Tuhan, maukah Kau memberitahu
berapa lama lagi waktuku?
Bolehkah aku mulai menghitung sisa
waktuku dari sekarang?
***
Hal pertama yang aku lihat sewaktu membuka mata adalah putih. Putih yang bersih. Langit-langit kamarku
memang berwarna putih, namun tidak sebersih yang aku lihat sekarang. Dan, aku
segera sadar kalau aku
”Syukurlah kau sudah
sadar.” Ada kelegaan yang luar biasa besar di dalam suara itu. Aku
merasakannya.
Seperti sebuah film yang
digeraklambatkan, aku menoleh ke samping kiri perlahan-lahan. Kudapati Mama di
sana, sedang menatapku dengan tatapan campuran cemas dan lega. Matanya sembap
dan merah.
”Bagaimana keadaanmu
sekarang?” tanya Mama.
Aku menipiskan bibir dan tidak
menyahut. Aku hanya diam sementara detik-detik yang berlalu pergi kian
menggunung. Sampai di suatu detik, akhirnya aku bersuara.
”Bagaimana keadaanku?” aku
bertanya. Diam sebentar. ”Menurut dokter, bagaimana keadaanku?”
Kulihat Mama tersentak,
seperti dihantam oleh sesuatu yang tidak terlihat. Tubuhnya mundur pelan-pelan
ke sandaran kursi. Matanya berubah layu dan ia bisu selama beberapa waktu.
”Bagaimana keadaanku sekarang?”
aku mengulangi.
”Baik-baik saja,” sahut
Mama. ”Ya, Davin baik-baik saja,” sahutnya lagi. Mama kedengaran sedang
meyakinkan dirinya sendiri. Gemetar halus yang menyusupi suaranya menyakinkanku
kalau aku tidak baik-baik saja.
”Ma...” panggilku lirih,
”Davin tidak ingin ada lagi kebohongan. Ini hidup Davin. Davin pantas untuk
tahu.”
”Davin baik-baik saja,”
Mama mengulangi dengan suara yang bergetar hebat. ”Demi Tuhan! Kau harus
baik-baik saja,” pekik Mama menyerah. Air matanya berlinang turun dari matanya.
Kedua bahunya berguncang. Tangan kanannya terangkat menutupi mulutnya.
Aku tersenyum pilu. Air mataku mengalir turun. Aku merasakan sesak dalam dada. Tenggorokkanku kering dan panas.
Dan, saat ini akan aku tarik
kembali kata-kataku yang dulu. Akan kuanggap aku tidak pernah mengucapkan
kata-kata itu. Untuk pertama kalinya, satu kali saja, aku ingin bertanya, ”Berapa lama lagi waktuku?”
Punggung Mama menegang. Ia
terlihat begitu terkejut mendengar pertanyaanku. Untuk sesaat, Mama hanya tercenung
dan diam. Aku terus menunggu sampai akhirnya Mama mengangguk gemetaran.
”Dua...” desah Mama. Ia
tampak menggigil kecil sementara aku menerka-nerka apakah dua hari, dua minggu,
dua bulan atau dua tahun. Setelah jeda yang cukup panjang, Mama melanjutkan
dengan enggan, ”Dua minggu.”
Tubuhku serasa menembus
ranjang yang tengah kutempati dan jatuh membentur lantai. Aku merasa sakit dan
sesaat kemudian ringkih. Dunia mendadak terasa begitu hampa. Semuanya tampak
meredup seolah-olah tidak ada lagi harapan yang berpijar.
Susah payah aku menarik
napas.
Tuhan, apakah Kau sudah bersiap-siap untuk memanggilku? Kapan
saja?
”Astaga! Tuhan, aku
mohon...” Mama merintih dan mulai terisak. ”Aku butuh dia. Aku butuh anakku.
Tolonglah...”
Untuk pertama kalinya
dalam hidupku, aku melihat Mama bersimbah air mata sebanyak sekarang. Hatiku
ngilu melihatnya.
”Ma, berhentilah
menangis... untukku,” ujarku pelan. Air mataku menetes lagi.
Tuhan, jangan ada lagi air mata...
***
Pernah merasa kalau kematian itu terasa begitu dekat?
Aku
tengah merasakannya. Aku tahu ia sedang berada di dekatku sekarang. Sangat
dekat. Dan, aku takut. Aku sepetrti tengah tersudut di jalan buntu, tidak bisa
ke mana-mana sementara kematian itu terus saja melangkah menghampiriku. Semakin
dekat dan semakin dekat. Semakin ia mendekat, semakin aku bisa merasakan hawa
asing yang menyebar, yang tidak
menyenangkan dan membuat jantungku berdebar-debar tidak menentu.
Pernah merasa kalau kematian itu terlihat?
Aku tengah
merasakannya. Aku bisa melihatnya. Sangat jelas. Ia sedang berdiri di depanku,
berjarak tidak jauh dariku. Ia menatapku tanpa jeda dan tersenyum aneh. Suasana
mendadak menjadi kelabu. Bersama dengan datangnya keheningan yang tidak biasa,
ia mengulurkan tangannya, berusaha menyentuhku. Aku tahu hanya butuh waktu yang
tidak lama sampai ia benar-benar bisa menyentuhku.
Waktuku
tidak lama lagi. Aku tahu itu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar