Sabtu, 19 Januari 2013

Catatan #12: Untuk Apa Mengeluh?

Hari ini Papa tidak masuk kerja. Papa tidak sakit. Papa juga tidak sedang malas. Papa bilang ia ingin menemaniku menjalani pemeriksaan rutin di rumah sakit hari ini. Intinya, Papa tidak masuk kerja demi aku.

Kemarin malam Mama terus-menerus meyakinkan Papa kalau itu tidak perlu. Mama mengatakan ia punya banyak waktu untuk menemaniku. Namun, Papa bersikukuh ingin menemaniku. Katanya, ia jarang sekali menemaniku menjalani pemeriksaan. Itu benar. Papa memang jarang menemaniku karena sibuk kerja. Katanya lagi, sesekali ia juga ingin menghabiskan waktu berdua dengan putra bungsunya. Aku merasa geli sendiri sewaktu mendengar itu, tapi aku sebenarnya senang.

Aku masih ingat satu kalimat yang diucapkan Papa semalam.

”Elis, aku tahu pekerjaanku itu penting, tapi menemani putraku besok, bagiku itu lebih penting.”

Papa mengucapkannya dengan lembut dan sungguh-sungguh. Aku sampai terenyuh mendengarnya. Mungkin Mama juga terenyuh karena setelah mendengar itu, Mama pun menyerah dan mengiyakan keinginan Papa.

Jadi, di sinilah kami—aku dan Papa—sekarang, di rumah sakit.

Setelah diperiksa, aku pun turun dari ranjang putih yang sama sekali tidak empuk. Aku melangkah, mengikuti Dokter Riko kembali ke meja kerjanya. Di sana, Papa tengah menunggu kami.

”Bagaimana kondisi Davin, Dok?” tanya Papa bahkan sebelum Dokter Riko duduk berhadapan dengannya.

Dokter Riko tersenyum singkat. Sambil menanggalkan kacamata yang bertengger di atas hidung mancungnya, ia berkata kepadaku, ”Duduklah, Vin.”

Aku menurut tanpa bersuara. Aku menarik kursi di samping Papa, lalu duduk di atasnya. Aku menunggu Dokter Riko menjawab pertanyaan Papa. Aku juga ingin tahu bagaimana kondisiku. Apakah bertambah baik atau malah bertambah buruk. Aku harap yang pertama meski aku tidak begitu yakin.

”Belakangan ini apa yang sering kaurasakan, Vin?” tanya Dokter Riko.

 Aku berpikir sejenak kemudian menjawab, ”Aku gampang merasa lelah belakangan ini.”

Dokter Riko mengangguk.

”Apa itu tandanya kondisi Davin memburuk?” sambar Papa, terdengar khawatir.

”Tidak juga,” sahut Dokter Riko. ”Hal ini biasa terjadi,” imbuhnya. Dokter Riko mengenakan kacamatanya kembali. ”Meski begitu, jangan biarkan Davin terlalu lelah. Perhatikan waktu istirahatnya. Jika tidak, bisa saja kondisi Davin menurun tiba-tiba.”

Papa mengangguk mengerti. Aku hanya diam.

”Istirahatlah yang cukup. Jangan terlalu memaksakan diri. Mengerti?” pesan Dokter Riko kepadaku. Suaranya menyenangkan dan bersahabat.

”Ya.”

”Ah, sebaiknya aku menuliskan resep vitamin untukmu. Ini akan membantumu menjaga stamina,” kata Dokter Riko, lalu sibuk menuliskan sesuatu.

Aku mengembuskan napas. Obat yang harus aku minum bertambah lagi. Meski disebut dengan vitamin, bagiku itu tetap saja obat.

”Kenapa, Vin? Mau mengeluh?” Dokter Riko berhenti menulis, lalu menatapku sambil mengangkat sebelah alisnya.

”Tidak.”

Dokter Riko menurunkan alisnya, berhenti menatapku dan kembali menulis. Setelah selesai, Dokter Riko menyerahkan secarik kertas kepada Papa.

”Omong-omong soal mengeluh, kau itu hebat, Vin,” celetuk Dokter Riko.

”Hebat?”

Dokter Riko mengangguk mengiyakan. ”Ya, hebat. Hebat karena di saat kebanyakan orang yang juga berada di posisimu akan mengeluhkan takdir mereka, Dokter malah jarang sekali mendengarmu mengeluh.”

Aku mengangkat kedua bahuku. ”Aku tidak hebat. Aku hanya merasa hidupku terlalu singkat untuk sekadar kuhabiskan dengan mengeluh.”

”Itu yang disebut hebat,” tandas Dokter Riko. Ia tersenyum lebar. Aku ikut tersenyum.

Dokter Riko beralih menatap Papa. ”Secara keseluruhan, kondisi Davin dalam keadaan yang stabil. Untuk saat ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Terus pastikan Davin meminum obat yang saya anjurkan dengan teratur. Itu akan sangat membantu.”

”Adakah kemungkinan Davin akan sembuh?” Papa bertanya. Aku tahu ada ketakutan yang terselip serta di suaranya. Aku pun takut. Tubuhku menegang menanti jawaban Dokter Riko.

”Kemungkinan itu selalu ada,” sahut Dokter Riko dengan bijak. Aku tidak begitu puas dengan jawaban itu. Papa kelihatannya juga begitu.

”Seberapa besar?” Papa bertanya lagi. ”Seberapa besar kemungkinan Davin untuk sembuh?”

Dokter Riko tidak menjawab. Ia hanya berdeham cukup keras kemudian menatap Papa lurus-lurus dengan tatapan yang aneh.

Papa tampak tersadar akan sesuatu. Raut wajahnya berubah menyesal. Pelan-pelan Papa bergumam, ”Maaf.” Papa menghela napas panjang, lalu, ”Baiklah, kami permisi dulu. Terima kasih atas waktunya, Dok.”

Papa bangkit berdiri. Aku mengikutinya. Kami berdua kemudian berjalan ke arah pintu. Baru beberapa langkah, aku mendengar Dokter Riko memanggilku.

”Davin.”

Aku berbalik, menatap Dokter Riko dan menunggu apa yang ingin ia katakan.

”Tidak peduli seberapa besar, kemungkinan itu selalu ada. Kau percaya, kan tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini?”

Aku menyunggingkan senyum tipis. ”Sebelum waktunya tiba, aku akan terus mempercayainya.”

***

Aku berjalan beriringan dengan Papa, menelusuri koridor rumah sakit yang sedang sepi. Aku tidak lelah, belum lelah. Aku sangat bersemangat hari ini.

”Setelah ini kita akan pergi ke mana?” tanyaku antusias.

”Pulang,” jawab Papa singkat.

”Hah?” celetukku kaget, tidak menyangka. ”Pulang? Pulang ke rumah?” tanyaku memastikan.

”Tentu saja. Memangnya kita punya tempat lain untuk pulang selain rumah?” Papa balik bertanya.

Aku mengerang kecil, tidak terima. ”Bukankah kemarin Papa bilang ingin menghabiskan waktu berdua denganku?”

Papa berhenti melangkah. Aku menyusul. Ia mengangkat sebelah alisnya dan bertanya, ”Bukankah sekarang kita tengah menghabiskan waktu berdua?”

Aku berdecak. ”Bukan itu yang aku maksud,” ujarku sebal. ”Aku ingin berjalan-jalan, bermain atau apa saja. Aku belum ingin pulang ke rumah.”

”Kau dengar, kan tadi? Kau itu perlu banyak istirahat.”

”Aku baik-baik saja,” aku meyakinkan Papa. Aku sungguh-sungguh. ”Aku janji, aku akan mengatakannya kalau aku mulai lelah nanti. Dan, jika sudah begitu, aku akan pasrah kalau Papa menyeretku pulang ke rumah. Bagaimana?”

Papa berpikir-pikir, tidak lama. ”Baiklah,” putusnya, ”kita akan benar-benar menghabiskan waktu berdua. Hanya ada Papa dan putra bungsu Papa.” Nada suaranya terdengar ceria, khas Papa.

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar. Papaku memang papa nomor satu di dunia. Berlebihan? Biar saja....

”Tapi, sebelum itu, kita ke salon dulu, ya,” ajak Papa, lalu kembali berjalan. Ia menoleh kepadaku sambil menunjuk-nunjuk rambutnya. ”Rambut Papa sudah kepanjangan. Kelihatan agak berantakkan.”

Aku mengangguk riang. Sebenarnya aku tidak begitu peduli kami akan pergi ke mana. Yang terpenting bagiku adalah menghabiskan waktu berdua dengan Papa. Aku sangat ingin karena kami sudah cukup lama tidak melakukannya. Pasti akan sangat menyenangkan.

”Sebenarnya rambutmu juga,” celetuk Papa kemudian.

***

Aku duduk di depan sebuah cermin besar dengan badan yang diselimuti oleh sehelai kain putih. Dengan postur tubuhku yang tidak terlalu tinggi, kain itu berhasil menelan kakiku. Aku melirik ke sebelah. Papa duduk tepat di sana. Keadaannya nyaris sama denganku. Bedanya, kedua kaki Papa masih tampak keluar dari selimutan kain sementara punyaku tidak.

Mendadak aku jadi bertanya-tanya dalam hati, apakah nanti aku sempat memiliki kaki sepanjang kaki Papa? Aneh memang, namun aku mulai berpikir tentang itu. Kalau kakiku sepanjang itu, aku pasti bisa menjangkau sekat tertinggi rak buku di ruang keluarga. Aku juga bisa berlari dengan cepat sewaktu bermain sepak bola. Dan... Dan apa lagi, ya? Ah, pastinya akan ada banyak hal yang bisa kulakukan dengan kaki sepanjang itu. Terbayangkan begitu mengasyikkan. Namun, kembali lagi ke pertanyaan tadi. Apakah aku sempat memilikinya?

”Vin, tegakkan dudukmu. Rambutmu akan mulai dipotong,” Papa menyela lamunanku.

Aku tersentak sadar. Aku mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali, lalu kupandangi Papa dengan ekspresi bingung. ”Apa?”

”Tegakkan dudukmu. Kakak yang berdiri di belakangmu itu akan mulai memotong rambutmu,” ulang Papa.

Aku menatap kakak yang dimaksudkan oleh Papa melalui cermin. Ia balas menatapku dan tersenyum. Buru-buru aku berseru, ”Ah, iya.” Setelah itu, aku pun menegakkan dudukku. Kakak itu mulai memotong rambutku.

”Adik kecil, kau tampan sekali,” puji kakak itu setelah menjepitkan sesuatu di belakang kepalaku. Aku hanya tersipu kecil mendengarnya.

”Ah, jangan coba-coba merayu putraku. Dia belum boleh berpacaran,” gurau Papa.

Kakak itu terkekeh pelan. ”Aku tidak akan berani merayunya. Tidak di depan papanya.” Ia balas bergurau. ”Dia memang tampan,” katanya lagi.

”Itu karena dia mewarisi ketampanan papanya,” cetus Papa penuh percaya diri. Tawa Papa terlepas ke udara.

Karena tidak tahan, aku lalu meninju pelan lengan Papa. ”Dasar genit,” cibirku, sedikit geli.

Tawa Papa semakin lepas. Tawanya menyeretku untuk ikut tertawa. Seperti virus, tawa Papa juga menular ke kedua kakak yang tengah memotong rambut kami.

Papa selalu begitu. Ia tipe pria yang bisa menceriakan suasana. Tiba-tiba saja aku berharap aku tidak akan mengubahnya. Aku berharap Papa akan selalu ceria sekalipun setelah aku pergi nanti.

***

Setelah dari salon, kami—lebih tepatnya Papa—bergegas melajukan mobil menuju ke sebuah taman rekreasi. Hari Sabtu, dan taman rekreasi itu belum dikunjungi banyak orang. Jadi, kami tidak perlu lama-lama mengantre untuk menaiki wahana-wahana yang ada di sana.

Kami benar-benar menghabiskan waktu di sana. Kami menaiki beberapa wahana yang tidak memacu adrenalin. Sesungguhnya aku ingin mencoba menaiki satu saja wahana yang ’menantang’, tapi Papa melarangku. Untuk menghindari kemungkinan aku akan dibawa pulang secara paksa, aku pun menurut saja dan mengurungkan niatku.

Sekarang, dengan segulungan tebal gula kapas di tanganku, aku dan Papa menaiki kincir roda raksasa. Perlahan-lahan kami dibawa semakin jauh dari tanah, dan semakin jauh. Semua yang bertumpu pada bumi terlihat semakin kecil dan jauh. Kami semakin dekat dengan langit. Aku tidak tahu dengan Papa, tetapi aku merasa sebentar lagi aku akan benar-benar berada di langit.

”Bagaimana? Kau sudah puas?” tanya Papa, lalu menarik kedua sudut bibirnya ke atas.

”Ya.” Aku mengangguk. ”Puas sekali.”

”Senang?”

”Tentu saja.”

Papa mencomot gula kapasku, memakannya, lalu diam.

Kupalingkan wajahku ke arah jendela kaca kecil di samping kiriku. Sepertinya kami sudah berada di puncak. Aku bisa memandangi langit tanpa perlu mendongak. Aku sedang memperhatikan seekor burung yang tengah terbang saat Papa bersuara.

”Omong-omong, apa yang dikatakan Dokter Riko benar juga. Papa juga jarang mendengarmu mengeluh.”

Aku menoleh menatap Papa. ”Apa aku harus mengeluh?”

Papa mengangkat kedua bahunya. ”Entahlah. Papa hanya merasa kau boleh-boleh saja mengeluh.”

”Kenapa harus mengeluh?

”Kenapa tidak?” balas Papa.

Aku bersandar. Dengan nada merenung aku bertutur, ”Kadang, aku ingin menjadi seperti seekor burung yang bisa terbang bebas. Aku pikir pasti akan sangat menyenangkan kalau aku bisa terbang dan memandangi bumi dari atas. Semuanya akan terasa ringan dan tanpa beban.

Aku ingin dalam hidupku, semua yang terjadi adalah hal-hal yang menyenangkan. Namun, lalu aku sadar bahwa hidup tidak selalu diisi oleh hal-hal yang manis. Orang-orang bilang dalam hidup ada manis, ada pula pahit. Dan, aku merasa Tuhan memberikannya dalam porsi yang tepat. Jadi, untuk apa mengeluh?”

Papa tersenyum lebar sekali. Ia meraih puncak kepalaku, lalu menepuk-nepuk keningku pelan-pelan. Itu kebiasaan Papa. Satu kebiasaan yang aku rasa merupakan salah satu perwujudan rasa sayang.

Selepas itu, Papa tidak bersuara lagi. Sampai akhirnya ketika kami baru saja turun dari kincir roda raksasa, Papa bergumam, ”Papa menyayangimu.”

Aku menyahut, ”Aku tahu.”

Dan, Papa tersenyum lebar kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar