terasa dua kali lebih sulit dari biasanya. Aku tahu aku harus bergerak lambat kalau aku tidak mau sampai di bawah dengan berguling-guling di atas anak-anak tangga.

Tepat ketika hanya tersisa tiga anak tangga, aku kembali merasakan dunia di sekitarku berputar-putar. Kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Aku merasa mual, begitu mendadak. Kedua kakiku melemas seketika, memaksaku untuk segera bertumpuh pada terali besi. Aku mendesah ringkih. Tidak sampai sepuluh detik kemudian, aku telah berguling-guling di atas sisa anak tangga dan terkulai lemas di bawah.

Aku memutar mata. Dengan mengandalkan sisa tenaga yang aku punya, aku beringsut sedikit untuk menjatuhkan tempat payung yang berada di dekat tangga. Aku sudah nyaris tidak sadarkan diri ketika melihat Mama berlari menghampiriku. Setelahnya aku tidak melihat apa-apa lagi. Kedua mataku terpejam. Aku hanya bisa mendengar Mama menjerit-jerit histeris.

”Nathan, Desta, cepat ke sini. DEMI TUHAN! CEPATLAH KE SINI!”

Lalu dunia mendadak begitu sunyi. Aku tidak mendengar apa-apa lagi...

Rabu, 23 Januari 2013

Catatan #16: Sahabat Sejati


Aku segera membuka pintu mobil dan melompat turun sesaat setelah Papa menghentikan laju mobil. Dengan langkah-langkah panjang dan cepat aku berjalan  meninggalkan mobil. Kalau saja aku tidak takut pakaianku basah oleh keringat, aku pasti sudah berlari secepat yang aku bisa. Aku sedang buru-buru. Tanpa perlu diragukan lagi, aku pasti sudah terlambat menghadiri pesta ulang tahun Randy. Di saat seperti inilah aku benar-benar merutuki satu kondisi yang dinamakan kemacetan.

Sambil terus melangkah, aku berharap aku memiliki kesempatan untuk membungkam Randy terlebih dahulu sebelum ia memuntahkan serentetan kata bernada kesal karena aku terlambat. Tenagaku sudah cukup terkuras untuk menunggu kemacetan tadi terurai. Itu sudah cukup, dan aku tidak mau mendengar celotehan Randy yang bisa mengalahkan panjangnya kereta api. Untuk ukuran laki-laki, Randy itu cerewet sekali.

Saat aku hampir mencapai teras, aku melihat Randy tengah berdiri di sana. Keningku berkerut-kerut. Untuk apa ia berdiri di sana?

Aku buru-buru mengangkat tangan tepat di depan wajahnya, lalu berkata dengan napas terputus-putus, ”Sebelum kau bersuara, dengarkan aku dulu.” Aku mengambil napas panjang dan melanjutkan, ”Aku minta maaf karena aku terlambat. Tunggu dulu, jangan menyela. Biar kau tahu, aku sudah berangkat dari rumah dua jam yang lalu. Dan, kalau kau ingin marah, marah saja pada kemacetan. Dia yang membuatku terlambat. Oke?” Aku mengambil napas panjang lagi. ”Omong-omong, untuk apa kau berdiri di sini?”

Sementara menunggu jawaban Randy, aku memperhatikan penampilannya malam ini sambil diam-diam membandingkannya dengan penampilanku. Randy memakai kemeja putih lengan panjang, aku memakai kaos krem lengan panjang. Kami sama-sama mengenakan celana panjang berwarna hitam. Randy tampak tampan, dan aku yakin aku tidak kalah tampan. Astaga! Apa yang baru saja aku pikirkan?

”Sudah jelas, kan?” sahutnya tidak sabar. ”Menunggumu.”

”Menungguku?”

”Memangnya untuk apa aku berdiri di sini seperti orang bodoh kalau bukan untuk menunggumu?” Randy balas bertanya dengan malas.

Aku hanya diam dan tersenyum tipis. Namun, saat aku tersadar akan sesuatu, aku segera bertanya, ”Acara puncaknya—tiup lilin maksudku—sudah lewat?”

”Yang benar saja,” cetusnya. ”Acaranya bahkan belum benar-benar dimulai.”

Aku mengangkat sebelah alisku. ”Maksudmu, kau belum meniup lilin?”

Randy menggeleng.

”Ha?” Aku terkejut. ”Bukankah seharusnya kau sudah meniup lilin...” aku melirik jam tangan, ”setengah jam yang lalu?”

”He-emh,” Randy membenarkan, lalu mengangkat bahunya, berlagak tidak peduli. ”Tapi, aku tidak mau melakukannya kalau sahabat terbaikku belum datang.” Randy tersenyum. Bersahabat.

Aku terharu. Randy benar-benar setia kawan. Aku meninju pelan pundaknya. ”Untuk apa sampai seperti itu? But, thanks.”

Randy mengangguk. ”Ayo, sekarang ikut aku ke dalam. Kita harus bergegas memulai acaranya sebelum para tamu melempari kita dengan pie.”

”Kita?” gurauku.

Randy meringis. ”Ingat? Ini semua, kan gara-gara kau terlambat.” Randy menyambar tanganku dan menyeretku mengikutinya. Ia melangkah dalam langkah panjang-panjang.

”Tunggu dulu,” selaku buru-buru. ”Kado untukmu tertinggal di mobil.”

Randy tidak peduli, tidak berhenti. Ia terus saja melangkah dan menyeretku. ”Sudahlah. Kan, sudah kubilang aku tidak butuh kadomu. Kau datang saja itu sudah cukup,” katanya. Ia diam sebentar, lantas bergumam, ”Lagi pula, siapa juga yang ingin dihadiahi bom?”

***

Pestanya diadakan di ruang tamu. Sofa, meja, televisi dan beberapa perabot yang biasanya menghuni ruangan itu telah diungsikan, entah ke mana. Sebagai gantinya, sekarang ruangan itu disesaki oleh para tamu. Ada sebuah meja panjang di salah satu sudut ruangan, bertaplak kain putih dan di atasnya penuh dengan bermacam-macam makanan. Di sudut lain, terdapat pula meja yang serupa, namun dipenuhi oleh bermacam-macam minuman. Di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah kue ulang tahun bertingkat dua, diletakkan di atas sebuah meja kaca.

Saat ini aku tengah berdiri di depan kue itu, di samping kanan Randy. Di samping kiri Randy ada kedua orangtuanya. Selalu seperti ini. Randy selalu memintaku untuk menemaninya saat ia hendak meniup lilin. Aku tidak tahu untuk apa. Ia sendiri tidak pernah memberiku alasan yang jelas.

Ketika lagu Selamat Ulang Tahun selesai dinyanyikan, Randy memejamkan matanya sesaat, lalu meniup lilin berbentuk angka 14 yang tertancap di atas kue. Api yang menari-nari kecil di pucuk sumbu pun padam, dan begitulah harapannya tersampaikan.

Sembari menatap sumbu lilin yang menguarkan asap rapuh, aku berdoa dalam hati semoga apa yang Randy harapkan akan terkabul, apa pun itu. Dan, untuk satu alasan yang tidak aku mengerti, tiba-tiba saja aku merasa begitu ringan. Lalu, tahu-tahu air mataku menetes turun.

***

Beberapa saat setelah acara puncak itu, Randy mengajakku ke kolam berenang di belakang rumahnya. Kami duduk di pinggir kolam dengan kaki yang terjuntai turun menyentuh air. Suasana di sekitar kami sepi dan tenang. Langit malam masih terjaga dan terlihat belum lelah.

”Apa yang kauminta tadi?” tanyaku sambil memandangi pantulan bulan di permukaan air. Bentuknya tampak tidak keruan akibat ulah iseng kaki kami.

”Apa?” tanya Randy tidak mengerti.

Birthday wish-mu.”

”Kau berani bayar berapa untuk informasi itu?” tanyanya seakan-akan ia tengah menyimpan sebuah informasi superpenting yang sedang diburu banyak orang.

Aku mendengus terang-terangan. ”Belum cukupkah puluhan kado yang kaudapatkan malam ini?” tanyaku datar.

”Kau ingin tahu?”

Aku mengibas-ngibaskan tangan kananku asal-asalan. ”Tidak lagi.”

”Sungguh kau tidak ingin tahu?”

Aku menoleh menatapnya dan mendapati ia tengah memasang senyum yang sangat menyebalkan. Aku diam saja, malas menanggapinya. Ia pun begitu, diam.

”Aku meminta kesembuhanmu,” katanya memecah kebisuan. Sewaktu Randy mengatakannya, ia tidak menatapku. Matanya menatap lurus ke depan. Namun, percayalah, aku tidak perlu melihat ke dalam matanya untuk mengetahui apakah ia bersungguh-sungguh atau tidak. Semuanya sudah jelas.

Dengan ringan aku tersenyum. Inikah sebabnya kenapa air mataku menetes tadi? Karena di luar yang aku tahu, aku telah mengaminkan sebuah harapan yang sebenarnya ditujukan untuk diriku sendiri.

”Kau tahu, kata mereka jika kita memberitahukan apa birthday wish kita kepada orang lain, wish itu tidak akan terkabul,” tuturku kalem.

Randy mengangkat bahunya. ”Mamaku pernah bilang, ketika kita mengucapkan sebuah harapan, Tuhan hanya melihat dua hal. Yang pertama, kesungguhan kita. Yang kedua, seberapa besar kita memercayakan harapan itu kepada-Nya. Dan, aku... Aku bersungguh-sungguh dan percaya seratus persen.”

Aku tersenyum terharu, lalu menengadah menatap langit. ”Kata mereka, sahabat sejati adalah dia yang menempatkan kepentingan sahabatnya di atas kepentingannya sendiri. Dulu aku ragu ada sahabat seperti itu. Tapi, selepas malam ini, aku tidak lagi punya alasan untuk ragu karena aku tahu sahabat seperti itu ternyata ada.” Aku menoleh menatap Randy. ”Dia tengah duduk bersamaku sekarang.”

Randy tersenyum lebar sekali. Setelah mendorong pelan bahuku, ia bergumam, ”Kau membuatku terharu.” Ia melakukan gerakan menyeka air mata padahal ia tidak menangis. Ia hanya berlagak.

”Untuk harapannya, terima kasih,” ucapku.

”Ya.”

Dan, begitulah persahabatan kami terjalin...