Minggu, 20 Januari 2013

Catatan #13: Kehangatan yang Pulang



Aku mengempaskan tubuhku ke atas sofa di dekat tangga. Sepanjang hari ini aku benar-benar tidak bersemangat. Kutempelkan tanganku ke dahi, lalu mengembuskan napas panjang. Masih demam. Bahkan napas yang keluar dari hidungku juga terasa panas.

Pagi ini aku bangun dengan kondisi yang tidak begitu baik. Semua tulang-tulangku serasa melunak sampai-sampai untuk turun dari tempat tidur saja aku kesusahan.

Sebelum aku sempat berjalan keluar kamar, Mama lebih dulu menghampiri kamarku. Aku mengatakan kepadanya kalau aku merasa lemas, lalu Mama bilang aku demam. Mama kemudian mengukur suhu tubuhku. Karena suhu tubuhku tidak terlalu tinggi, aku menolak saat Mama mengajakku ke rumah sakit. Awalnya Mama bersikeras, namun setelah berulang kali aku menolak, Mama akhirnya menyerah meski bisa kulihat ia tidak benar-benar rela. Sesudah itu Mama menyuruhku untuk berbaring lagi dan bilang akan menghubungi Papa, namun aku bilang tidak usah.

Sampai matahari pulang ke gubuknya, aku hanya merasa sedikit membaik. Aku rasa demamku belum turun, tapi tubuhku sudah tidak selemas tadi pagi. Ya, setidaknya aku cukup kuat untuk menaikturuni tangga beberapa kali satu hari ini.

”Vin, sudah sembuh?”

Aku menengadah sedikit dan mendapati Mama sedang berdiri di dekatku. Keningku bergumal tipis saat mataku tertambat pada tangan kanannya. Tangan kanan Mama penuh busa sabun dan ada spons dalam genggamannya. Aku tidak mengerti apa maksudnya.

”Kalau Mama lupa, Mama baru menanyakan hal yang sama lima menit yang lalu, dan sekadar tambahan, ini yang kelima kalinya dalam 30 menit terakhir,” beritahuku dengan nada malas. ”Percayalah, Davin pasti sudah berlari ke sana ke mari sesaat setelah Davin sembuh,” imbuhku dengan nada yang masih sama.

Sebelum Mama sempat bersuara untuk membalas, aku segera bersuara kembali. ”Dan, kalau Mama tidak keberatan, bisakah Mama membilas tangan Mama lebih dulu? Lagi pula untuk apa membawa spons ke mari? Aku tidak merasa perlu dicuci.”

”Kau ini,” omel Mama. ”Lapar tidak?” tanyanya kemudian. ”Mau makan sesuatu? Tadi, kan kau hanya makan sedikit.”

Belum sempat aku menjawab, telepon di ruang sebelah berdering berisik.

”Lebih baik Mama jawab dulu telepon itu. Suaranya sungguh mengganggu.” Kututup kedua telingaku rapat-rapat. Terasa panas.

Mama mendesah dan cepat-cepat mengangguk. Ketika Mama baru saja akan melangkah menuju ruang keluarga, aku bersicepat berkata, ”Bilaslah dulu tangan Mama dan letakkan spons itu. Aku rasa telepon kita juga tidak perlu dicuci.”

Mama mendengus kecil. Mama tidak membalas, namun ia berbalik dan menarik langkah menuju dapur. Untuk sementara, telepon yang masih menjerit-jerit itu dinomorduakan.


Aku memejamkan mata dan menutup telingaku semakin rapat. Demi Tuhan! Entah kenapa deringan telepon itu terasa sangat mengganggu saat ini.

”Ma, bergegaslah!” aku berteriak.

”Astaga! Ke mana perginya laki-laki di rumah ini?” gerutu Mama dari balik dapur. ”Tunggu sebentar! Aku akan segera membuatmu berhenti berdering,” serunya.

Apa-apaan Mama ini? Mulai dari membawa spons yang tidak perlu ke mana-mana sampai berbicara kepada telepon. Aku rasa Mama sudah mulai tidak waras.

Beberapa detik kemudian, semuanya berubah tenang. Telepon pengganggu itu tidak lagi berdering. Sebagai gantinya, suara Mama sayup-sayup terdengar olehku.

”Hah, apa? Papa sakit?... Bagaimana keadaannya sekarang?... Aku akan segera ke Bandung malam ini... Ah, iya. Sudah larut malam... Baiklah. Aku berangkat besok subuh saja... Ya... Jaga Papa, ya, Kak... He-emh. Sampai jumpa.”

”Desta...” panggil Mama, setengah berteriak. Mataku tersentak terbuka karena terkejut.

”Ya,” sahut Kak Desta dari atas, setengah berteriak juga.

Tidak lama kemudian Kak Desta telah berada di ujung bawah tangga. Ia menatapku. Aku menggerakkan tangan kananku untuk menunjuk-nunjuk ruang keluarga. Ia mengangguk mengerti, namun tidak bergegas.

”Sudah baikan?” tanyanya.

”Sedikit.”

Ia mengangguk lagi, lalu melangkah ke ruang keluarga.

”Des, barusan Paman Eno menelepon,” beritahu Mama. Aku bisa mendengarnya walau samar-samar.

”Lalu?” Suara Kak Desta terdengar.

”Pamanmu itu memberi tahu Mama kalau penyakit jantung kakekmu kambuh.”

”Sungguh? Bagaimana keadaan Kakek sekarang?”

”Tidak dalam keadaan yang baik,” ujar Mama lesu. ”Mama akan pergi ke Bandung untuk mengunjungi kakekmu besok subuh. Sudah pasti Mama akan berangkat dengan Papa. Mama tidak akan membawa Davin. Kau tahu sendiri dia sedang sakit,” tutur Mama panjang-lebar. ”Jadi, Mama akan memercayakan Davin kepadamu besok. Kalau tidak ada hal yang gawat, Mama akan pulang malam itu juga.” Mama berhenti bertutur.

”Memercayakan? Maksudnya?”

Mama berdecak tidak sabar. ”Sudah jelas, kan? Kau harus menjaga  Davin seharian penuh besok.”

”Yang benar saja!” seru Kak Desta. ”Mama, kan tahu besok aku harus pergi ke sekolah. Ada pertandingan basket antarsekolah, dan itu pukul delapan pagi, Ma.”

”Kau, kan bisa tidak menghadiri pertandingan itu, Desta Alvaro,” kata Mama dengan nada gemas.

”Jelas tidak bisa,” tukas Kak Desta tegas. ”Aku itu kapten tim. Aku harus hadir.”

”Keharusan menjaga adikmu itu lebih besar daripada keharusan menghadiri pertandingan itu,” tekan Mama, terdengar tidak ingin dibantah lagi.

”Tapi...”

”Cukup, Desta!” potong Mama. Final.

”Kenapa?” tanya Kak Desta dengan suara rendah. ”Kenapa harus begini?” Suaranya mendadak meninggi.

Sepertinya Mama mencoba untuk tetap tenang karena Mama membalas dengan pelan-pelan. ”Desta, kalau Davin tidak sedang sakit, Mama pasti tidak akan merepotkanmu.”

Yang terjadi selanjutnya sungguh membuatku terguncang. Tiba-tiba saja suara Kak Desta dilahap emosi. ”Makanya suruh dia jangan sakit! Suruh dia cepat sembuh! Suruh dia sembuh!

Dadaku terasa sesak, begitu cepat dan mendadak. Napasku tersengal-sengal. Hatiku terasa nyeri dan sakit.

”Desta...”

”Aku benci dia! Suruh dia cepat sembuh! Aku akan membencinya kalau dia tidak sembuh!” rancau Kak Desta.

”Memangnya siapa yang ingin sakit?! Aku juga ingin sembuh! Aku ingin sembuh!” Aku berteriak marah. Dadaku naik-turun dengan cepat.

Entah dari mana datangnya, tahu-tahu Papa sudah berdiri di depanku, menghalangiku yang hendak berlari ke atas.

”Ada apa ini? Kenapa teriak-teriak seperti itu?” tanya Papa keheranan.

Aku tidak menjawab. Aku menunduk memandangi lantai. Air mataku mulai mengintip dari sudut mata. Ketika Papa mengangkat daguku, air mataku menetes ke jarinya.

”Astaga! Kau kenapa? Kenapa menangis?” tanya Papa cemas.

 Aku mengabaikan Papa dan segera berlari. Air mataku menetes lagi, terlepas ke udara. Aku pasti salah dengar saat lamat-lamat aku mendengar Mama bertanya, ”Desta, kenapa kau menangis?”

***

Aku bangun dari tidurku dengan kepala yang sedikit pusing. Dengan mata yang menyipit aku melirik jam dinding. Sudah nyaris pukul delapan. Kubuang pandanganku ke arah jendela dan menguap lepas. Aku menyentuh kening dan bernapas lega. Tidak demam lagi.

Sementara aku masih betah berbaring, potongan-potongan kejadian kemarin malam berebut menyesaki kepalaku. Rasa sesak seperti semalam dengan cepat kembali mendera dadaku. Karena tidak tahan, aku menggeleng kuat-kuat. Aku tidak ingin mengingatnya. Aku benci mengingatnya.

Aku berdeham. Tenggorokanku terasa kering. Aku bersicepat turun dari ranjang dan keluar kamar.

Tepat di ujung bawah tangga, aku mematung. Samar-samar terdengar suara dari... televisi? Televisi sedang menyala? Siapa yang menyalakannya? Papa dan Mama sudah berangkat tadi subuh. Aku tahu karena subuh tadi Mama mendatangi kamarku. Mama sempat berbicara kepadaku, namun tidak banyak yang kuingat karena aku masih setengah sadar. Sedikit yang aku ingat, Mama berpamitan, lalu mengecup keningku sebelum meninggalkan kamar.

Kalau bukan Mama dan Papa, mungkinkah Kak Desta yang menyalakan televisi? Akan tetapi, bukankah ini sudah hampir pukul delapan dan Kak Desta berniat menghadiri pertandingan basket yang ia bicarakan semalam? Jadi, kalau bukan Mama, Papa dan Kak Desta, siapa gerangan ynag menyalakan televisi?

Didorong rasa penasaran, aku menarik langkah menuju ruang keluarga alih-alih dapur. Aku membeku saat mendapati siapa yang tengah duduk di depan televisi. Mataku membelalak tidak percaya. Kak Desta? Mataku sendiri hampir tidak mempercayai apa yang ia lihat, namun aku benar-benar melihatnya. Begitu nyata. Dengan piyama yang masih melekat di tubuhnya Kak Desta duduk dengan kedua kaki yang ia silangkan di atas sofa.

Kak Desta menoleh menatapku. ”Apa yang sedang kaulakukan di sana? Kenapa menatapku dengan mata terbelalak seperti itu? Seperti melihat hantu saja.”

”Aku... Aku...” aku tergagap-gagap. Mengingat kejadian semalam, tiba-tiba aku merasa canggung berhadapan dengan Kak Desta. Lebih canggung daripada biasanya. Kenapa canggung, ya? Seharusnya, kan aku merasa marah kepadanya. Akan tetapi, kenapa aku mendapati diriku sama sekali tidak marah kepadanya? Ke mana perginya rasa marah yang sempat aku rasakan semalam? Ah, mungkin memang benar kalau kita sulit marah lama-lama kepada orang yang kita sayangi.

”Aku apa? Sejak kapan kau gagap?”

”Kakak... Kakak kenapa masih di sini? Kenapa belum bersiap-siap?”

”Bersiap-siap?” Ia mengangkat alis kanannya. ”Bersiap-siap untuk apa?”

”Bukannya ada pertandingan basket hari ini?”

”Oh, yang itu,” Kak Desta mengangguk-angguk, ”Aku tidak jadi pergi.”

Aku mengernyitkan dahi. ”Kenapa?”

Kak Desta mendesah. ”Mama akan membunuhku kalau aku berani pergi.”

Bukan hanya itu. Aku tahu alasannya tidak hanya itu. Ada yang lain. Tertangkap dari matanya.

”Hanya itu?”

”Apanya?”

”Hanya itu alasannya?” aku memancing.

”Ya.”

”Bohong,” seruku. ”Aku tahu ada alasan lain.”

”Kau ini...” gerutu Kak Desta. Ia menarik napas, lalu membuangnya pelan-pelan. ”Karena aku juga akan membunuh diriku sendiri jika aku berani pergi dan meninggalkan adikku sendirian di rumah.”

Itu lebih dari cukup. Aku puas dan senang hanya dengan mendengar pengakuan itu. Bahagia itu sederhana saja, bukan? Aku tersenyum. Sementara rasa hangat menyusupi tubuhku pelan-pelan, aku bergumam, ”Terima kasih...”

”Bagaimana keadaanmu?”

”Jauh lebih baik. Aku tidak demam lagi. Hanya sedikit pusing,” jawabku. Kecanggungan yang tadi sempat membeku kini mencair dengan malu-malu.

Kak Desta menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya. ”Kemarilah. Kau tidak lelah berdiri terus?”

Patuh, aku berjalan dan duduk di samping Kak Desta. Ia menyambutku dengan menempelkan punggung tangannya ke keningku.

”Benar,” gumamnya, ”sudah tidak demam lagi.” Ia menarik tangannya.

”Memangnya tadi aku kelihatan sedang berbohong?” tanyaku jengkel.

”Dengan wajah sepolos itu, sulit mengetahui kau tengah berbohong atau tidak. Jadi, jalan terbaik adalah memastikannya dengan tanganku sendiri.”

Aku menggerutu tidak jelas sampai Kak Desta bersuara dalam nada rendah.

”Maaf.”

”Untuk kejadian kemarin malam?”

”Untuk semuanya,” timpalnya lirih.

”Aku tidak mengerti,” kataku.

”Dulu, ketika adiknya divonis menderita kanker otak, seorang kakak merasa hidup itu benar-benar tidak adil. Dia merasa marah kepada semua yang menimpa adiknya. Dia terus bertanya kenapa harus adiknya, namun tidak sedikit pun jawaban ia temukan.

Saat itu, sepertinya keegoisan telah membuat dirinya menjadi orang yang tolol. Dia bukannya berusaha menopang adiknya. Di saat adiknya sangat membutuhkan dorongan dan semangat darinya, dia malah memutuskan untuk menjauhi adiknya untuk satu alasan yang tidak kalah tololnya. Agar ketika adiknya pergi, dia tidak perlu merasakan sakitnya kehilangan.  Dia benar-benar egois. Hanya memikirkan dirinya sendiri sampai-sampai dia tidak sadar bahwa apa yang dia lakukan telah melukai adiknya sendiri.

Demi Tuhan! Setelah semua itu, bagaimana dia bisa disebut sebagai seorang kakak lagi?”

Aku mengerti—sangat mengerti—apa yang diceritakan Kak Desta. ”Selamanya, di mata adiknya, dia tetaplah seorang kakak. Lebih dari apa pun,” ucapku sungguh-sungguh.

Kak Desta memelukku. Aku merasakan ada sesuatu yang basah yang menetes ke atas kepalaku. Aku tidak tahu apa itu, tidak berniat mencari tahu. Bukankah ada saatnya di mana sesuatu sebaiknya dibiarkan tanpa perlu dicari tahu?

”Kakak menyayangimu,” Kak Desta berbisik parau.

Dan, saat itulah semua kebekuan melebur dan semua keasingan terusir pergi. Kehangatan telah pulang kembali. Tepat waktu. Tidak terlambat. Takkan terlambat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar