Malam di hari
ketigaku di rumah sakit...
Papa sudah
memasuki kamar rawatku bermenit-menit yang lalu, namun ia belum menyuarakan
sepatah kata pun. Papa membisu dan terus berdiri menghadap Mama yang sedang
duduk di samping ranjangku. Mama juga membisu. Aku tidak tahu apa yang terjadi
kepada mereka, namun Papa kelihatan sedang berpikir keras, sedangkan Mama hanya
menatap sudut ranjangku dengan tatapan yang tidak berisi. Karena larut dalam kebingungan, aku ikut-ikutan
membisu.
Papa mendesah cukup keras.
"Elis, ayolah," Papa akhirnya bersuara.
Aku tidak mengerti.
Mama menoleh menatap Papa
dengan tajam. "Nathan, kita sudah membicarakan hal ini siang tadi, dan aku
rasa kau seharusnya sudah mengerti," balas Mama.
Aku masih tidak mengerti.
Papa mendesah lagi. Ia memegangi kepalanya sebentar, kemudian,
"Elis, kalau kau seperti ini terus, kau akan sakit. Pulang dan
beristirahatlah.”
Aku mulai mengerti.
"Aku baik-baik
saja," tukas Mama. "Tidak perlu mengkhawatirkanku.”
"Elis..."
"Nathan, aku ingin menjaga anakku. Aku mohon.”
"Kau sudah menjaganya
selama dua hari berturut-turut," beritahu Papa seakan-akan Mama tidak
menyadari itu. "Pulanglah. Untuk malam ini saja. Biar Desta yang menjaga
Davin malam ini. Setelah itu, kau boleh menjaganya lagi besok. Ya?" Papa
menatap Mama dalam-dalam. Dan,
aku tahu semua rasa sayang hidup di balik tatapan itu.
Mama hanya diam, tidak membalas. Kurasa Mama mulai
melunak.
Papa lalu meraih tangan
kiri Mama dan menggenggam jemari pendek Mama di antara jemari Papa yang panjang
dan kokoh. "Semuanya akan baik-baik saja," Papa meyakinkan.
Tiba-tiba saja Mama
menarik tangannya, lalu melompat berdiri. "Demi apa pun, aku juga ingin
semuanya baik-baik saja. Aku ingin meyakini kalau semuanya akan baik-baik
saja," seru Mama. Suaranya bergetar. Matanya mulai memerah. "Akan
tetapi, adakah jaminan? Adakah jaminan kalau semuanya akan baik-baik
saja?!" Mama menuntut.
Tanpa melewatkan satu
detik pun, Papa langsung menarik Mama ke dalam pelukannya. Tangis Mama pecah di
dada Papa. Papa membelai-belai kepala Mama dengan mesra, berusaha menenangkan.
"Kau... kau tidak
tahu betapa takutnya aku, Nath. Saking takutnya, aku merasa dia bisa pergi
kapan saja. Demi Tuhan, waktunya tidak lama lagi! Aku tidak mau melewatkan satu
detik pun," rancau Mama di sela-sela tangisnya. Ada seribu getaran yang
tidak mampu ia redam di suaranya.
Papa mengeratkan pelukannya.
"Aku juga sama takutnya denganmu," bisiknya tertahan.
"Ma, turuti kata
Papa. Pulang dan beristirahatlah," aku akhirnya angkat bicara.
Mama menarik diri, lalu
beralih menatapku dengan ragu-ragu.
Ketika Mama hendak membuka
mulutnya, aku segera berkata dengan pelan, "Pulanglah. Demi Davin."
Aku tersenyum tipis, lalu, "Davin tidak akan ke mana-mana," aku menambahkan.
Dan, entah untuk keberapa
kalinya, air mata Mama menetes turun. Gumpalan air hangat itu jatuh bebas mengusik
udara, lantas langsung terberai ketika menyentuh lantai. Rintihan yang
terkungkung di dalamnya kemudian menembus lantai dan teredam dalam pelukan
bumi.
Bumi mendengarnya. Rintihan rasa takut kehilangan.
Mama kembali duduk.
Diletakkannya tangannya di atas tanganku, kemudian diremasnya. "Jangan pergi ke mana-mana,"
desisnya rangup. Mama mendekatkan mulutnya ke telingaku, dan, "Jangan
pergi ke mana-mana," desisnya lagi. "Ingat. Davin sudah berjanji."
Rasa sesak membuat
tenggorokan dan mataku terasa panas. Sekuat yang aku bisa, aku mencoba menahan
agar air mataku tidak sampai jatuh. Aku tidak ingin menangis. Tidak di depan Mama. Aku harus tegar agar Mama
juga tegar.
"Ya," sahutku
dengan serak.
Mama mengangguk-angguk,
lalu tersenyum pahit. Mama sempat mengecup lembut keningku sebelum bangkit dari
duduknya. Papa mengulurkan tangan kepada Mama, namun tidak langsung disambut.
Mama diam di titik bumi itu dan menatapku lekat-lekat selama beberapa detik.
Barulah setelah itu Mama menyambut tangan Papa, berbalik dan melangkah menjauh.
"Dia tidak akan ke
mana-mana," Mama berbisik kepada Papa. Papa mengangguk seraya
meremas-remas tangan Mama.
Di atas ranjang, aku mengedipkan mataku satu kali.
Tepat di kala itulah, air mata yang sedari tadi kutahan mengalir turun.
Davin tidak ingin pergi....
***
“Kak, aku ingin ke taman,”
kataku kepada Kak Desta.
Kak Desta mengangkat wajah
dari ponselnya. Ia menjejalkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu, “Ini sudah
malam, Vin,” tolaknya halus. “Tinggal di kamar saja, ya.”
Aku berdecak. “Aku bosan.
Aku ingin ke taman.”
“Vin...”
“Ayolah, Kak. Aku sungguh
bosan berada di kamar terus. Tidak ada yang asyik di sini,” bujukku dengan nada
sememohon mungkin.
Kak Desta membuka
mulutnya, namun belum sempat ia bersuara, pintu kamar rawatku telah berderit
terbuka. Sepersekian detik kemudian aku melihat Suster Acha melangkah masuk
sambil mempertahankan seulas senyum tipis.
“Malam, Vin, Desta,”
sapanya lembut. Suster Acha kemudian memeriksa mangkuk bubur yang ia bawa ke
mari beberapa saat yang lalu. Ia pasti mau memastikan kalau aku sudah menghabiskan bubur itu. Setelah memeriksa, Suster Acha mengangguk
samar-samar.
Suster Acha beralih
menatapku dan berkata, “Selera makanmu masih bagus. Syukurlah.”
“Rumah sakit ini mulai
kehabisan stok kecap asin, ya, Sus? Kenapa buburnya semakin hambar? Kalau iya, sebaiknya segera ditangani.
Karena kalau tidak, aku rasa selera makanku yang bagus itu tidak akan bertahan
lama.”
Mendengar itu, Kak Desta
buru-buru memukul lenganku dan bergumam gemas, “Kau ini...,” sementara suster
Acha hanya terkekeh.
“Akan kusampaikan saranmu itu,” kata Suster Acha
kemudian. “Obatmu sudah
kauminum?”
Aku mengangguk.
“Baguslah,” komentarnya.
“Baiklah, Suster keluar dulu, ya. Kalau ada apa-apa, segera hubungi Suster.”
“Aku ingin ke taman, Sus. Boleh, kan?” tanyaku sebelum Suster Acha sempat
membalikkan badan. Melihat
Suster Acha yang tampak ragu-ragu, aku segera melemparkan tatapan memohon
andalanku.
Suster Acha berpikir-pikir,
lalu mengangguk. “Ya, boleh, tapi jangan lama-lama. Udara di luar sedang dingin. Kurang baik untuk
kesehatanmu.”
Seketika aku tersenyum
ceria. Tidak apalah hanya sebentar. Lebih baik sebentar daripada tidak sama
sekali.
“Memangnya tidak apa-apa,
Sus?” tanya Kak Desta cemas.
“Melihat keadaan Davin
sekarang, rasanya tidak apa-apa,” sahut Suster Acha.
Ketika Kak Desta menoleh
menatapku, aku bersicepat berkata, “Kakak tidak punya alasan untuk menolak
lagi.” Final. Aku tersenyum penuh kemenangan.
Dan, di sinilah aku dan
Kak Desta berada, di taman rumah sakit yang tidak begitu luas. Tidak ada orang
lain selain kami. Beberapa lampu taman yang berdiri di sudut-sudut tertentu
menyala terang, beberapa yang lain masih padam atau berkelap-kelip tidak
menentu.
Suster Acha tidak
berbohong. Memang dingin di luar sini. Berkali-kali aku menggigil kecil
sampai-sampai Kak Desta melepaskan jaketnya untuk menyelimutiku.
“Kita kembali ke kamar saja, ya, Vin?” ajak Kak
Desta. “Di sini dingin. Kau sampai menggigil begitu.”
Aku tahu Kak Desta
mengkhawatirkanku, tapi aku berucap, “Sebentar lagi, ya, Kak.”
Kak Desta mengembuskan
napas pasrah. Aku tersenyum kecil untuknya. Aku lalu menengadah menatap langit.
Ada banyak bintang yang temabur di atas sana. Berkelap-kelip lemah menghias
angkasa.
“Sewaktu kita masih kecil,
Papa pernah menceritakan kepada kita apa itu bintang,” tuturku. “Kakak masih
ingat apa yang Papa katakan waktu itu?”
Kak Desta mengangguk. “Kata Papa, bintang itu
adalah tempat tinggal bagi mereka yang...” Suara Kak Desta tercekat di ujung.
Ia terdiam tiba-tiba. Kalimatnya tergantung. Aku terus menatapnya dan menunggu,
tapi Kak Desta tidak urung bersuara lagi.
Aku kembali menatap
langit. Saat mataku tertumbuk pada sebutir bintang yang paling terang di atas
sana, saat itulah aku mulai bercerita.
“Kata Papa, bintang itu
adalah tempat tinggal bagi mereka yang sudah pergi.” Aku berhenti untuk mengambil
napas, kemudian, “Waktu itu aku belum mengerti apa arti kata ‘pergi’ di kalimat
itu, tapi sekarang aku mengerti,” aku melanjutkan.
Aku mengangkat tanganku
dan menunjuk satu titik di atas sana. “Kak, coba lihat ke sana.”
Kak Desta menurut. Ia ikut menengadah dan melihat
titik yang aku tunjuk, titik di mana bintang yang paling terang tengah
berpendar.
“Kenalilah bintang itu,”
pesanku, “karena jika yang dikatakan Papa itu benar, maka ketika aku pergi
nanti, aku akan tinggal di sana.” Aku mendapati suaraku melirih ketika mengucapkannya.
Aku merasakan ada sesuatu yang memberat, entah apa itu.
“Dan, ketika saat itu
tiba, aku mohon jangan bersedih apalagi menangis. Percayalah, Davin pasti akan
bahagia tinggal di dalam bintang. Rasanya pasti menyenangkan bisa melihat bumi dari atas sana,” tuturku
pelan-pelan. Dan, sesuatu itu
bertambah berat. Aku ingin tersenyum, namun tidak bisa. Sesuatu menahanku.
“Kakak akan mengenalinya,”
eja Kak Desta getir. Ia mengangguk. “Kakak akan selalu mengenalinya.”
“Aku pinjam paha Kakak,
ya. Aku ingin tidur sebentar di sini.” Tanpa menunggu persetujuan dari Kak Desta, aku meletakkan kepalaku di atas
paha Kak Desta dan memejamkan mata. “Dan, nanti, setiap kali Kakak melihat
bintang itu, Kakak harus tahu kalau Davin menyayangi Kakak.”
Di detik berikutnya aku merasakan ada sesuatu yang
basah menetes ke atas pipiku. Tetes pertama, kedua, ketiga dan tetes
selanjutnya pun membawaku ke alam mimpi.
Saat aku nyaris terlelap,
aku mendengar Kak Desta membisikkan sesuatu.
“Karena aku juga
menyayanginya, Tuhan, bisakah Kau membiarkan dia untuk tetap tinggal di sini
bersamaku? Bersama kami?”
Dan, tetes-tetes basah itu
semakin cepat menghujami pipiku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar