Hari ini hari libur nasional yang paling banyak
diulang dalam satu tahun. Hari Minggu maksudku. Hari ini, kami—aku, Mama, Papa dan
Kak Desta—memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan berenang. Baiklah.
Sebenarnya aku sendiri tidak begitu senang dengan keputusan ini. Aku tidak suka
berenang. Alasannya sederhana saja. Karena aku tidak bisa berenang. Namun, aku
menyetujuinya saja saat Papa mengusulkannya. Duduk sembari melihat sekumpulan
orang berenang dan bermain air sepertinya menyenangkan juga. Ya, semoga saja.
***
Kami baru saja membayar tiket masuk. Sekarang kami sedang berjalan menelusuri jalan setapak yang cukup sempit.
Aku memandang berkeliling
dan terkesan dengan suasana di sekitar kolam berenang. Di sepanjang jalan
setapak tumbuh pohon-pohon kelapa yang menjulang tinggi seolah-olah berlomba
untuk menyentuh langit. Ada banyak tumbuhan dari rumpun semak-semakan yang
tumbuh. Ada pula bongkah-bongkah batu besar yang teronggok di sana-sini. Kesan
alam terbuka yang disuguhkan sungguh kental.
Tatapanku lalu mendarat
pada kolam berenang. Luas, pikirku. Airnya terlihat biru kristal. Di
tengah-tengahnya terdapat sejumlah bongkah batu buatan yang disusun bertumpuk
sampai ketinggian tertentu. Dari atasnya air mengalir turun, dibuat menyerupai
air terjun kecil-kecilan.
Aku tersenyum, memperhatikan
orang-orang yang tengah memenuhi kolam berenang. Mereka terlihat ceria. Lepas
dan seperti tanpa beban. Suasananya begitu riang, dan aku menyukainya.
Kami berhenti melangkah
dan menempati salah satu tenda payung berwarna biru yang tersedia. Kuletakkan
tas yang aku bawa ke atas meja bundar di depanku, lalu duduk dan bersandar. Aku
dengar Papa sempat menggumamkan sesuatu kepada Mama sebelum berjalan menjauh.
Kak Desta mengekori Papa. Mereka pasti hendak berganti pakaian. Aku melihat
mereka membawa serta pakaian renang mereka. Aku lantas mendesah kecil. Andai
saja aku bisa berenang...
“Vin, kau kenapa? Lelah?”
tanya Mama.
Aku menggeleng. “Aku baik-baik
saja.”
Mama kelihatan kurang yakin, namun ia tetap
mengangguk-angguk.
Beberapa saat kemudian Papa
dan Kak Desta kembali. Mereka sudah berganti pakaian. Kak Desta baru meletakkan
pakaiannya ke atas meja saat Mama berujar kepadanya, “Des, bagaimana kalau kau mengajari Davin
berenang?”
Kak Desta terdiam sejenak,
namun tidak kelihatan sedang berpikir. Sementara itu, Mama beralih menatapku. “Bagaimana,
Vin? Kau mau? Mama sudah membawa pakaian ganti untukmu.”
Aku sangat ingin. Diajari
berenang oleh Kak Desta pasti menyenangkan. Namun, aku tidak sempat menyuarakan
keinginanku karena Kak Desta lebih dulu bersuara.
“Aku duluan, Ma,” pamitnya,
lalu berderap menjauh.
Mama mendesah
terang-terangan sedangkan aku mendesah tidak kentara. Aku pikir sikap Kak Desta
akan berubah hangat setelah peristiwa siang itu, namun ternyata tidak. Yang
tadi itu buktinya.
“Vin,” Papa memanggilku,
lalu meletakkan tangannya di atas kepalaku. “Kalau kau mau, Papa akan
mengajarimu. Bagaimana?” Papa menawariku.
Aku menggeleng.
“Benar tidak mau?” Papa
memastikan.
“Ya,” sahutku singkat.
Papa tersenyum tipis. “Ya
sudah. Papa susul kakakmu dulu, ya,” Papa pamit sambil menepuk-nepuk pelan
keningku.
Papa lebih dulu mendekatkan
bibirnya ke telingaku dan berbisik, “Doakan supaya Papa bisa mengalahkan
kakakmu. Taruhannya uang saku kakakmu selama satu minggu. Kalau Papa menang,
jatah uang sakunya akan Papa berikan padamu. Bagaimana?” sebelum Papa
benar-benar menyusul Kak Desta. Aku hanya tertawa kecil menanggapinya. Namun, diam-diam
aku berdoa untuk kemenangan Papa. Jumlah uang sakunya lumayan, pikirku.
***
Aku menguap tanpa suara,
entah untuk yang keberapa kalinya dalam beberapa menit terakhir. Aku lalu
berdeham kecil.
“Vin, kau haus?” Mama yang
sedari tadi menemaniku bertanya.
“Ya.” Aku memang haus.
“Kau mau minum apa? Biar Mama belikan.”
”Apa saja. Asalkan bisa
dan enak diminum, aku pasti meminumnya.”
”Baiklah.” Mama bangkit
berdiri. ”Mama belikan dulu. Kau tidak apa-apa, kan sendirian?”
”He-emh,” gumamku.
Setelah itu, Mama pergi. Aku duduk sendirian di bawah naungan tenda
payung.
Aku mengerang. Cukup
membosankan ternyata. Padahal baru satu jam. Tadinya aku mengira aku bisa
bertahan jauh lebih lama daripada ini. Nyatanya, sekarang aku sudah menyerah.
Aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah.
Mencoba mencari sesuatu
yang menarik, aku kemudian mengedarkan pandangan, lalu berhenti saat melihat
seorang pria tengah menyisir jalan setapak sambil memukul-mukulkan tongkat yang
ia pegang ke tanah. Tidak perlu
berpikir lama untuk mengetahui kenapa ia melakukan itu. Aku langsung tahu kalau pria itu tidak bisa
melihat.
Aku merasa sedikit miris.
Aku lantas berkata kepada diriku sendiri, ”Di dunia ini bukan hanya kau saja
yang sakit.”
Aku menengadah memandang
langit yang pasti tidak bisa dilihat oleh pria itu. Aku tersenyum kecil,
kemudian bergumam lagi kepada diriku sendiri, ”Lihatlah! Kau itu beruntung masih
bisa melihat langit setiap hari.”
Aku berhenti menengadah.
Aku meraih tas, kemudian mengeluarkan buku dan bolpoinku. Aku menuliskan
sesuatu di salah satu halaman yang masih kosong.
Aku bisa melihat. Aku lebih beruntung
daripada mereka yang buta.
Aku bisa mendengar. Aku lebih beruntung daripada mereka yang tuli.
Aku bisa berbicara. Aku lebih beruntung daripada mereka yang bisu.
Aku memang tidak seberuntung mereka yang sehat, namun setidaknya aku masih hidup. Aku lebih beruntung daripada mereka yang meninggal satu atau beberapa detik yang lalu.
Aku harus selalu bersyukur. Aku tidak boleh membiarkan kekurangan dan kesulitan yang aku hadapi membutakan mataku untuk melihat nikmat yang ada di sekitarku.
Aku harus selalu bersyukur, tidak hanya untuk hal-hal besar yang terjadi dalam hidupku, namun juga hal-hal kecil yang melengkapinya.
Aku harus selalu bersyukur, tidak hanya untuk hal-hal manis, namun juga hal-hal pahit. Sebab, tanpa mengecap pahit, aku tidak akan tahu betapa nikmatnya manis itu.
Aku harus selalu bersyukur karena aku punya ribuan, bahkan jutaan alasan untuk itu.
Aku bisa mendengar. Aku lebih beruntung daripada mereka yang tuli.
Aku bisa berbicara. Aku lebih beruntung daripada mereka yang bisu.
Aku memang tidak seberuntung mereka yang sehat, namun setidaknya aku masih hidup. Aku lebih beruntung daripada mereka yang meninggal satu atau beberapa detik yang lalu.
Aku harus selalu bersyukur. Aku tidak boleh membiarkan kekurangan dan kesulitan yang aku hadapi membutakan mataku untuk melihat nikmat yang ada di sekitarku.
Aku harus selalu bersyukur, tidak hanya untuk hal-hal besar yang terjadi dalam hidupku, namun juga hal-hal kecil yang melengkapinya.
Aku harus selalu bersyukur, tidak hanya untuk hal-hal manis, namun juga hal-hal pahit. Sebab, tanpa mengecap pahit, aku tidak akan tahu betapa nikmatnya manis itu.
Aku harus selalu bersyukur karena aku punya ribuan, bahkan jutaan alasan untuk itu.
***
Kami sedang berada di
dalam mobil, dalam perjalanan pulang ketika Papa menceritakan dengan
semangatnya bagaimana caranya sampai ia bisa mengalahkan Kak Desta tadi. Papa
bercerita tentang gaya apa yang ia gunakan, bagaimana ia mengatur pernapasannya
dan beberapa hal lain yang menegaskan bahwa Papa sungguh-sungguh ingin
mengalahkan Kak Desta. Dan, selama Papa bercerita, Kak Desta berkali-kali
mendengus kesal. Kak Desta benar-benar tidak menerima kekalahannya. Aku sendiri
hanya diam dan mendengar. Tidak terlalu tertarik sebetulnya. Aku yakin Papa
sedikit melebih-lebihkan di sana-sini.
”Jadi, Des, selama satu
minggu ke depan kau tidak akan mendapatkan uang saku,” ujar Papa setelah ia
selesai bercerita. Di balik kemudi, Papa tersenyum riang.
Aku tersenyum geli saat
melihat Kak Desta memasang raut wajah terpukul.
”Dan, jatah uang sakumu
akan Papa berikan kepada adikmu. Papa sudah berjanji kepadanya,” imbuh Papa.
Kak Desta membenamkan
kepalanya ke bantal biru yang ia peluk, lalu mengerang tidak terima. Ia tampak
seperti anak kecil yang dilarang untuk bermain di luar rumah pada saat musim
liburan. Aku tertawa lepas
melihatnya. Papa ikut tertawa. Mama hanya menggeleng melihat kelakuan kami.
Kak Desta mengangkat
wajahnya. Dengan wajah yang ditekuk-tekuk ia berkata kepadaku, ”Beruntung
sekali kau.”
”Tentu saja,” timpalku
ringan.
Yang terjadi selanjutnya
adalah Kak Desta mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berbisik pelan, ”Bagikan
separuhnya untukku.”
”Vin, apa yang kakakmu
bisikkan?” Papa bertanya. Sepertinya Papa sempat melihat lewat kaca spion tengah
sewaktu Kak Desta berbisik kepadaku.
”Kakak minta aku
membagikan separuh uang saku itu kepadanya,” jawabku dengan santai. Aku
memasang wajah polos tanpa dosa, berusaha tidak menghiraukan Kak Desta yang
menatapku dengan gemas bercampur sebal.
”Desta, jadilah lelaki
sejati,” tegur Papa. ”Tepati kesepakatan kita.”
Kak Desta mendengus. ”Iya, iya,” ujarnya
malas-malasan. Ia lalu memiringkan bibirnya dan mencibirku, ”Dasar pengadu.”
Kemudian ia mengempaskan tubuhnya untuk bersandar.
Aku tertawa lagi. Entah
karena banyak tertawa atau apa, aku jadi lelah dan mengantuk. Kupeluk erat
guling berkepala Mickey Mouse. Dan, tidak lama setelahnya aku pun terlelap.
***
Sewaktu aku terbangun, aku
tidak lagi mendengar suara deru mesin mobil. Sudah sampai, sepertinya. Aku masih
setengah sadar saat sebuah suara menggelitik telingaku.
”Sudah bangun?”
Aku menengadah sedikit,
lalu mendapati Kak Desta tengah menunduk dan menatapku lurus. Detik itulah aku
sadar kalau aku tidur dengan kepala yang tergolek di atas pangkuan Kak Desta.
Karena malas bersuara,
untuk menjawab pertanyaannya tadi, aku hanya mengangguk.
”Tadi kau tidur seperti bayi, kau tahu?”
Aku tersipu mendengarnya.
”Masih kantuk?”
Aku mengangguk.
”Tidurlah lagi kalau
begitu.”
Aku mengangguk lagi.
Hal terakhir yang aku
ingat sebelum aku benar-benar terlelap kembali adalah Kak Desta sempat
tersenyum tipis untukku sebelum menggendongku ke luar mobil. Mendadak aku
merasa begitu ringan dan bahagia. Aku tidak tahu apa aku sedang bermimpi atau
tidak. Akan tetapi, jika aku sedang bermimpi, rasanya aku tidak ingin terjaga
lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar