Hari Minggu lagi...
Kami tengah menyantap sarapan di ruang makan. Mama membuatkan kami semangkuk besar nasi
goreng. Aku makan banyak. Rasanya sungguh nikmat. Kurasakan perutku mulai
membuncit.
Seperti janji Mama, Mama
dan Papa pulang kemarin malam. Aku tidak tahu ketika mereka pulang karena aku
sudah tertidur lelap. Dan, pagi ini ketika aku hendak turun untuk minum, aku
melihat Mama tengah berkutat dengan spatula dan penggorengan di dapur. Saat aku
baru membuka mulutku—belum sempat bertanya apa-apa, Mama lebih dulu bersuara.
”Kami tiba kemarin malam.
Kau sudah tidur waktu itu,” katanya.
Aku mengangguk, lalu diam
saja. Kalau ingin dihubungkan, perkataan Mama sama sekali tidak ada hubungannya
dengan pertanyaan yang ingin aku lontarkan. Sebenarnya waktu itu aku ingin
bertanya, ’Sedang apa?’.
”Hei, itu milikku!” seruku
tiba-tiba ketika Kak Desta dengan santainya meminum susu yang dibuatkan Mama
untukku.
”Maaf, Vin,” ucapnya tanpa nada penyesalan.
Wajahnya dibuat lugu tanpa dosa. Aku jadi sebal sendiri. ”Kopi Kakak habis,”
lanjutnya. Dagunya menunjuk cangkir di depannya.
Aku mendengus sebal. ”Aku
tidak mau tahu,” tegasku. ”Buatkan yang baru untukku. Sekarang.”
”Ah, tidak mau,” balasnya
enteng. Ia menunjuk-nunjuk gelasku yang baru ia letakkan. ”Minum saja yang itu.
Kan, masih ada setengahnya.”
Kupadangi gelas itu dengan
ekspresi jijik yang dibuat-buat. ”Aku tidak mau. Menjijikkan. Kakak, kan jarang menggosok gigi,”
ucapku datar.
Mata Kak Desta membulat
menatapku. Ia kelihatan tidak
terima. Tentu saja. ”Coba ulangi lagi. Siapa yang kaubilang jarang menggosok gigi?” tanyanya geram.
”Kakak,” sahutku tenang.
Sekonyong-konyong Kak
Desta mencubit pipi kiriku. ”Coba ulangi lagi,” mintanya tanpa melepas cubitannya.
Aku mengaduh kesakitan,
namun tidak ada pertolongan. Kulihat Papa sibuk dengan koran paginya, pura-pura
tidak melihat putra bungsunya yang sedang dianiaya padahal aku yakin ia
melihatnya, sedangkan Mama hanya menonton penganiayaan itu dengan tampang
aku-tidak-peduli. Benar-benar tega.
”Hei, katakan siapa yang
jarang menggosok gigi,” minta Kak Desta lagi. Cubitannya semakin erat.
”Kuakuak,” ucapku tidak jelas
karena pipiku tertarik.
”Siapa, hah?” Kak Desta menambah
kekuatan cubitannya.
”Aw, lepaskan! Sakit sekali.” Kupukuli tangan Kak
Desta, tapi pukulanku sepertinya hanya terasa seperti gelitikan baginya.
”Benarkah Kakak jarang
menggosok gigi?” tanya Kak Desta menuntut kepastian. Nada suaranya mengancam.
Aku menyerah. Daripada
pipiku yang kencang mengendur sebelum waktunya, lebih baik aku berkata, ”Tidak.
Bukan Kakak, tapi Papa.”
Kak Desta tersenyum penuh
kemenangan dan melepaskan cubitannya. Aku langsung menggosok-gosok pipiku yang
baru saja ditimpa musibah. Awas saja. Akan kubalas.
Kak Desta menjentikkan
jarinya dan mengangguk-angguk. ”Jawaban yang tepat. Papa memang jarang
menggosok gigi.” Itu hanya gurauan. Kenyataannya tidak seperti itu.
Papa sontak mengangkat
wajah dari koran paginya. ”Apa-apaan ini? Kenapa Papa dibawa-bawa?”
Aku dan Kak Desta tergelak
dalam tawa. Mama hanya mengulum senyum geli.
”Nah,” celetuk Mama,
”sebaiknya kalian berdua jelaskan kepada kami,” Mama menoleh menatap Papa
sejenak, kemudian menatap aku dan Kak Desta bergantian, ”apa yang terjadi
kepada kalian kemarin selama Mama dan Papa tidak ada di rumah.”
Aku dan Kak Desta saling pandang,
kemudian tersenyum penuh arti. Bersamaan, kami pun berkata, ”Rahasia.” Setelah itu kami tertawa.
***
”Ouh ya, Kak, bagaimana
pertandingan semalam? Sekolah
Kakak menang?” tanyaku setelah mengempaskan diri ke atas ranjang milik Kak
Desta. Karena bosan—tidak ada yang menarik untuk dikerjakan, aku memutuskan
untuk bertandang ke kamarnya.
Karena Kak Desta tidak
segera menjawab, aku berujar lagi, ”Omong-omong, Kakak belum mengganti bed cover, ya?”
Mama mengajarkan kami untuk
mengganti bed cover seminggu sekali.
Untuk alasan kebersihan yang berujung pada alasan kesehatan, katanya.
”Belum,” jawab Kak Desta tanpa
malu-malu. Ia terlihat sibuk membongkar isi lemarinya, entah untuk apa.
”Pantas saja,” kataku,
lalu menutup hidung dan mulut dengan sebelah tangan. Sambil mengangkat tubuh
untuk duduk, aku menambahkan, ”Bau sekali.”
Kak Desta mencibir dan
menggerutu tidak jelas. Ia berjalan ke arah televisi, menyambar pengharum
ruangan yang terletak di sebelah televisi, lalu menyemprotkannya asal-asalan.
”Tidak bau lagi, kan?
Puas, adikku tersayang?” tanyanya tidak tulus. Ia berdecak kecil. Aku terkekeh.
Kak Desta menghampiri lemari dan sibuk kembali. ”Kau menanyakan apa tadi?”
tanyanya di sela-sela kesibukkannya.
”Kakak belum
mengganti bed cover, ya?” Kuulangi pertanyaanku beberapa saat lalu.
Kak Desta berdecak keras-keras. ”Sebelum itu,”
katanya tidak sabar sambil mengeluarkan beberapa baju dari dalam lemarinya.
”Ouh...”Aku
manggut-manggut. ”Pertandingan semalam bagaimana?”
Kak Desta tidak langsung
menjawab. Ia memperhatikan baju-baju yang tengah ia pegang, memiringkan
kepalanya sedikit, lalu menggeleng. Dijatuhkannya baju-baju itu begitu saja ke
atas lantai. Setelah itu, barulah ia menjawab, ”Tim sekolah Kakak menang,”
beritahunya, terdengar biasa-biasa saja. ”Tanpa Kakak, mereka bisa memenangkan
pertandingan. Keajaiban, bukan?”
”Berlebihan,” timpalku
malas. ”Memangnya Kakak itu siapa?”
Kak Desta berbalik
menatapku. Ia tersenyum miring, pongah. ”Kau tidak tahu siapa kakakmu ini?
Kakakmu ini pemain basket terhebat di sekolah. Itu sebabnya Kakak diangkat
menjadi kapten tim.”
”Tidak sehebat yang Kakak
katakan, pastinya,” ucapku datar. ”Lagi pula, tidak semua pemimpin—kapten dalam
hal ini—diangkat karena mereka hebat. Malah menurutku lebih baik pemimpin itu
diangkat karena kebijaksanaannya.”
”Benar juga,” celetuk Kak
Desta, tetapi kemudian ia tertegun. ”Tunggu dulu. Jadi, maksudmu Kakak tidak
bijaksana?” tanyanya sambil mendelik ke arahku.
Aku mengangkat bahu. ”Aku
tidak bilang begitu. Kakak sendiri yang bilang.”
Kak Desta menggeram.
”Dasar licik.”
Aku tidak bisa menahan
diri untuk tidak tertawa lepas. ”Berbicara soal keajaiban, Kakak percaya kalau
keajaiban itu ada?”
Kak Desta termenung
sebentar. ”Kakak tidak bisa membuktikan kalau keajaiban itu ada. Kakak juga tidak
bisa membuktikan kalau dia tidak ada. Yang ada hanyalah keyakinan. Dan,
keyakinan Kakak mengatakan kalau keajaiban itu ada.”
”Dari mana Kakak dapatkan kata-kata sebijaksana
itu? Kita sudah tinggal di bawah satu atap bahkan sejak sebelum aku lahir, dan
aku tahu Kakak tidak sebijaksana itu,” tuturku sambil menyipitkan mata, menatap
Kak Desta penuh selidik.
Kak Desta mendesis. Ia
melemparkan raut muka penuh kekesalan. ”Sepertinya di matamu, kakakmu ini tidak
ada sisi baiknya sama sekali.”
Seperti ada puluhan jari
yang menggelitik pinggangku, memecahkan tawaku. Setelah itu aku termenung
sendiri dalam diam. Termenung menembus ruang dan entah berakhir di mana.
”Adakah keajaiban untukku?” tanyaku tiba-tiba.
”Apa?”
Dengan nada menerawang, aku
mulai bertutur, ”Jika keajaiban itu ada, Tuhan pasti menciptakannya dalam
jumlah yang tidak sedikit, kan? Lantas, di antara banyak keajaiban itu, adakah
yang Tuhan ciptakan untukku? Satu saja. Aku ingin merasakannya.”
Sesudah mendengarkanku,
kulihat Kak Desta berjalan menghampiri gitarnya, meraih dan memangkunya, lalu
mulai memetiknya. Tidak lama kemudian, suara Kak Desta pun menyebar
memenuhi setiap sudut ruangan. Ia
bernyanyi, penuh ketenangan.
There can be miracle when you believe
Though hope is frail it’s hard to kill
Who knows what miracle you can achieve?
When you believe somehow you will
You will when you believe
Selesai bernyanyi, Kak
Desta menghampiriku. Ia tersenyum lembut kepadaku, lalu berkata, ”Keajaiban bisa
kautemukan di mana saja bahkan di tempat yang tidak pernah kaupikirkan asalkan
kau tetap percaya bahwa keajaiban itu ada.”
Aku menyunggingkan senyum,
kemudian mengangguk. ”Aku memercayainya. Akan dan selalu.”
Karena tidak ingin suasana
semakin kelabu, aku buru-buru mengganti topik. ”Way by, untuk apa Kakak mengeluarkan baju seperti itu?”
”Oh, itu... Heumh... Kakak
ada janji dengan teman,” katanya. Ia menggaruk-garuk belakang kepalanya dan
tersenyum penuh arti.
Aku mengerutkan kening
sambil memperhatikan Kak Desta. Nah, tunggu dulu... Memilih baju, janji dengan
teman, senyuman itu... Jangan-jangan...
”Teman Kakak itu seorang
perempuan, ya?”
”Eh, apa? Ah, itu bukan
urusanmu,” jawabnya tergagap-gagap.
”Ah, sepertinya dia memang
seorang perempuan,” simpulku sendiri sambil mengetuk-ngetuk dagu dengan jari
telunjuk. ”Dia itu teman atau ’teman’?” tanyaku menggoda Kak Desta. Aku menaikturunkan
alisku dengan nakal.
Kak Desta tidak menjawab.
Ia kelihatan salah tingkah. Rona merah mulai menggelayuti wajahnya yang putih
bersih.
”Ayo, mengaku saja. Dia
itu teman atau ’teman’?” aku menggodanya lagi, kali ini sambil
menyenggol-nyenggol bahunya.
Wajahnya semakin merah. Kak Desta terlihat sangat
lucu dalam keadaan malu-malu seperti itu. Aku sampai ingin tertawa melihatnya,
namun sekuat tenaga aku menahan diri. Mulutnya memang tidak menjawab, namun
mata dan tingkahnya sudah menjawab semuanya.
”Sepertinya kakakku ini sedang jatuh cinta,” aku
menerka dengan nada yang masih menggoda.
”Dasar bocah ingusan. Tahu
apa kau tentang cinta?” tukasnya, lalu memaksaku berdiri. ”Sudah sana keluar.
Jangan ganggu Kakak. Kakak sibuk,” ujarnya seraya mendorongku ke arah pintu.
”Sibuk bersiap-siap untuk
pacaran,” timpalku, lalu tertawa. ”Kakak sedang jatuh cinta. Iya, kan? Sudah
akui saja. Asyik... Sebentar lagi aku akan punya kakak ipar,” seruku penuh
semangat. Aku tertawa kembali. Kali ini lebih keras.
”Dasar sinting!” sela Kak
Desta. Ia membukakan pintu, kemudian berkata, ”Silakan keluar, bocah ingusan.”
***
Setelah diusir oleh Kak
Desta, aku masuk ke kamarku sendiri. Aku berderap menghampiri meja belajar. Kuraih
buku dan bolpoin, lalu mulai menulis.
Aku tidak tahu apakah keajaiban itu benar-benar ada atau
tidak. Aku juga tidak tahu apakah keajaiban itu sungguh-sungguh kuat atau
keajaiban yang sering diperjuangkan itu hanyalah serentetan kata penghibur
tanpa kekuatan apa pun. Akan tetapi, aku mau memercayainya. Aku mau memercayai
kalau keajaiban itu ada. Dengan begitu, aku tidak akan bosan untuk terus
berharap.
Karena menurutku, keajaiban adalah hal luar biasa yang Tuhan ciptakan agar manusia selalu punya alasan untuk berharap.
Karena menurutku, keajaiban adalah hal luar biasa yang Tuhan ciptakan agar manusia selalu punya alasan untuk berharap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar