Kutopangkan dagu ke atas telapak tangan kanan. Aku
memutar bola mata dengan malas-malasan, lalu mendesah keras-keras. Bolpoinku
jatuh menumbuk meja dan aku tidak peduli. Aku memang sengaja membiarkannya
jatuh.
Saat
ini aku tengah belajar bersama Mama. Aku bosan. Bukan bosan karena belajar, tapi
bosan karena apa yang aku pelajari. Sedari tadi Mama hanya mengajariku tentang
perkalian dan pembagian yang sudah aku kuasai. Aku ingin belajar yang lain,
yang lebih menantang. Aku tertarik memelajari trigonometri. Sepertinya
trigonometri itu menyenangkan dan menantang. Namun, sewaktu aku mengungkapkan
keinginanku, Mama justru mengabaikanku dan berpura-pura tidak mendengar. Atau,
Mama akan mengalihkan pembicaraan. Kurasa Mama tidak menguasai trigonometri.Ya,
pasti begitu.
Mama
menatapku. Keningnya bergumal tipis. Ia meletakkan bolpoin hitamnya dan
bertanya, ”Kau kenapa,Vin?”
Kulipat
kedua tangan di atas meja dan kubenamkan wajahku di sana. ”Aku bosan,” keluhku
tanpa mengangkat wajah.
Aku
mendengar Mama berdecak kecil dan mengetuk-ngetukkan jari-jarinya ke atas meja,
menimbulkan suara tak-tik-tuk yang tidak beraturan.
”Bukannya
tadi kau yang meminta Mama mengajarimu sesuatu?”
”He-emh,”
gumamku. Aku mengangkat wajah dan menatap Mama. ”Ma, bisakah sekarang kita
belajar trigonometri? Aku bosan belajar perkalian terus,” aku memohon.
”Lihat,”
seru Mama seraya menunjuk buku yang ada di hadapanku. ”Masih ada tiga soal yang
belum kaukerjakan. Kerjakanlah.”
Aku
mendengus. Mama mengalihkan pembicaraan. Setelah itu, aku hanya berdiam diri.
Aku tidak bersuara lagi, tidak juga mengerjakan tiga soal itu. Mama tidak
memaksaku. Ia terlihat sibuk membaca majalahnya. Sesekali ia mengangguk
satu-dua kali. Entah apa yang ia baca. Aku mencoba bertahan, namun aku tidak
bisa. Aku akhirnya menyerah.
”Ma,
ajarkan aku trigonometri, ya,” mintaku.
Mama
menutup majalahnya. Ia tidak langsung menimpali permintaanku. Ia lebih dulu
melepaskan kacamata bacanya. ”Omong-omong, Vin, kau sudah mulai menulis di buku
pemberian Dokter Riko itu?” Pengalihan pembicaraan lagi.
Aku
mulai kesal. ”Sudah,” sahutku pendek.
”Sudah
berapa halaman?”
”Tiga,”
jawabku, ”atau empat. Atau, mungkin lima. Entahlah. Aku tidak menghitungnya.”
”Kenapa
sedikit sekali?”
”Kalau
Mama mau mengajariku trigonometri, mungkin aku bisa menulis lebih banyak di
buku itu,” jawabku sekalian menyindir Mama.
Mama
tidak membalas. Ia tidak tampak terganggu dengan sindiranku. Mama malah
beranjak ke dapur, meninggalkanku sendirian di meja makan. Aku melihatnya
mencuci tangan, lalu berjalan ke arah kulkas. Mama membukanya dan melihat isinya selama beberapa
saat. ”Vin, bagaimana kalau setelah ini kita pergi berbelanja? Kulkas kita
sudah hampir kosong.”
Aku
mengggeram pelan. ”Terserah sajalah,” ucapku dengan nada sebal. Kubereskan
buku-buku, lalu berlari ke lantai dua menuju kamar.
Berani
bertaruh? Mama pasti tidak menguasai trigonometri. Ia benar-benar tidak
menguasainya. Demi janggut Merlin kalau kata novel Harry Potter.
***
”Ma,
kau mau menunggu sampai langit tidak biru lagi?” aku setengah berteriak.
”Bersabarlah,”
timpal Mama, tidak sekeras suaraku barusan, namun aku bisa mendengarnya.
”Aku sudah menunggu hampir setengah jam.”
”Mama
sedang mencari dompet Mama. Kau melihatnya?” tanya Mama. Ia masih berada di
dalam kamarnya dengan pintu yang tersingkap lebar.
”Ya.”
Mama
melongokkan kepalanya dari pintu, menatapku yang duduk di ruang keluarga dengan
tatapan penuh minat. ”Di mana?”
”Di atas meja rias Mama,” kataku.
”Semalam,” tambahku.
Mama mengembuskan napas dan menatapku
jengkel. Ia kembali masuk ke dalam kamarnya.
”Mama
sudah mencarinya di laci meja rias?”
Mama
tidak menjawab, tetapi beberapa detik setelahnya aku mendengar Mama berseru, ”Ketemu!”
Tidak lama kemudian Mama melangkah keluar dari kamarnya, mengunci pintu kamar,
lantas berderap mendekatiku. ”Ayo, berangkat!”
Aku
melompat berdiri segera. ”Ketemu di mana?”
”Di
laci meja rias,” Mama menjawab dan menyengir lebar.
Aku
mendesah keras-keras. ”Kau tahu, Ma, kadang-kadang aku jadi bertanya-tanya
apa-apa saja yang Mama ingat,” gumamku menyindir sifat pelupa Mama.
”Setidaknya
Mama masih ingat kalau Mama punya seorang putra yang bernama Davin Alvaro,”
Mama menyahut, lalu terkekeh. ”Sudahlah. Ayo, berangkat. Kita tidak punya
banyak waktu.”
”Memangnya
siapa yang sudah membuang waktu kita yang tidak banyak itu?” omelku.
Mama
terkikik pelan. Mama berjongkok di hadapanku dan mengecup dahiku. ”Mama beruntung
memilikimu,” ucap Mama.
”Beruntung
karena aku bisa mengingatkan Mama tentang ini-itu?” tanyaku.
Mama
menggeleng. Ia menatapku dalam-dalam. ”Beruntung karena Mama tidak tahu
bagaimana jadinya hidup Mama tanpa kau di dalamnya.” Mama mengucapkannya dengan
amat tulus.
Aku
tersenyum mendengarnya. Mama ikut tersenyum. Seulas senyum yang hangat. Aku
tahu karena aku merasa hangat sewaktu melihat senyum itu. Aku melangkah maju
dan memeluk Mama erat-erat. Terasa lebih hangat.
”Davin
sayang Mama,” ucapku sederhana.
***
Aku
menumpukan dagu di atas pegangan troli sementara tanganku memegang troli itu
agar tidak bergerak. Tidak nyaman dengan posisi itu, aku lantas mengangkat
kepala dan mendesah panjang. Iseng-iseng, aku lalu melihat berbagai macam
barang yang menyesaki troli di depanku. Ada dua kotak bubuk kopi, dua kaleng
susu kental manis, tiga bungkus roti gandum, selai kacang dan nanas
masing-masing satu toples, beberapa bungkus makanan ringan dan bermacam-macam
sayur dan buah. Banyak juga.
Kualihkan
pandanganku ke Mama yang berdiri tidak jauh dariku. Mama tengah sibuk
membandingkan teh yang ada di tangan kanannya dengan teh yang ada di tangan
kirinya, menimbang-nimbang mana yang akan dibelinya. Entah berapa menit yang
sudah dihabiskannya, namun Mama belum juga memutuskan pilihannya.
Beberapa
saat yang lalu aku sempat bertanya, ”Apa yang sebenarnya Mama bandingkan?”
Dan,
Mama hanya menjawab, ”Kualitas.”
Setelahnya
aku kembali bertanya, ”Kenapa tidak membeli teh yang biasa kita minum?”
Dan,
Mama menjawab, ”Sesekali dalam hidup, kita perlu mencari dan mencoba sesuatu
yang baru. Dengan begitu hidup tidak akan terasa membosankan.”
Aku
mendesah panjang lagi. Karena tidak sabar dan bosan menunggu, aku bersuara,
”Ma, anakmu ini sudah hampir berjamur.”
Masih
dengan memegang kedua jenis teh itu, Mama menoleh ke arahku, kemudian tertawa
kecil. ”Bersabarlah...”
”Sebenarnya
yang Mama bandingkan itu kualitas atau harga?”
”Kualitas di tempat pertama. Harga di
tempat kedua,” sahut Mama, kemudian kembali memperhatikan teh di tangannya.
Keningnya berkerut-kerut.
Belum
aku menimpali, Mama telah kembali bersuara, ”Kalau bisa mendapatkan kualitas
yang bagus dengan harga yang murah, kenapa tidak?” Mama menyulam senyum tipis.
”Terserahlah,”
kataku, ”Tapi, bisakah Mama bergegas? Jangan buang waktuku. Waktuku tidak
banyak lagi.”
Ketika
aku melihat sulaman senyum tipis Mama terurai, aku baru sadar aku salah bicara.
Tidak semestinya aku menyuarakan kalimat terakhir itu. Dengan kondisiku yang
sekarang, kalimat itu tentu saja dengan cepat menguarkan suasana kelabu yang
lekat dengan kesedihan. Suasana yang aku benci.
”Maksudku,”
aku memutar otak dengan cepat, ”aku ingin menulis sesuatu di bukuku. Kalau Mama
terus membuang waktu, aku tidak punya waktu untuk menulis.”
Sedetik
setelahnya aku merutuki diriku sendiri. Aksi meralat terpayah yang pernah
kulakukan. Namun, setidaknya aku sudah berusaha. Aku berharap itu akan membawa
dampak positif—meski hanya sedikit—tetapi aku terlambat.
Mama
menarik langkah ke arahku tanpa sebungkus teh pun di tangannya. Selama beberapa
saat aku bisa melihat mata Mama tidak secerah biasanya. Seperti ada kabut tebal
yang menyelimuti sepasang matanya. Hanya beberapa detik sebelum Mama berjongkok
di depanku, memaksakan segaris senyum dan berkata, ”Mama sudah selesai. Kau
bagaimana? Ada yang ingin kaubeli?”
”Apakah
kebahagiaan itu dijual?” tanyaku. ”Kalau iya, aku ingin membelinya. Aku ingin
membelikannya untuk seseorang.”
”Untuk
siapa?”
”Untuk
Mama,” jawabku. Mungkin terdengar berlebihan, namun aku bersungguh-sungguh.
Perlahan-lahan senyum yang sempat terurai
tadi kembali tersulam. Mata Mama yang berkaca-kaca menatapku terharu. Mama kemudian
mendekapku dan berbisik, ”Selama Davin ada di sisi Mama, Mama akan bahagia.”
Apakah itu berarti setelah
aku pergi nanti Mama tidak akan bahagia? Jika benar begitu, bolehkah aku tidak
usah pergi saja agar Mama tetap dan selalu bahagia?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar