Kamis, 17 Januari 2013

Catatan #10: Melarikan Diri dari Kematian



Setiap napas yang kautarik akan membawamu ke satu takdir yang tidak akan pernah bisa kauhindari. Kematian.

Aku sempat berpikir untuk menahan napas sebab jika kalimat itu benar, maka aku tidak akan mati. Akan tetapi, kemudian aku sadar, dengan menahan napas aku juga akan mati. Serba salah, bukan? Aku lalu menyimpulkan satu hal.

Kematian adalah teman yang paling setia karena ke mana pun kita pergi, apa pun yang kita lakukan, kematian akan selalu mengikuti kita....

***
 
Melarikan diri dari kematian, apa mungkin? Apa bisa?

Hari ini aku tidak belajar bersama Mama. Mama tengah sibuk membuat kue kering di bawah. Ada Bibi Nindy—tetangga sebelah rumah—yang membantu Mama. Aku sendiri lebih memilih untuk menghabiskan waktu di kamar dan tidak ikut membantu. Satu-satunya hal yang aku tahu tentang kue adalah memakannya. Itu saja.

Karena aku merasa jenuh, aku memutuskan untuk menulis saja. Ketika aku tengah memikirkan apa yang sebaiknya aku tulis, pertanyaan tentang melarikan diri dari kematian itu muncul begitu saja.

Aku mengetuk-ngetuk kening dengan bolpoin yang terselip di antara ibu jari dan jari telunjuk, memikirkan apa yang bisa aku tulis untuk menjawab pertanyaan itu. Aku menulis karena aku ingin berbagi dan aku tidak mau asal-asalan.

Aku berhenti mengetuk-ngetuk ketika aku teringat akan sesuatu. Secara ajaib, aku teringat akan Kisah Tiga Saudara dalam novel Harry Potter and The Deathly Hallows. Aku tidak tertarik untuk membahas dua orang dari tiga bersaudara itu. Aku hanya tertarik untuk membahas si bungsu.

Dalam kisah itu diceritakan tiga bersaudara itu bertemu dengan Kematian. Ketika Kematian menanyakan kepada si bungsu apa yang diinginkannya, si bungsu mengatakan ia menginginkan sesuatu yang bisa membuatnya tidak diikuti oleh Kematian. Mendengar itu, Kematian pun memutuskan untuk memberikan jubah gaibnya kepada si bungsu. Jubah gaib itu menjadikan si bungsu tidak terlihat oleh Kematian.

Selama bertahun-tahun, si bungsu pun berhasil melarikan diri dari kematian. Namun, pada akhirnya, karena telah berusia sangat lanjut, si bungsu pun memutuskan untuk menanggalkan jubah gaibnya. Kematian lalu menemukan si bungsu dan sebagai teman sederajat, mereka meninggalkan kehidupan.

Si bungsu sesungguhnya tidak bisa melarikan diri dari kematian.

Setelah mengingat-ingat Kisah Tiga Saudara itu, aku langsung tahu apa yang sebaiknya aku tuliskan.

Berani bertaruh? Di dunia ini, tidak ada satu manusia pun yang bisa melarikan diri dari kematian. Berusaha lari dari kematian sama saja dengan berusaha lari dari bayanganmu sendiri. Mustahil. Karena sama seperti bayanganmu, kematian akan selalu mengikutimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar