Aku mengempaskan tubuhku ke atas sofa di dekat
tangga. Sepanjang hari ini aku benar-benar tidak bersemangat. Kutempelkan tanganku ke dahi, lalu mengembuskan napas panjang. Masih demam. Bahkan
napas yang keluar dari hidungku juga terasa panas.
Pagi
ini aku bangun dengan kondisi yang tidak begitu baik. Semua tulang-tulangku serasa melunak sampai-sampai
untuk turun dari tempat tidur saja aku kesusahan.
Sebelum
aku sempat berjalan keluar kamar, Mama lebih dulu menghampiri kamarku. Aku
mengatakan kepadanya kalau aku merasa lemas, lalu Mama bilang aku demam. Mama
kemudian mengukur suhu tubuhku. Karena suhu tubuhku tidak terlalu tinggi, aku
menolak saat Mama mengajakku ke rumah sakit. Awalnya Mama bersikeras, namun
setelah berulang kali aku menolak, Mama akhirnya menyerah meski bisa kulihat ia
tidak benar-benar rela. Sesudah
itu Mama menyuruhku untuk berbaring lagi dan bilang akan menghubungi Papa,
namun aku bilang tidak usah.
Sampai
matahari pulang ke gubuknya, aku hanya merasa sedikit membaik. Aku rasa demamku
belum turun, tapi tubuhku sudah tidak selemas tadi pagi. Ya, setidaknya aku
cukup kuat untuk menaikturuni tangga beberapa kali satu hari ini.
”Vin,
sudah sembuh?”
Aku
menengadah sedikit dan mendapati Mama sedang berdiri di dekatku. Keningku
bergumal tipis saat mataku tertambat pada tangan kanannya. Tangan kanan Mama
penuh busa sabun dan ada spons dalam genggamannya. Aku tidak mengerti apa
maksudnya.
”Kalau
Mama lupa, Mama baru menanyakan hal yang sama lima menit yang lalu, dan sekadar
tambahan, ini yang kelima kalinya dalam 30 menit terakhir,” beritahuku dengan
nada malas. ”Percayalah, Davin pasti sudah berlari ke sana ke mari sesaat
setelah Davin sembuh,” imbuhku dengan nada yang masih sama.
Sebelum
Mama sempat bersuara untuk membalas, aku segera bersuara kembali. ”Dan, kalau
Mama tidak keberatan, bisakah Mama membilas tangan Mama lebih dulu? Lagi pula
untuk apa membawa spons ke mari? Aku tidak merasa perlu dicuci.”
”Kau
ini,” omel Mama. ”Lapar tidak?” tanyanya kemudian. ”Mau makan sesuatu? Tadi,
kan kau hanya makan sedikit.”
Belum
sempat aku menjawab, telepon di ruang sebelah berdering berisik.
”Lebih
baik Mama jawab dulu telepon itu. Suaranya sungguh mengganggu.” Kututup kedua
telingaku rapat-rapat. Terasa panas.
Mama
mendesah dan cepat-cepat mengangguk. Ketika Mama baru saja akan melangkah
menuju ruang keluarga, aku bersicepat berkata, ”Bilaslah dulu tangan Mama dan
letakkan spons itu. Aku rasa telepon kita juga tidak perlu dicuci.”
Mama
mendengus kecil. Mama tidak membalas, namun ia berbalik dan menarik langkah
menuju dapur. Untuk sementara, telepon yang masih menjerit-jerit itu
dinomorduakan.
Aku
memejamkan mata dan menutup
telingaku semakin rapat. Demi Tuhan! Entah kenapa deringan telepon itu terasa
sangat mengganggu saat ini.
”Ma, bergegaslah!” aku berteriak.
”Astaga!
Ke mana perginya laki-laki di rumah ini?” gerutu Mama dari balik dapur. ”Tunggu
sebentar! Aku akan segera membuatmu berhenti berdering,” serunya.
Apa-apaan
Mama ini? Mulai dari membawa spons yang tidak perlu ke mana-mana sampai berbicara
kepada telepon. Aku rasa Mama sudah mulai tidak waras.
Beberapa
detik kemudian, semuanya berubah tenang. Telepon pengganggu itu tidak lagi
berdering. Sebagai gantinya, suara Mama sayup-sayup terdengar olehku.
”Hah,
apa? Papa sakit?... Bagaimana keadaannya sekarang?... Aku akan segera ke
Bandung malam ini... Ah, iya. Sudah larut malam... Baiklah. Aku berangkat besok
subuh saja... Ya... Jaga Papa, ya, Kak... He-emh. Sampai jumpa.”
”Desta...”
panggil Mama, setengah berteriak. Mataku tersentak terbuka karena terkejut.
”Ya,”
sahut Kak Desta dari atas, setengah berteriak juga.
Tidak
lama kemudian Kak Desta telah berada di ujung bawah tangga. Ia menatapku. Aku
menggerakkan tangan kananku untuk menunjuk-nunjuk ruang keluarga. Ia mengangguk
mengerti, namun tidak bergegas.
”Sudah
baikan?” tanyanya.
”Sedikit.”
Ia
mengangguk lagi, lalu melangkah ke ruang keluarga.
”Des,
barusan Paman Eno menelepon,” beritahu Mama. Aku bisa mendengarnya walau
samar-samar.
”Lalu?”
Suara Kak Desta terdengar.
”Pamanmu
itu memberi tahu Mama kalau penyakit jantung kakekmu kambuh.”
”Sungguh? Bagaimana keadaan Kakek
sekarang?”
”Tidak
dalam keadaan yang baik,” ujar Mama lesu. ”Mama akan pergi ke Bandung untuk
mengunjungi kakekmu besok subuh. Sudah pasti Mama akan berangkat dengan Papa. Mama tidak akan membawa Davin.
Kau tahu sendiri dia sedang sakit,” tutur Mama panjang-lebar. ”Jadi, Mama akan
memercayakan Davin kepadamu besok. Kalau tidak ada hal yang gawat, Mama akan
pulang malam itu juga.” Mama berhenti bertutur.
”Memercayakan?
Maksudnya?”
Mama
berdecak tidak sabar. ”Sudah jelas, kan? Kau harus menjaga Davin seharian penuh besok.”
”Yang
benar saja!” seru Kak Desta. ”Mama, kan tahu besok aku harus pergi ke sekolah.
Ada pertandingan basket antarsekolah, dan itu pukul delapan pagi, Ma.”
”Kau,
kan bisa tidak menghadiri pertandingan itu, Desta Alvaro,” kata Mama dengan
nada gemas.
”Jelas
tidak bisa,” tukas Kak Desta tegas. ”Aku itu kapten tim. Aku harus hadir.”
”Keharusan
menjaga adikmu itu lebih besar daripada keharusan menghadiri pertandingan itu,”
tekan Mama, terdengar tidak ingin dibantah lagi.
”Tapi...”
”Cukup,
Desta!” potong Mama. Final.
”Kenapa?”
tanya Kak Desta dengan suara rendah. ”Kenapa harus begini?” Suaranya mendadak
meninggi.
Sepertinya
Mama mencoba untuk tetap tenang karena Mama membalas dengan pelan-pelan.
”Desta, kalau Davin tidak sedang sakit, Mama pasti tidak akan merepotkanmu.”
Yang
terjadi selanjutnya sungguh membuatku terguncang. Tiba-tiba saja suara Kak
Desta dilahap emosi. ”Makanya suruh dia jangan sakit! Suruh dia cepat sembuh! Suruh dia sembuh!”
Dadaku
terasa sesak, begitu cepat dan mendadak. Napasku tersengal-sengal. Hatiku
terasa nyeri dan sakit.
”Desta...”
”Aku
benci dia! Suruh dia cepat sembuh! Aku akan membencinya kalau dia tidak
sembuh!” rancau Kak Desta.
”Memangnya
siapa yang ingin sakit?! Aku juga ingin sembuh! Aku ingin sembuh!” Aku berteriak marah. Dadaku naik-turun
dengan cepat.
Entah
dari mana datangnya, tahu-tahu Papa sudah berdiri di depanku, menghalangiku
yang hendak berlari ke atas.
”Ada
apa ini? Kenapa teriak-teriak seperti itu?” tanya Papa keheranan.
Aku tidak menjawab. Aku menunduk memandangi
lantai. Air mataku mulai
mengintip dari sudut mata. Ketika Papa mengangkat daguku, air mataku menetes ke
jarinya.
”Astaga!
Kau kenapa? Kenapa menangis?” tanya Papa cemas.
Aku mengabaikan Papa dan segera berlari.
Air mataku menetes lagi, terlepas ke udara. Aku pasti salah dengar saat
lamat-lamat aku mendengar Mama bertanya, ”Desta, kenapa kau menangis?”
***
Aku
bangun dari tidurku dengan kepala yang sedikit pusing. Dengan mata yang
menyipit aku melirik jam dinding. Sudah nyaris pukul delapan. Kubuang
pandanganku ke arah jendela dan menguap lepas. Aku menyentuh kening dan
bernapas lega. Tidak demam lagi.
Sementara
aku masih betah berbaring, potongan-potongan kejadian kemarin malam berebut menyesaki
kepalaku. Rasa sesak seperti semalam dengan cepat kembali mendera dadaku.
Karena tidak tahan, aku menggeleng kuat-kuat. Aku tidak ingin mengingatnya. Aku
benci mengingatnya.
Aku
berdeham. Tenggorokanku terasa kering. Aku bersicepat turun dari ranjang dan keluar kamar.
Tepat di ujung bawah tangga, aku mematung.
Samar-samar terdengar suara dari... televisi? Televisi sedang menyala? Siapa
yang menyalakannya? Papa dan Mama sudah berangkat tadi subuh. Aku tahu karena
subuh tadi Mama mendatangi kamarku. Mama sempat berbicara kepadaku, namun tidak
banyak yang kuingat karena aku masih setengah sadar. Sedikit yang aku ingat,
Mama berpamitan, lalu mengecup keningku sebelum meninggalkan kamar.
Kalau
bukan Mama dan Papa, mungkinkah Kak Desta yang menyalakan televisi? Akan
tetapi, bukankah ini sudah hampir pukul delapan dan Kak Desta berniat
menghadiri pertandingan basket yang ia bicarakan semalam? Jadi, kalau bukan
Mama, Papa dan Kak Desta, siapa gerangan ynag menyalakan televisi?
Didorong
rasa penasaran, aku menarik langkah menuju ruang keluarga alih-alih dapur. Aku
membeku saat mendapati siapa yang tengah duduk di depan televisi. Mataku membelalak
tidak percaya. Kak Desta? Mataku sendiri hampir tidak mempercayai apa yang ia
lihat, namun aku benar-benar melihatnya. Begitu nyata. Dengan piyama yang masih
melekat di tubuhnya Kak Desta duduk dengan kedua kaki yang ia silangkan di atas
sofa.
Kak Desta menoleh menatapku. ”Apa yang
sedang kaulakukan di sana? Kenapa menatapku dengan mata terbelalak seperti itu?
Seperti melihat hantu saja.”
”Aku... Aku...” aku tergagap-gagap.
Mengingat kejadian semalam, tiba-tiba aku merasa canggung berhadapan dengan Kak
Desta. Lebih canggung daripada biasanya. Kenapa canggung, ya? Seharusnya, kan
aku merasa marah kepadanya. Akan tetapi, kenapa aku mendapati diriku sama
sekali tidak marah kepadanya? Ke mana perginya rasa marah yang sempat aku
rasakan semalam? Ah, mungkin memang benar kalau kita sulit marah lama-lama
kepada orang yang kita sayangi.
”Aku
apa? Sejak kapan kau gagap?”
”Kakak... Kakak kenapa masih di sini? Kenapa belum bersiap-siap?”
”Bersiap-siap?”
Ia mengangkat alis kanannya. ”Bersiap-siap untuk apa?”
”Bukannya
ada pertandingan basket hari ini?”
”Oh,
yang itu,” Kak Desta mengangguk-angguk, ”Aku tidak jadi pergi.”
Aku
mengernyitkan dahi. ”Kenapa?”
Bukan
hanya itu. Aku tahu alasannya tidak hanya itu. Ada yang lain. Tertangkap dari
matanya.
”Hanya
itu?”
”Ya.”
”Bohong,” seruku. ”Aku tahu ada alasan
lain.”
”Kau
ini...” gerutu Kak Desta. Ia menarik napas, lalu membuangnya pelan-pelan. ”Karena
aku juga akan membunuh diriku sendiri jika aku berani pergi dan meninggalkan
adikku sendirian di rumah.”
Itu lebih dari cukup. Aku puas dan senang
hanya dengan mendengar pengakuan itu. Bahagia itu sederhana saja, bukan? Aku tersenyum. Sementara rasa hangat menyusupi tubuhku pelan-pelan, aku
bergumam, ”Terima kasih...”
”Bagaimana
keadaanmu?”
”Jauh
lebih baik. Aku tidak demam lagi. Hanya sedikit pusing,” jawabku. Kecanggungan
yang tadi sempat membeku kini mencair dengan malu-malu.
Kak
Desta menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya. ”Kemarilah. Kau tidak lelah
berdiri terus?”
Patuh,
aku berjalan dan duduk di samping Kak Desta. Ia menyambutku dengan menempelkan
punggung tangannya ke keningku.
”Benar,”
gumamnya, ”sudah tidak demam lagi.” Ia menarik tangannya.
”Memangnya
tadi aku kelihatan sedang berbohong?” tanyaku jengkel.
”Dengan
wajah sepolos itu, sulit mengetahui kau tengah berbohong atau tidak. Jadi,
jalan terbaik adalah memastikannya dengan tanganku sendiri.”
Aku
menggerutu tidak jelas sampai Kak Desta bersuara dalam nada rendah.
”Maaf.”
”Untuk
kejadian kemarin malam?”
”Untuk semuanya,” timpalnya lirih.
”Aku
tidak mengerti,” kataku.
”Dulu,
ketika adiknya divonis menderita kanker otak, seorang kakak merasa hidup itu
benar-benar tidak adil. Dia merasa marah kepada semua yang menimpa adiknya. Dia
terus bertanya kenapa harus adiknya, namun tidak sedikit pun jawaban ia
temukan.
Saat
itu, sepertinya keegoisan telah membuat dirinya menjadi orang yang tolol. Dia
bukannya berusaha menopang adiknya. Di saat adiknya sangat membutuhkan dorongan
dan semangat darinya, dia malah memutuskan untuk menjauhi adiknya untuk satu
alasan yang tidak kalah tololnya. Agar ketika adiknya pergi, dia tidak perlu
merasakan sakitnya kehilangan. Dia
benar-benar egois. Hanya memikirkan dirinya sendiri sampai-sampai dia tidak
sadar bahwa apa yang dia lakukan telah melukai adiknya sendiri.
Demi
Tuhan! Setelah semua itu, bagaimana dia bisa disebut sebagai seorang kakak
lagi?”
Aku
mengerti—sangat mengerti—apa yang diceritakan Kak Desta. ”Selamanya, di mata
adiknya, dia tetaplah seorang kakak. Lebih dari apa pun,” ucapku
sungguh-sungguh.
Kak
Desta memelukku. Aku merasakan ada sesuatu yang basah yang menetes ke atas
kepalaku. Aku tidak tahu apa itu, tidak berniat mencari tahu. Bukankah ada
saatnya di mana sesuatu sebaiknya dibiarkan tanpa perlu dicari tahu?
”Kakak
menyayangimu,” Kak Desta berbisik parau.
Dan,
saat itulah semua kebekuan melebur dan semua keasingan terusir pergi.
Kehangatan telah pulang kembali. Tepat waktu. Tidak terlambat. Takkan
terlambat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar