Selasa, 29 Januari 2013

Catatan #21: Air Mata Lagi



Malam di hari ketigaku di rumah sakit...

Papa sudah memasuki kamar rawatku bermenit-menit yang lalu, namun ia belum menyuarakan sepatah kata pun. Papa membisu dan terus berdiri menghadap Mama yang sedang duduk di samping ranjangku. Mama juga membisu. Aku tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka, namun Papa kelihatan sedang berpikir keras, sedangkan Mama hanya menatap sudut ranjangku dengan tatapan yang tidak berisi. Karena larut dalam kebingungan, aku ikut-ikutan membisu.

Papa mendesah cukup keras. "Elis, ayolah," Papa akhirnya bersuara.

Aku tidak mengerti.

Mama menoleh menatap Papa dengan tajam. "Nathan, kita sudah membicarakan hal ini siang tadi, dan aku rasa kau seharusnya sudah mengerti," balas Mama.

Aku masih tidak mengerti.

Papa mendesah lagi. Ia memegangi kepalanya sebentar, kemudian, "Elis, kalau kau seperti ini terus, kau akan sakit. Pulang dan beristirahatlah.”

Aku mulai mengerti.

"Aku baik-baik saja," tukas Mama. "Tidak perlu mengkhawatirkanku.”

"Elis..."

"Nathan, aku ingin menjaga anakku. Aku mohon.”

"Kau sudah menjaganya selama dua hari berturut-turut," beritahu Papa seakan-akan Mama tidak menyadari itu. "Pulanglah. Untuk malam ini saja. Biar Desta yang menjaga Davin malam ini. Setelah itu, kau boleh menjaganya lagi besok. Ya?" Papa menatap Mama dalam-dalam. Dan, aku tahu semua rasa sayang hidup di balik tatapan itu. 

Mama hanya diam, tidak membalas. Kurasa Mama mulai melunak.

Papa lalu meraih tangan kiri Mama dan menggenggam jemari pendek Mama di antara jemari Papa yang panjang dan kokoh. "Semuanya akan baik-baik saja," Papa meyakinkan.

 Tiba-tiba saja Mama menarik tangannya, lalu melompat berdiri. "Demi apa pun, aku juga ingin semuanya baik-baik saja. Aku ingin meyakini kalau semuanya akan baik-baik saja," seru Mama. Suaranya bergetar. Matanya mulai memerah. "Akan tetapi, adakah jaminan? Adakah jaminan kalau semuanya akan baik-baik saja?!" Mama menuntut.

Tanpa melewatkan satu detik pun, Papa langsung menarik Mama ke dalam pelukannya. Tangis Mama pecah di dada Papa. Papa membelai-belai kepala Mama dengan mesra, berusaha menenangkan.

"Kau... kau tidak tahu betapa takutnya aku, Nath. Saking takutnya, aku merasa dia bisa pergi kapan saja. Demi Tuhan, waktunya tidak lama lagi! Aku tidak mau melewatkan satu detik pun," rancau Mama di sela-sela tangisnya. Ada seribu getaran yang tidak mampu ia redam di suaranya.

Papa mengeratkan pelukannya. "Aku juga sama takutnya denganmu," bisiknya tertahan.

"Ma, turuti kata Papa. Pulang dan beristirahatlah," aku akhirnya angkat bicara.

Mama menarik diri, lalu beralih menatapku dengan ragu-ragu.

Ketika Mama hendak membuka mulutnya, aku segera berkata dengan pelan, "Pulanglah. Demi Davin." Aku tersenyum tipis, lalu, "Davin tidak akan ke mana-mana," aku menambahkan.

Dan, entah untuk keberapa kalinya, air mata Mama menetes turun. Gumpalan air hangat itu jatuh bebas mengusik udara, lantas langsung terberai ketika menyentuh lantai. Rintihan yang terkungkung di dalamnya kemudian menembus lantai dan teredam dalam pelukan bumi.

Bumi mendengarnya. Rintihan rasa takut kehilangan.

Mama kembali duduk. Diletakkannya tangannya di atas tanganku, kemudian diremasnya. "Jangan pergi ke mana-mana," desisnya rangup. Mama mendekatkan mulutnya ke telingaku, dan, "Jangan pergi ke mana-mana," desisnya lagi. "Ingat. Davin sudah berjanji."

Rasa sesak membuat tenggorokan dan mataku terasa panas. Sekuat yang aku bisa, aku mencoba menahan agar air mataku tidak sampai jatuh. Aku tidak ingin menangis. Tidak di depan Mama. Aku harus tegar agar Mama juga tegar.

"Ya," sahutku dengan serak.

Mama mengangguk-angguk, lalu tersenyum pahit. Mama sempat mengecup lembut keningku sebelum bangkit dari duduknya. Papa mengulurkan tangan kepada Mama, namun tidak langsung disambut. Mama diam di titik bumi itu dan menatapku lekat-lekat selama beberapa detik. Barulah setelah itu Mama menyambut tangan Papa, berbalik dan melangkah menjauh.

"Dia tidak akan ke mana-mana," Mama berbisik kepada Papa. Papa mengangguk seraya meremas-remas tangan Mama.

Di atas ranjang, aku mengedipkan mataku satu kali. Tepat di kala itulah, air mata yang sedari tadi kutahan mengalir turun.

Davin tidak ingin pergi....

***

 “Kak, aku ingin ke taman,” kataku kepada Kak Desta.

Kak Desta mengangkat wajah dari ponselnya. Ia menjejalkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu, “Ini sudah malam, Vin,” tolaknya halus. “Tinggal di kamar saja, ya.”

Aku berdecak. “Aku bosan. Aku ingin ke taman.”

“Vin...”

“Ayolah, Kak. Aku sungguh bosan berada di kamar terus. Tidak ada yang asyik di sini,” bujukku dengan nada sememohon mungkin.

Kak Desta membuka mulutnya, namun belum sempat ia bersuara, pintu kamar rawatku telah berderit terbuka. Sepersekian detik kemudian aku melihat Suster Acha melangkah masuk sambil mempertahankan seulas senyum tipis.

“Malam, Vin, Desta,” sapanya lembut. Suster Acha kemudian memeriksa mangkuk bubur yang ia bawa ke mari beberapa saat yang lalu. Ia pasti mau memastikan kalau aku sudah menghabiskan bubur itu. Setelah memeriksa, Suster Acha mengangguk samar-samar.

Suster Acha beralih menatapku dan berkata, “Selera makanmu masih bagus. Syukurlah.”

“Rumah sakit ini mulai kehabisan stok kecap asin, ya, Sus? Kenapa buburnya semakin hambar? Kalau iya, sebaiknya segera ditangani. Karena kalau tidak, aku rasa selera makanku yang bagus itu tidak akan bertahan lama.”

Mendengar itu, Kak Desta buru-buru memukul lenganku dan bergumam gemas, “Kau ini...,” sementara suster Acha hanya terkekeh.

“Akan kusampaikan saranmu itu,” kata Suster Acha kemudian. “Obatmu sudah kauminum?”

Aku mengangguk.

“Baguslah,” komentarnya. “Baiklah, Suster keluar dulu, ya. Kalau ada apa-apa, segera hubungi Suster.”

“Aku ingin ke taman, Sus. Boleh, kan?” tanyaku sebelum Suster Acha sempat membalikkan badan. Melihat Suster Acha yang tampak ragu-ragu, aku segera melemparkan tatapan memohon andalanku.

Suster Acha berpikir-pikir, lalu mengangguk. “Ya, boleh, tapi jangan lama-lama. Udara di luar sedang dingin. Kurang baik untuk kesehatanmu.”

Seketika aku tersenyum ceria. Tidak apalah hanya sebentar. Lebih baik sebentar daripada tidak sama sekali.

“Memangnya tidak apa-apa, Sus?” tanya Kak Desta cemas.

“Melihat keadaan Davin sekarang, rasanya tidak apa-apa,” sahut Suster Acha.

Ketika Kak Desta menoleh menatapku, aku bersicepat berkata, “Kakak tidak punya alasan untuk menolak lagi.” Final. Aku tersenyum penuh kemenangan.

Dan, di sinilah aku dan Kak Desta berada, di taman rumah sakit yang tidak begitu luas. Tidak ada orang lain selain kami. Beberapa lampu taman yang berdiri di sudut-sudut tertentu menyala terang, beberapa yang lain masih padam atau berkelap-kelip tidak menentu.

Suster Acha tidak berbohong. Memang dingin di luar sini. Berkali-kali aku menggigil kecil sampai-sampai Kak Desta melepaskan jaketnya untuk menyelimutiku.

“Kita kembali ke kamar saja, ya, Vin?” ajak Kak Desta. “Di sini dingin. Kau sampai menggigil begitu.”

Aku tahu Kak Desta mengkhawatirkanku, tapi aku berucap, “Sebentar lagi, ya, Kak.”

Kak Desta mengembuskan napas pasrah. Aku tersenyum kecil untuknya. Aku lalu menengadah menatap langit. Ada banyak bintang yang temabur di atas sana. Berkelap-kelip lemah menghias angkasa.

“Sewaktu kita masih kecil, Papa pernah menceritakan kepada kita apa itu bintang,” tuturku. “Kakak masih ingat apa yang Papa katakan waktu itu?”

Kak Desta mengangguk. “Kata Papa, bintang itu adalah tempat tinggal bagi mereka yang...” Suara Kak Desta tercekat di ujung. Ia terdiam tiba-tiba. Kalimatnya tergantung. Aku terus menatapnya dan menunggu, tapi Kak Desta tidak urung bersuara lagi.

Aku kembali menatap langit. Saat mataku tertumbuk pada sebutir bintang yang paling terang di atas sana, saat itulah aku mulai bercerita.

“Kata Papa, bintang itu adalah tempat tinggal bagi mereka yang sudah pergi.” Aku berhenti untuk mengambil napas, kemudian, “Waktu itu aku belum mengerti apa arti kata ‘pergi’ di kalimat itu, tapi sekarang aku mengerti,” aku melanjutkan.

Aku mengangkat tanganku dan menunjuk satu titik di atas sana. “Kak, coba lihat ke sana.”

Kak Desta menurut. Ia ikut menengadah dan melihat titik yang aku tunjuk, titik di mana bintang yang paling terang tengah berpendar.

“Kenalilah bintang itu,” pesanku, “karena jika yang dikatakan Papa itu benar, maka ketika aku pergi nanti, aku akan tinggal di sana.” Aku mendapati suaraku melirih ketika mengucapkannya. Aku merasakan ada sesuatu yang memberat, entah apa itu.

“Dan, ketika saat itu tiba, aku mohon jangan bersedih apalagi menangis. Percayalah, Davin pasti akan bahagia tinggal di dalam bintang. Rasanya pasti menyenangkan bisa melihat bumi dari atas sana,” tuturku pelan-pelan. Dan, sesuatu itu bertambah berat. Aku ingin tersenyum, namun tidak bisa. Sesuatu menahanku.

“Kakak akan mengenalinya,” eja Kak Desta getir. Ia mengangguk. “Kakak akan selalu mengenalinya.”

“Aku pinjam paha Kakak, ya. Aku ingin tidur sebentar di sini.” Tanpa menunggu persetujuan dari Kak Desta, aku meletakkan kepalaku di atas paha Kak Desta dan memejamkan mata. “Dan, nanti, setiap kali Kakak melihat bintang itu, Kakak harus tahu kalau Davin menyayangi Kakak.”

Di detik berikutnya aku merasakan ada sesuatu yang basah menetes ke atas pipiku. Tetes pertama, kedua, ketiga dan tetes selanjutnya pun membawaku ke alam mimpi.

Saat aku nyaris terlelap, aku mendengar Kak Desta membisikkan sesuatu.

“Karena aku juga menyayanginya, Tuhan, bisakah Kau membiarkan dia untuk tetap tinggal di sini bersamaku? Bersama kami?”

Dan, tetes-tetes basah itu semakin cepat menghujami pipiku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar