Senin, 21 Januari 2013

Catatan #14: Keajaiban


Hari Minggu lagi...

Kami tengah menyantap sarapan di ruang makan. Mama membuatkan kami semangkuk besar nasi goreng. Aku makan banyak. Rasanya sungguh nikmat. Kurasakan perutku mulai membuncit.

Seperti janji Mama, Mama dan Papa pulang kemarin malam. Aku tidak tahu ketika mereka pulang karena aku sudah tertidur lelap. Dan, pagi ini ketika aku hendak turun untuk minum, aku melihat Mama tengah berkutat dengan spatula dan penggorengan di dapur. Saat aku baru membuka mulutku—belum sempat bertanya apa-apa, Mama lebih dulu bersuara.

”Kami tiba kemarin malam. Kau sudah tidur waktu itu,” katanya.

Aku mengangguk, lalu diam saja. Kalau ingin dihubungkan, perkataan Mama sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanyaan yang ingin aku lontarkan. Sebenarnya waktu itu aku ingin bertanya, ’Sedang apa?’.

”Hei, itu milikku!” seruku tiba-tiba ketika Kak Desta dengan santainya meminum susu yang dibuatkan Mama untukku.

”Maaf, Vin,” ucapnya tanpa nada penyesalan. Wajahnya dibuat lugu tanpa dosa. Aku jadi sebal sendiri. ”Kopi Kakak habis,” lanjutnya. Dagunya menunjuk cangkir di depannya.

Aku mendengus sebal. ”Aku tidak mau tahu,” tegasku. ”Buatkan yang baru untukku. Sekarang.”

”Ah, tidak mau,” balasnya enteng. Ia menunjuk-nunjuk gelasku yang baru ia letakkan. ”Minum saja yang itu. Kan, masih ada setengahnya.”

Kupadangi gelas itu dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat. ”Aku tidak mau. Menjijikkan. Kakak, kan jarang menggosok gigi,” ucapku datar.

Mata Kak Desta membulat menatapku. Ia kelihatan tidak terima. Tentu saja. ”Coba ulangi lagi. Siapa yang kaubilang jarang menggosok gigi?” tanyanya geram.

”Kakak,” sahutku tenang.

Sekonyong-konyong Kak Desta mencubit pipi kiriku. ”Coba ulangi lagi,” mintanya tanpa melepas cubitannya.

Aku mengaduh kesakitan, namun tidak ada pertolongan. Kulihat Papa sibuk dengan koran paginya, pura-pura tidak melihat putra bungsunya yang sedang dianiaya padahal aku yakin ia melihatnya, sedangkan Mama hanya menonton penganiayaan itu dengan tampang aku-tidak-peduli. Benar-benar tega.

”Hei, katakan siapa yang jarang menggosok gigi,” minta Kak Desta lagi. Cubitannya semakin erat.

”Kuakuak,” ucapku tidak jelas karena pipiku tertarik.

”Siapa, hah?” Kak Desta menambah kekuatan cubitannya.

”Aw, lepaskan! Sakit sekali.” Kupukuli tangan Kak Desta, tapi pukulanku sepertinya hanya terasa seperti gelitikan baginya.

”Benarkah Kakak jarang menggosok gigi?” tanya Kak Desta menuntut kepastian. Nada suaranya mengancam.

Aku menyerah. Daripada pipiku yang kencang mengendur sebelum waktunya, lebih baik aku berkata, ”Tidak. Bukan Kakak, tapi Papa.”

Kak Desta tersenyum penuh kemenangan dan melepaskan cubitannya. Aku langsung menggosok-gosok pipiku yang baru saja ditimpa musibah. Awas saja. Akan kubalas.

Kak Desta menjentikkan jarinya dan mengangguk-angguk. ”Jawaban yang tepat. Papa memang jarang menggosok gigi.” Itu hanya gurauan. Kenyataannya tidak seperti itu.

Papa sontak mengangkat wajah dari koran paginya. ”Apa-apaan ini? Kenapa Papa dibawa-bawa?”

Aku dan Kak Desta tergelak dalam tawa. Mama hanya mengulum senyum geli.

”Nah,” celetuk Mama, ”sebaiknya kalian berdua jelaskan kepada kami,” Mama menoleh menatap Papa sejenak, kemudian menatap aku dan Kak Desta bergantian, ”apa yang terjadi kepada kalian kemarin selama Mama dan Papa tidak ada di rumah.”

Aku dan Kak Desta saling pandang, kemudian tersenyum penuh arti. Bersamaan, kami pun berkata, ”Rahasia.” Setelah itu kami tertawa.

***

 ”Ouh ya, Kak, bagaimana pertandingan semalam? Sekolah Kakak menang?” tanyaku setelah mengempaskan diri ke atas ranjang milik Kak Desta. Karena bosan—tidak ada yang menarik untuk dikerjakan, aku memutuskan untuk bertandang ke kamarnya.

Karena Kak Desta tidak segera menjawab, aku berujar lagi, ”Omong-omong, Kakak belum mengganti bed cover, ya?”

Mama mengajarkan kami untuk mengganti bed cover seminggu sekali. Untuk alasan kebersihan yang berujung pada alasan kesehatan, katanya.

”Belum,” jawab Kak Desta tanpa malu-malu. Ia terlihat sibuk membongkar isi lemarinya, entah untuk apa.

”Pantas saja,” kataku, lalu menutup hidung dan mulut dengan sebelah tangan. Sambil mengangkat tubuh untuk duduk, aku menambahkan, ”Bau sekali.”

Kak Desta mencibir dan menggerutu tidak jelas. Ia berjalan ke arah televisi, menyambar pengharum ruangan yang terletak di sebelah televisi, lalu menyemprotkannya asal-asalan.

”Tidak bau lagi, kan? Puas, adikku tersayang?” tanyanya tidak tulus. Ia berdecak kecil. Aku terkekeh. Kak Desta menghampiri lemari dan sibuk kembali. ”Kau menanyakan apa tadi?” tanyanya di sela-sela kesibukkannya.

”Kakak belum mengganti bed cover, ya?” Kuulangi pertanyaanku beberapa saat lalu.

Kak Desta berdecak keras-keras. ”Sebelum itu,” katanya tidak sabar sambil mengeluarkan beberapa baju dari dalam lemarinya.

”Ouh...”Aku manggut-manggut. ”Pertandingan semalam bagaimana?”

Kak Desta tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan baju-baju yang tengah ia pegang, memiringkan kepalanya sedikit, lalu menggeleng. Dijatuhkannya baju-baju itu begitu saja ke atas lantai. Setelah itu, barulah ia menjawab, ”Tim sekolah Kakak menang,” beritahunya, terdengar biasa-biasa saja. ”Tanpa Kakak, mereka bisa memenangkan pertandingan. Keajaiban, bukan?”

”Berlebihan,” timpalku malas. ”Memangnya Kakak itu siapa?”

Kak Desta berbalik menatapku. Ia tersenyum miring, pongah. ”Kau tidak tahu siapa kakakmu ini? Kakakmu ini pemain basket terhebat di sekolah. Itu sebabnya Kakak diangkat menjadi kapten tim.”

”Tidak sehebat yang Kakak katakan, pastinya,” ucapku datar. ”Lagi pula, tidak semua pemimpin—kapten dalam hal ini—diangkat karena mereka hebat. Malah menurutku lebih baik pemimpin itu diangkat karena kebijaksanaannya.”

”Benar juga,” celetuk Kak Desta, tetapi kemudian ia tertegun. ”Tunggu dulu. Jadi, maksudmu Kakak tidak bijaksana?” tanyanya sambil mendelik ke arahku.

Aku mengangkat bahu. ”Aku tidak bilang begitu. Kakak sendiri yang bilang.”

Kak Desta menggeram. ”Dasar licik.”

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa lepas. ”Berbicara soal keajaiban, Kakak percaya kalau keajaiban itu ada?”

Kak Desta termenung sebentar. ”Kakak tidak bisa membuktikan kalau keajaiban itu ada. Kakak juga tidak bisa membuktikan kalau dia tidak ada. Yang ada hanyalah keyakinan. Dan, keyakinan Kakak mengatakan kalau keajaiban itu ada.”

”Dari mana Kakak dapatkan kata-kata sebijaksana itu? Kita sudah tinggal di bawah satu atap bahkan sejak sebelum aku lahir, dan aku tahu Kakak tidak sebijaksana itu,” tuturku sambil menyipitkan mata, menatap Kak Desta penuh selidik.

Kak Desta mendesis. Ia melemparkan raut muka penuh kekesalan. ”Sepertinya di matamu, kakakmu ini tidak ada sisi baiknya sama sekali.”

Seperti ada puluhan jari yang menggelitik pinggangku, memecahkan tawaku. Setelah itu aku termenung sendiri dalam diam. Termenung menembus ruang dan entah berakhir di mana. ”Adakah keajaiban untukku?” tanyaku tiba-tiba.

”Apa?”
 
Dengan nada menerawang, aku mulai bertutur, ”Jika keajaiban itu ada, Tuhan pasti menciptakannya dalam jumlah yang tidak sedikit, kan? Lantas, di antara banyak keajaiban itu, adakah yang Tuhan ciptakan untukku? Satu saja. Aku ingin merasakannya.”

Sesudah mendengarkanku, kulihat Kak Desta berjalan menghampiri gitarnya, meraih dan memangkunya, lalu mulai memetiknya. Tidak lama kemudian, suara Kak Desta pun menyebar memenuhi  setiap sudut ruangan. Ia bernyanyi, penuh ketenangan.

There can be miracle when you believe
Though hope is frail it’s hard to kill
Who knows what miracle you can achieve?
When you believe somehow you will
You will when you believe

Selesai bernyanyi, Kak Desta menghampiriku. Ia tersenyum lembut kepadaku, lalu berkata, ”Keajaiban bisa kautemukan di mana saja bahkan di tempat yang tidak pernah kaupikirkan asalkan kau tetap percaya bahwa keajaiban itu ada.”

Aku menyunggingkan senyum, kemudian mengangguk. ”Aku memercayainya. Akan dan selalu.”

Karena tidak ingin suasana semakin kelabu, aku buru-buru mengganti topik. ”Way by, untuk apa Kakak mengeluarkan baju seperti itu?”

”Oh, itu... Heumh... Kakak ada janji dengan teman,” katanya. Ia menggaruk-garuk belakang kepalanya dan tersenyum penuh arti.

Aku mengerutkan kening sambil memperhatikan Kak Desta. Nah, tunggu dulu... Memilih baju, janji dengan teman, senyuman itu... Jangan-jangan...

”Teman Kakak itu seorang perempuan, ya?”

”Eh, apa? Ah, itu bukan urusanmu,” jawabnya tergagap-gagap.

”Ah, sepertinya dia memang seorang perempuan,” simpulku sendiri sambil mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuk. ”Dia itu teman atau ’teman’?” tanyaku menggoda Kak Desta. Aku menaikturunkan alisku dengan nakal.

Kak Desta tidak menjawab. Ia kelihatan salah tingkah. Rona merah mulai menggelayuti wajahnya yang putih bersih.

”Ayo, mengaku saja. Dia itu teman atau ’teman’?” aku menggodanya lagi, kali ini sambil menyenggol-nyenggol bahunya.

Wajahnya semakin merah. Kak Desta terlihat sangat lucu dalam keadaan malu-malu seperti itu. Aku sampai ingin tertawa melihatnya, namun sekuat tenaga aku menahan diri. Mulutnya memang tidak menjawab, namun mata dan tingkahnya sudah menjawab semuanya.

”Sepertinya kakakku ini sedang jatuh cinta,” aku menerka dengan nada yang masih menggoda.

”Dasar bocah ingusan. Tahu apa kau tentang cinta?” tukasnya, lalu memaksaku berdiri. ”Sudah sana keluar. Jangan ganggu Kakak. Kakak sibuk,” ujarnya seraya mendorongku ke arah pintu.

”Sibuk bersiap-siap untuk pacaran,” timpalku, lalu tertawa. ”Kakak sedang jatuh cinta. Iya, kan? Sudah akui saja. Asyik... Sebentar lagi aku akan punya kakak ipar,” seruku penuh semangat. Aku tertawa kembali. Kali ini lebih keras.

”Dasar sinting!” sela Kak Desta. Ia membukakan pintu, kemudian berkata, ”Silakan keluar, bocah ingusan.”

***

Setelah diusir oleh Kak Desta, aku masuk ke kamarku sendiri. Aku berderap menghampiri meja belajar. Kuraih buku dan bolpoin, lalu mulai menulis.

Aku tidak tahu apakah keajaiban itu benar-benar ada atau tidak. Aku juga tidak tahu apakah keajaiban itu sungguh-sungguh kuat atau keajaiban yang sering diperjuangkan itu hanyalah serentetan kata penghibur tanpa kekuatan apa pun. Akan tetapi, aku mau memercayainya. Aku mau memercayai kalau keajaiban itu ada. Dengan begitu, aku tidak akan bosan untuk terus berharap.

Karena menurutku, keajaiban adalah hal luar biasa yang Tuhan ciptakan agar manusia selalu punya alasan untuk berharap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar