Rabu, 09 Januari 2013

Catatan #8: Bolehkah Aku Tidak Usah Pergi?



Kutopangkan dagu ke atas telapak tangan kanan. Aku memutar bola mata dengan malas-malasan, lalu mendesah keras-keras. Bolpoinku jatuh menumbuk meja dan aku tidak peduli. Aku memang sengaja membiarkannya jatuh.

Saat ini aku tengah belajar bersama Mama. Aku bosan. Bukan bosan karena belajar, tapi bosan karena apa yang aku pelajari. Sedari tadi Mama hanya mengajariku tentang perkalian dan pembagian yang sudah aku kuasai. Aku ingin belajar yang lain, yang lebih menantang. Aku tertarik memelajari trigonometri. Sepertinya trigonometri itu menyenangkan dan menantang. Namun, sewaktu aku mengungkapkan keinginanku, Mama justru mengabaikanku dan berpura-pura tidak mendengar. Atau, Mama akan mengalihkan pembicaraan. Kurasa Mama tidak menguasai trigonometri.Ya, pasti begitu.

Mama menatapku. Keningnya bergumal tipis. Ia meletakkan bolpoin hitamnya dan bertanya, ”Kau kenapa,Vin?”

Kulipat kedua tangan di atas meja dan kubenamkan wajahku di sana. ”Aku bosan,” keluhku tanpa mengangkat wajah.

Aku mendengar Mama berdecak kecil dan mengetuk-ngetukkan jari-jarinya ke atas meja, menimbulkan suara tak-tik-tuk yang tidak beraturan.

”Bukannya tadi kau yang meminta Mama mengajarimu sesuatu?”

”He-emh,” gumamku. Aku mengangkat wajah dan menatap Mama. ”Ma, bisakah sekarang kita belajar trigonometri? Aku bosan belajar perkalian terus,” aku memohon.

”Lihat,” seru Mama seraya menunjuk buku yang ada di hadapanku. ”Masih ada tiga soal yang belum kaukerjakan. Kerjakanlah.”

Aku mendengus. Mama mengalihkan pembicaraan. Setelah itu, aku hanya berdiam diri. Aku tidak bersuara lagi, tidak juga mengerjakan tiga soal itu. Mama tidak memaksaku. Ia terlihat sibuk membaca majalahnya. Sesekali ia mengangguk satu-dua kali. Entah apa yang ia baca. Aku mencoba bertahan, namun aku tidak bisa. Aku akhirnya menyerah.

”Ma, ajarkan aku trigonometri, ya,” mintaku.

Mama menutup majalahnya. Ia tidak langsung menimpali permintaanku. Ia lebih dulu melepaskan kacamata bacanya. ”Omong-omong, Vin, kau sudah mulai menulis di buku pemberian Dokter Riko itu?” Pengalihan pembicaraan lagi.

Aku mulai kesal. ”Sudah,” sahutku pendek.

”Sudah berapa halaman?”

”Tiga,” jawabku, ”atau empat. Atau, mungkin lima. Entahlah. Aku tidak menghitungnya.”

”Kenapa sedikit sekali?”

”Kalau Mama mau mengajariku trigonometri, mungkin aku bisa menulis lebih banyak di buku itu,” jawabku sekalian menyindir Mama.

Mama tidak membalas. Ia tidak tampak terganggu dengan sindiranku. Mama malah beranjak ke dapur, meninggalkanku sendirian di meja makan. Aku melihatnya mencuci tangan, lalu berjalan ke arah kulkas. Mama membukanya dan melihat isinya selama beberapa saat. ”Vin, bagaimana kalau setelah ini kita pergi berbelanja? Kulkas kita sudah hampir kosong.”

Aku mengggeram pelan. ”Terserah sajalah,” ucapku dengan nada sebal. Kubereskan buku-buku, lalu berlari ke lantai dua menuju kamar.

Berani bertaruh? Mama pasti tidak menguasai trigonometri. Ia benar-benar tidak menguasainya. Demi janggut Merlin kalau kata novel Harry Potter.

***


”Ma, kau mau menunggu sampai langit tidak biru lagi?” aku setengah berteriak.

”Bersabarlah,” timpal Mama, tidak sekeras suaraku barusan, namun aku bisa mendengarnya.

”Aku sudah menunggu hampir setengah jam.”

”Mama sedang mencari dompet Mama. Kau melihatnya?” tanya Mama. Ia masih berada di dalam kamarnya dengan pintu yang tersingkap lebar.

”Ya.”

Mama melongokkan kepalanya dari pintu, menatapku yang duduk di ruang keluarga dengan tatapan penuh minat. ”Di mana?”

”Di atas meja rias Mama,” kataku. ”Semalam,” tambahku.

Mama mengembuskan napas dan menatapku jengkel. Ia kembali masuk ke dalam kamarnya.

”Mama sudah mencarinya di laci meja rias?”

Mama tidak menjawab, tetapi beberapa detik setelahnya aku mendengar Mama berseru, ”Ketemu!” Tidak lama kemudian Mama melangkah keluar dari kamarnya, mengunci pintu kamar, lantas berderap mendekatiku. ”Ayo, berangkat!”

Aku melompat berdiri segera. ”Ketemu di mana?”

”Di laci meja rias,” Mama menjawab dan menyengir lebar.

Aku mendesah keras-keras. ”Kau tahu, Ma, kadang-kadang aku jadi bertanya-tanya apa-apa saja yang Mama ingat,” gumamku menyindir sifat pelupa Mama.

”Setidaknya Mama masih ingat kalau Mama punya seorang putra yang bernama Davin Alvaro,” Mama menyahut, lalu terkekeh. ”Sudahlah. Ayo, berangkat. Kita tidak punya banyak waktu.”

”Memangnya siapa yang sudah membuang waktu kita yang tidak banyak itu?” omelku.

Mama terkikik pelan. Mama berjongkok di hadapanku dan mengecup dahiku. ”Mama beruntung memilikimu,” ucap Mama.

”Beruntung karena aku bisa mengingatkan Mama tentang ini-itu?” tanyaku.

Mama menggeleng. Ia menatapku dalam-dalam. ”Beruntung karena Mama tidak tahu bagaimana jadinya hidup Mama tanpa kau di dalamnya.” Mama mengucapkannya dengan amat tulus.

Aku tersenyum mendengarnya. Mama ikut tersenyum. Seulas senyum yang hangat. Aku tahu karena aku merasa hangat sewaktu melihat senyum itu. Aku melangkah maju dan memeluk Mama erat-erat. Terasa lebih hangat.

”Davin sayang Mama,” ucapku sederhana.

***

Aku menumpukan dagu di atas pegangan troli sementara tanganku memegang troli itu agar tidak bergerak. Tidak nyaman dengan posisi itu, aku lantas mengangkat kepala dan mendesah panjang. Iseng-iseng, aku lalu melihat berbagai macam barang yang menyesaki troli di depanku. Ada dua kotak bubuk kopi, dua kaleng susu kental manis, tiga bungkus roti gandum, selai kacang dan nanas masing-masing satu toples, beberapa bungkus makanan ringan dan bermacam-macam sayur dan buah. Banyak juga.

Kualihkan pandanganku ke Mama yang berdiri tidak jauh dariku. Mama tengah sibuk membandingkan teh yang ada di tangan kanannya dengan teh yang ada di tangan kirinya, menimbang-nimbang mana yang akan dibelinya. Entah berapa menit yang sudah dihabiskannya, namun Mama belum juga memutuskan pilihannya.

Beberapa saat yang lalu aku sempat bertanya, ”Apa yang sebenarnya Mama bandingkan?”

Dan, Mama hanya menjawab, ”Kualitas.”

Setelahnya aku kembali bertanya, ”Kenapa tidak membeli teh yang biasa kita minum?”

Dan, Mama menjawab, ”Sesekali dalam hidup, kita perlu mencari dan mencoba sesuatu yang baru. Dengan begitu hidup tidak akan terasa membosankan.”

Aku mendesah panjang lagi. Karena tidak sabar dan bosan menunggu, aku bersuara, ”Ma, anakmu ini sudah hampir berjamur.”

Masih dengan memegang kedua jenis teh itu, Mama menoleh ke arahku, kemudian tertawa kecil. ”Bersabarlah...”

”Sebenarnya yang Mama bandingkan itu kualitas atau harga?”

”Kualitas di tempat pertama. Harga di tempat kedua,” sahut Mama, kemudian kembali memperhatikan teh di tangannya. Keningnya berkerut-kerut.

 Belum aku menimpali, Mama telah kembali bersuara, ”Kalau bisa mendapatkan kualitas yang bagus dengan harga yang murah, kenapa tidak?” Mama menyulam senyum tipis.

”Terserahlah,” kataku, ”Tapi, bisakah Mama bergegas? Jangan buang waktuku. Waktuku tidak banyak lagi.”

Ketika aku melihat sulaman senyum tipis Mama terurai, aku baru sadar aku salah bicara. Tidak semestinya aku menyuarakan kalimat terakhir itu. Dengan kondisiku yang sekarang, kalimat itu tentu saja dengan cepat menguarkan suasana kelabu yang lekat dengan kesedihan. Suasana yang aku benci.

”Maksudku,” aku memutar otak dengan cepat, ”aku ingin menulis sesuatu di bukuku. Kalau Mama terus membuang waktu, aku tidak punya waktu untuk menulis.”

Sedetik setelahnya aku merutuki diriku sendiri. Aksi meralat terpayah yang pernah kulakukan. Namun, setidaknya aku sudah berusaha. Aku berharap itu akan membawa dampak positif—meski hanya sedikit—tetapi aku terlambat.

Mama menarik langkah ke arahku tanpa sebungkus teh pun di tangannya. Selama beberapa saat aku bisa melihat mata Mama tidak secerah biasanya. Seperti ada kabut tebal yang menyelimuti sepasang matanya. Hanya beberapa detik sebelum Mama berjongkok di depanku, memaksakan segaris senyum dan berkata, ”Mama sudah selesai. Kau bagaimana? Ada yang ingin kaubeli?”

”Apakah kebahagiaan itu dijual?” tanyaku. ”Kalau iya, aku ingin membelinya. Aku ingin membelikannya untuk seseorang.”

”Untuk siapa?”

”Untuk Mama,” jawabku. Mungkin terdengar berlebihan, namun aku bersungguh-sungguh.

Perlahan-lahan senyum yang sempat terurai tadi kembali tersulam. Mata Mama yang berkaca-kaca menatapku terharu. Mama kemudian mendekapku dan berbisik, ”Selama Davin ada di sisi Mama, Mama akan bahagia.”

Apakah itu berarti setelah aku pergi nanti Mama tidak akan bahagia? Jika benar begitu, bolehkah aku tidak usah pergi saja agar Mama tetap dan selalu bahagia?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar