Hari ini Papa tidak masuk kerja. Papa tidak sakit.
Papa juga tidak sedang malas. Papa bilang ia ingin menemaniku menjalani pemeriksaan rutin di rumah sakit
hari ini. Intinya, Papa tidak masuk kerja demi aku.
Kemarin
malam Mama terus-menerus meyakinkan Papa kalau itu tidak perlu. Mama mengatakan
ia punya banyak waktu untuk menemaniku. Namun, Papa bersikukuh ingin
menemaniku. Katanya, ia jarang sekali menemaniku menjalani pemeriksaan. Itu benar. Papa memang jarang menemaniku
karena sibuk kerja. Katanya lagi, sesekali ia juga ingin menghabiskan waktu
berdua dengan putra bungsunya. Aku merasa geli sendiri sewaktu mendengar itu,
tapi aku sebenarnya senang.
Aku
masih ingat satu kalimat yang diucapkan Papa semalam.
”Elis, aku tahu pekerjaanku itu penting,
tapi menemani putraku besok, bagiku itu lebih penting.”
Papa
mengucapkannya dengan lembut dan sungguh-sungguh. Aku sampai terenyuh
mendengarnya. Mungkin Mama juga terenyuh karena setelah mendengar itu, Mama pun
menyerah dan mengiyakan keinginan Papa.
Jadi,
di sinilah kami—aku dan Papa—sekarang, di rumah sakit.
Setelah
diperiksa, aku pun turun dari ranjang putih yang sama sekali tidak empuk. Aku
melangkah, mengikuti Dokter Riko kembali ke meja kerjanya. Di sana, Papa tengah
menunggu kami.
”Bagaimana
kondisi Davin, Dok?” tanya Papa bahkan sebelum Dokter Riko duduk berhadapan
dengannya.
Dokter
Riko tersenyum singkat. Sambil menanggalkan kacamata yang bertengger di atas
hidung mancungnya, ia berkata kepadaku, ”Duduklah, Vin.”
Aku
menurut tanpa bersuara. Aku menarik kursi di samping Papa, lalu duduk di
atasnya. Aku menunggu Dokter Riko menjawab pertanyaan Papa. Aku juga ingin tahu
bagaimana kondisiku. Apakah bertambah baik atau malah bertambah buruk. Aku
harap yang pertama meski aku tidak begitu yakin.
”Belakangan
ini apa yang sering kaurasakan, Vin?” tanya Dokter Riko.
Aku
berpikir sejenak kemudian menjawab, ”Aku gampang merasa lelah belakangan ini.”
Dokter
Riko mengangguk.
”Apa
itu tandanya kondisi Davin memburuk?” sambar Papa, terdengar khawatir.
”Tidak
juga,” sahut Dokter Riko. ”Hal ini biasa terjadi,” imbuhnya. Dokter Riko mengenakan
kacamatanya kembali. ”Meski begitu, jangan biarkan Davin terlalu lelah.
Perhatikan waktu istirahatnya. Jika tidak, bisa saja kondisi Davin menurun
tiba-tiba.”
Papa
mengangguk mengerti. Aku hanya diam.
”Istirahatlah
yang cukup. Jangan terlalu memaksakan diri. Mengerti?” pesan Dokter Riko
kepadaku. Suaranya menyenangkan dan bersahabat.
”Ya.”
”Ah,
sebaiknya aku menuliskan resep vitamin untukmu. Ini akan membantumu menjaga
stamina,” kata Dokter Riko, lalu sibuk menuliskan sesuatu.
Aku
mengembuskan napas. Obat yang harus aku minum bertambah lagi. Meski disebut dengan vitamin, bagiku itu
tetap saja obat.
”Kenapa,
Vin? Mau mengeluh?” Dokter
Riko berhenti menulis, lalu menatapku sambil mengangkat sebelah alisnya.
”Tidak.”
Dokter
Riko menurunkan alisnya, berhenti menatapku dan kembali menulis. Setelah
selesai, Dokter Riko menyerahkan secarik kertas kepada Papa.
”Omong-omong
soal mengeluh, kau itu hebat, Vin,” celetuk Dokter Riko.
”Hebat?”
Dokter
Riko mengangguk mengiyakan. ”Ya, hebat. Hebat karena di saat kebanyakan orang yang
juga berada di posisimu akan mengeluhkan takdir mereka, Dokter malah jarang
sekali mendengarmu mengeluh.”
Aku
mengangkat kedua bahuku. ”Aku tidak hebat. Aku hanya merasa hidupku terlalu
singkat untuk sekadar kuhabiskan dengan mengeluh.”
”Itu
yang disebut hebat,” tandas Dokter Riko. Ia tersenyum lebar. Aku ikut
tersenyum.
Dokter
Riko beralih menatap Papa. ”Secara keseluruhan, kondisi Davin dalam keadaan
yang stabil. Untuk saat ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Terus pastikan
Davin meminum obat yang saya anjurkan dengan teratur. Itu akan sangat
membantu.”
”Adakah
kemungkinan Davin akan sembuh?” Papa bertanya. Aku tahu ada ketakutan yang
terselip serta di suaranya. Aku pun takut. Tubuhku menegang menanti jawaban
Dokter Riko.
”Kemungkinan
itu selalu ada,” sahut Dokter Riko dengan bijak. Aku tidak begitu puas dengan
jawaban itu. Papa kelihatannya juga begitu.
”Seberapa
besar?” Papa bertanya lagi. ”Seberapa besar kemungkinan Davin untuk sembuh?”
Dokter
Riko tidak menjawab. Ia hanya berdeham cukup keras kemudian menatap Papa
lurus-lurus dengan tatapan yang aneh.
Papa
tampak tersadar akan sesuatu. Raut wajahnya berubah menyesal. Pelan-pelan Papa
bergumam, ”Maaf.” Papa menghela napas panjang, lalu, ”Baiklah, kami permisi
dulu. Terima kasih atas waktunya, Dok.”
Papa
bangkit berdiri. Aku mengikutinya. Kami berdua kemudian berjalan ke arah pintu. Baru beberapa langkah, aku
mendengar Dokter Riko memanggilku.
”Davin.”
Aku
berbalik, menatap Dokter Riko dan menunggu apa yang ingin ia katakan.
”Tidak
peduli seberapa besar, kemungkinan itu selalu ada. Kau percaya, kan tidak ada
yang tidak mungkin di dunia ini?”
Aku
menyunggingkan senyum tipis. ”Sebelum waktunya tiba, aku akan terus mempercayainya.”
***
Aku
berjalan beriringan dengan Papa, menelusuri koridor rumah sakit yang sedang
sepi. Aku tidak lelah, belum lelah. Aku sangat bersemangat hari ini.
”Setelah ini kita akan pergi ke mana?”
tanyaku antusias.
”Pulang,” jawab Papa singkat.
”Hah?”
celetukku kaget, tidak menyangka. ”Pulang? Pulang ke rumah?” tanyaku memastikan.
”Tentu
saja. Memangnya kita punya tempat lain untuk pulang selain rumah?” Papa balik
bertanya.
Aku
mengerang kecil, tidak terima. ”Bukankah kemarin Papa bilang ingin menghabiskan
waktu berdua denganku?”
Papa
berhenti melangkah. Aku menyusul. Ia mengangkat sebelah alisnya dan bertanya,
”Bukankah sekarang kita tengah menghabiskan waktu berdua?”
Aku
berdecak. ”Bukan itu yang aku maksud,” ujarku sebal. ”Aku ingin berjalan-jalan,
bermain atau apa saja. Aku
belum ingin pulang ke rumah.”
”Kau
dengar, kan tadi? Kau itu
perlu banyak istirahat.”
”Aku
baik-baik saja,” aku meyakinkan Papa. Aku sungguh-sungguh. ”Aku janji, aku akan
mengatakannya kalau aku mulai lelah nanti. Dan, jika sudah begitu, aku akan
pasrah kalau Papa menyeretku pulang ke rumah. Bagaimana?”
Papa
berpikir-pikir, tidak lama. ”Baiklah,” putusnya, ”kita akan benar-benar
menghabiskan waktu berdua. Hanya
ada Papa dan putra bungsu Papa.” Nada suaranya terdengar ceria, khas Papa.
Aku
tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar. Papaku memang papa nomor
satu di dunia. Berlebihan? Biar saja....
”Tapi,
sebelum itu, kita ke salon dulu, ya,” ajak Papa, lalu kembali berjalan. Ia
menoleh kepadaku sambil menunjuk-nunjuk rambutnya. ”Rambut Papa sudah
kepanjangan. Kelihatan agak berantakkan.”
Aku
mengangguk riang. Sebenarnya aku tidak begitu peduli kami akan pergi ke mana.
Yang terpenting bagiku adalah menghabiskan waktu berdua dengan Papa. Aku sangat
ingin karena kami sudah cukup lama tidak melakukannya. Pasti akan sangat
menyenangkan.
”Sebenarnya rambutmu juga,” celetuk Papa kemudian.
***
Aku
duduk di depan sebuah cermin besar dengan badan yang diselimuti oleh sehelai
kain putih. Dengan postur tubuhku yang tidak terlalu tinggi, kain itu berhasil
menelan kakiku. Aku melirik ke sebelah. Papa duduk tepat di sana. Keadaannya
nyaris sama denganku. Bedanya,
kedua kaki Papa masih tampak keluar dari selimutan kain sementara punyaku
tidak.
Mendadak
aku jadi bertanya-tanya dalam hati, apakah nanti aku sempat memiliki kaki
sepanjang kaki Papa? Aneh memang, namun aku mulai berpikir tentang itu. Kalau
kakiku sepanjang itu, aku pasti bisa menjangkau sekat tertinggi rak buku di
ruang keluarga. Aku juga bisa
berlari dengan cepat sewaktu bermain sepak bola. Dan... Dan apa lagi, ya? Ah, pastinya
akan ada banyak hal yang bisa kulakukan dengan kaki sepanjang itu. Terbayangkan
begitu mengasyikkan. Namun, kembali lagi ke pertanyaan tadi. Apakah aku sempat
memilikinya?
”Vin,
tegakkan dudukmu. Rambutmu akan mulai dipotong,” Papa menyela lamunanku.
Aku
tersentak sadar. Aku mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali, lalu kupandangi
Papa dengan ekspresi bingung. ”Apa?”
”Tegakkan
dudukmu. Kakak yang berdiri di belakangmu itu akan mulai memotong rambutmu,”
ulang Papa.
Aku
menatap kakak yang dimaksudkan oleh Papa melalui cermin. Ia balas menatapku dan
tersenyum. Buru-buru aku berseru, ”Ah, iya.” Setelah itu, aku pun menegakkan
dudukku. Kakak itu mulai memotong rambutku.
”Adik
kecil, kau tampan sekali,” puji kakak itu setelah menjepitkan sesuatu di belakang
kepalaku. Aku hanya tersipu kecil mendengarnya.
”Ah,
jangan coba-coba merayu putraku. Dia belum boleh berpacaran,” gurau Papa.
Kakak
itu terkekeh pelan. ”Aku tidak akan berani merayunya. Tidak di depan papanya.”
Ia balas bergurau. ”Dia memang tampan,” katanya lagi.
”Itu karena dia mewarisi ketampanan
papanya,” cetus Papa penuh percaya diri. Tawa Papa terlepas ke udara.
Karena
tidak tahan, aku lalu meninju pelan lengan Papa. ”Dasar genit,” cibirku,
sedikit geli.
Tawa
Papa semakin lepas. Tawanya menyeretku untuk ikut tertawa. Seperti virus, tawa
Papa juga menular ke kedua kakak yang tengah memotong rambut kami.
Papa
selalu begitu. Ia tipe pria yang bisa menceriakan suasana. Tiba-tiba saja aku
berharap aku tidak akan mengubahnya. Aku berharap Papa akan selalu ceria
sekalipun setelah aku pergi nanti.
***
Kami
benar-benar menghabiskan waktu di sana. Kami menaiki beberapa wahana yang tidak
memacu adrenalin. Sesungguhnya aku ingin mencoba menaiki satu saja wahana yang
’menantang’, tapi Papa melarangku. Untuk menghindari kemungkinan aku akan dibawa
pulang secara paksa, aku pun menurut saja dan mengurungkan niatku.
Sekarang,
dengan segulungan tebal gula kapas di tanganku, aku dan Papa menaiki kincir
roda raksasa. Perlahan-lahan
kami dibawa semakin jauh dari tanah, dan semakin jauh. Semua yang bertumpu pada
bumi terlihat semakin kecil dan jauh. Kami semakin dekat dengan langit. Aku tidak tahu dengan Papa, tetapi aku
merasa sebentar lagi aku akan benar-benar berada di langit.
”Bagaimana?
Kau sudah puas?” tanya Papa, lalu menarik kedua sudut bibirnya ke atas.
”Ya.”
Aku mengangguk. ”Puas sekali.”
”Senang?”
”Tentu
saja.”
Papa
mencomot gula kapasku, memakannya, lalu diam.
Kupalingkan
wajahku ke arah jendela kaca kecil di samping kiriku. Sepertinya kami sudah
berada di puncak. Aku bisa memandangi langit tanpa perlu mendongak. Aku sedang
memperhatikan seekor burung yang tengah terbang saat Papa bersuara.
”Omong-omong,
apa yang dikatakan Dokter Riko benar juga. Papa juga jarang mendengarmu
mengeluh.”
Aku
menoleh menatap Papa. ”Apa aku harus mengeluh?”
Papa
mengangkat kedua bahunya. ”Entahlah. Papa hanya merasa kau boleh-boleh saja mengeluh.”
”Kenapa
harus mengeluh?
”Kenapa tidak?” balas Papa.
Aku
bersandar. Dengan nada merenung aku bertutur, ”Kadang, aku ingin menjadi
seperti seekor burung yang bisa terbang bebas. Aku pikir pasti akan sangat
menyenangkan kalau aku bisa terbang dan memandangi bumi dari atas. Semuanya
akan terasa ringan dan tanpa beban.
Aku
ingin dalam hidupku, semua yang terjadi adalah hal-hal yang menyenangkan.
Namun, lalu aku sadar bahwa hidup tidak selalu diisi oleh hal-hal yang manis.
Orang-orang bilang dalam hidup ada manis, ada pula pahit. Dan, aku merasa Tuhan
memberikannya dalam porsi yang tepat. Jadi, untuk apa mengeluh?”
Papa
tersenyum lebar sekali. Ia meraih puncak kepalaku, lalu menepuk-nepuk keningku
pelan-pelan. Itu kebiasaan
Papa. Satu kebiasaan yang aku rasa merupakan salah satu perwujudan rasa sayang.
Selepas itu, Papa tidak bersuara lagi.
Sampai akhirnya ketika kami baru saja turun dari kincir roda raksasa, Papa
bergumam, ”Papa menyayangimu.”
Aku
menyahut, ”Aku tahu.”
Dan,
Papa tersenyum lebar kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar