Selasa, 22 Januari 2013

Catatan #15: Kebahagiaan



Aku meraih gagang telepon yang tertelungkup di atas meja dan mendekatkannya ke sebelah telinga. ”Ada apa, Ran? Dan, sebelum kau berceloteh panjang-lebar tentang itu, jangan berani-berani membahas tentang tata krama berbasa-basi.”

”Kau ini,” geram Randy, ”Susah sekali diberitahu.”

”Itu karena yang kauberitahu itu tidak penting,” tandasku. ”Langsung saja. Ada apa? Jangan buat papamu pusing karena melihat tagihan telepon yang membengkak.”

Randy berdecak gemas di ujung sana. ”Kau tahu hari ini tanggal berapa?”

”Ke mana larinya semua kalender di rumahmu?” aku balik bertanya.

”Kau benar-benar menyebalkan,” gerutunya, menekan setiap kata.

”Sudah berulang kali aku bilang, aku tidak suka berbasa-basi.”

”Baiklah, Davin Alvaro, sahabatku yang paling menyebalkan, aku meneleponmu untuk memberitahu kalau tiga hari lagi aku akan berulang tahun.”

”Kecuali kalau ulang tahunmu berpindah tanggal tahun ini, aku tidak mungkin melupakan hari ulang tahunmu,” ujarku, bermaksud menyadarkannya kalau ia sungguh tidak perlu repot-repot mengingatkanku kalau besok lusa adalah hari ulang tahunnya.

”Baguslah kalau kau ingat. Tadinya kalau sampai kau lupa, aku berniat melempar wajahmu dengan kue ulang tahunku,” akunya, lalu terkekeh.

”Simpan saja kuemu,” saranku. Aku berdeham, lalu, ”Hanya itu?”

”Apanya?”

”Kau menelepon hanya untuk itu?”

”Ya,”sahutnya. ”Memangnya apa yang kauharapkan?”

”Kau tidak berniat mengundangku ke pesta ulang tahunmu?”

Aku sudah mengenal Randy selama lima tahun. Dan, sepanjang yang aku tahu, Randy—lebih tepatnya orangtuanya—selalu menggelar pesta untuk merayakan ulang tahunnya. Sama sepertiku sebenarnya. Hanya saja setiap tahunnya pesta ulang tahun Randy selalu lebih ramai daripada pesta ulang tahunku. Aku tidak terlalu peduli dengan itu karena aku tidak menyukai keramaian—Randy juga. Jadi, tidak apa-apa kalau pesta ulang tahunku kurang ramai.

”Kau bercanda,” katanya di seberang sana. ”Tanpa diundang pun kau harus datang. Undangan hanya disebar untuk para tamu, tidak untuk sahabat. Karena apa? Karena sahabat selalu diterima tanpa undangan sekalipun.”

Aku mengulum senyum mendengar itu, sedikit terharu.

”Bagaimana? Kau terharu? Matamu berkaca-kaca?” tanyanya beruntun dengan nada mendesak.

”Tidak,” tukasku, berbohong.

Randy tertawa. Ia berdeham, kemudian, ”Baiklah. Siapkan kado untukku kalau begitu,” mintanya, lalu kembali tertawa. Masih dengan sisa-sisa tawanya, ia buru-buru menambahkan, ”Ah, tidak. Aku hanya bercanda. Aku tidak benar-benar butuh kadomu.”

”Meski begitu, tenang saja, aku akan tetap menyiapkan kado untukmu,” kataku kalem.

”Oh, ya? Astaga! Kau ternyata baik sekali. Apa yang akan kauberikan untukku?”

”Sebuah bom ukuran ekstra besar,” sahutku santai.

Randy meringis di ujung sana. ”Dasar!” omelnya tidak senang. ”Sudah dulu, ya. Aku harus menjalani sesi pemotretan. Maklumlah. Aku, kan model cilik yang tengah naik daun.”

Aku tahu Randy berbohong. Tentu saja begitu. Takkan ada yang mau menawarinya menjadi model, aku yakin itu. Kalau pun ada, orang itu pasti sudah katarak.

”Teruslah bermimpi,” cetusku, lalu meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya. Kuembuskan napas panjang, lalu menggeleng-geleng.

Saat aku berputar, aku mendapati Mama telah berdiri di hadapanku.

”Ada apa Randy menelepon?” tanya Mama.

”Hanya mengingatkanku kalau besok lusa dia berulang tahun.”

Mama mengangguk-angguk. ”Ah, mamanya Randy juga baru menghubungi ponsel Mama untuk mengingatkan hal yang sama,” beritahu Mama sembari melepaskan celemek yang ia pakai.

Anak dan ibu sama saja, pikirku.

”Bagaimana kalau setelah makan siang, kita pergi mencari kado untuk Randy?” usul Mama. Matanya berkilat-kilat bersemangat.

Aku mengangguk setuju.

”Omong-omong, kakakmu mana?” tanya Mama. Mungkin untuk mempertegas kalau Mama tidak melihat Kak Desta, Mama kemudian celingak-celinguk ke sana ke mari.

”Kakak, kan sedang pergi ke luar. Ada janji dengan temannya,”sahutku. ”Memangnya Kakak tidak pamit ke Mama?”

Mama menggeleng. ”Mungkin waktu dia ingin pamit, Mama sedang berada di pasar.”

Semua pekerjaan rumah memang dilakukan oleh Mama, termasuk memasak dan pergi ke pasar. Papa sudah pernah menyarankan Mama untuk menyewa jasa pembantu rumah tangga. Kata Papa supaya Mama tidak  perlu berdesak-desakan di pasar dan juga supaya Mama tidak kelelahan. Papa sangat perhatian kepada Mama, kami semua tahu itu. Namun, Mama menolaknya dengan halus. Katanya, ia tidak lelah. Mama juga menambahkan kalau berdesak-desakan di pasar itu menyenangkan. Aku yakin Papa pasti bingung kala itu karena aku sendiri juga bingung. Menyenangkan apanya?

”Oh, ya, Ma. Berbicara tentang Kakak, sepertinya putra Mama yang satu itu sedang jatuh cinta,” beritahuku dengan nada penuh rahasia. Aku mengangguk untuk menyakinkan Mama.

”Mama tahu,” timpal Mama. Dagunya terangkat sedikit.

”Mama tahu?”

”Tentu saja. Kau lupa? Mama yang mengandungnya berbulan-bulan dan melahirkannya,” Mama mengatakannya dengan bangga seperti memberitahukan kalau ia baru saja memenangkan kompetisi membuat kue tingkat kabupaten.

”Sudah kaupikirkan kira-kira apa yang akan kauberikan kepada Randy sebagai kado?” tanya Mama mengalihkan pembicaraan.

Aku mengangguk. ”Aku berniat memberinya bom.”

***

Lampu lalu lintas yang berwarna merah tengah menyala dengan garang, memerintahkan semua kendaraan yang ingin melewatinya untuk berhenti sejenak. Semua kendaraan terlihat patuh termasuk mobil Papa.

Aku tengah duduk di baris kedua sendirian. Papa duduk di depan, di balik kemudi, sedang mengetuk-ngetukkan jemarinya ke setir sementara Mama duduk di sebelahnya, memandang lurus ke depan.

Kami sedang menuju ke sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota. Sudah hampir satu jam berlalu sejak kami meninggalkan rumah, namun kami tidak urung sampai.

Aku mendesah. Tanpa tujuan yang jelas, aku menolehkan kepalaku ke samping kanan, memandang ke luar jendela kaca mobil. Ada banyak kendaraan di sekitar. Asap tebal menyeruak keluar dari knalpot truk di sebelah. Asap tebal itu menyebar tidak tentu arah, perlahan-lahan menipis dan mencemari udara yang sudah tercemar.

Kemudian aku mendengar suara petikan gitar yang samar-samar. Aku yang tengah berusaha membaca tulisan yang ada di belakang bak truk itu sontak menoleh ke arah lain, ke samping kiri. Di sana aku melihat ada seorang anak laki-laki—tampaknya seumuran denganku—sedang berdiri di luar sambil memetik gitarnya yang terlihat sudah usang. Ketika aku menurunkan kaca jendela, anak laki-laki itu mulai melantunkan sebuah lagu. Walau aku tidak tahu lagu apa yang sedang ia lantunkan, aku tetap menikmatinya. Suaranya bagus, menurutku. Ia bernyanyi dengan lepas, sederhana dan tidak dibuat-buat. Begitu apa adanya.

Selesai bernyanyi, anak itu pun menyodorkan sebuah kaleng bekas ke hadapanku. Ia tersenyum tipis ke arahku. Aku mengerti apa maksudnya. Aku pun balas tersenyum dan segera merogoh saku celana. Hanya ada selembar uang lima ribu. Tanpa berpikir dua kali, aku pun memasukkan selembar uang itu ke dalam kalengnya. Tidak kusangka, anak laki-laki langsung tersenyum lebar kepadaku—lebar sekali. Matanya berbinar-binar bahagia.

”Terima kasih, Kak. Terima kasih,” ucapnya kegirangan. Ia kembali tersenyum lebar. ”Terima kasih, Kak,” ucapnya sekali lagi sebelum akhirnya ia menepi ke tepi jalan.

Aku menaikkan kaca jendela. ”Anak itu kelihatan bahagia sekali padahal aku hanya memberinya lima ribu,” gumamku, tidak jelas kepada siapa. Dengan ringan aku menyunggingkan senyum.

”Pengamen itu?” tanya Papa.

”Dia itu bukan pengamen, Pa,” aku meralat. ”Dia itu penyanyi yang sayangnya kurang beruntung.”

Papa hanya tersenyum.

Melihat kebahagiaan anak itu, aku jadi tersadar akan satu hal. Tidak selalu dibutuhkan hal-hal besar untuk bisa bahagia. Hal-hal kecil asalkan disyukuri juga bisa membuat kita bahagia.

”Karena kebahagiaan itu tidak ditentukan oleh apa yang kita terima melainkan bagaimana kita menerimanya,” Mama menimpal.

***

Mau bahagia setiap hari? Caranya gampang. Bersyukurlah setiap hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar