Aku meraih gagang telepon yang tertelungkup di atas meja dan mendekatkannya
ke sebelah telinga. ”Ada apa, Ran? Dan, sebelum kau berceloteh panjang-lebar
tentang itu, jangan berani-berani membahas tentang tata krama berbasa-basi.”
”Kau ini,” geram Randy, ”Susah
sekali diberitahu.”
”Itu karena yang
kauberitahu itu tidak penting,” tandasku. ”Langsung saja. Ada apa? Jangan buat
papamu pusing karena melihat tagihan telepon yang membengkak.”
Randy berdecak gemas di
ujung sana. ”Kau tahu hari ini tanggal berapa?”
”Ke mana larinya semua
kalender di rumahmu?” aku balik bertanya.
”Kau benar-benar
menyebalkan,” gerutunya, menekan setiap kata.
”Sudah berulang kali aku
bilang, aku tidak suka berbasa-basi.”
”Baiklah, Davin Alvaro,
sahabatku yang paling menyebalkan, aku meneleponmu untuk memberitahu kalau tiga
hari lagi aku akan berulang tahun.”
”Kecuali kalau ulang
tahunmu berpindah tanggal tahun ini, aku tidak mungkin melupakan hari ulang tahunmu,”
ujarku, bermaksud menyadarkannya kalau ia sungguh tidak perlu repot-repot
mengingatkanku kalau besok lusa adalah hari ulang tahunnya.
”Baguslah kalau kau ingat.
Tadinya kalau sampai kau lupa, aku berniat melempar wajahmu dengan kue ulang
tahunku,” akunya, lalu terkekeh.
”Simpan saja kuemu,”
saranku. Aku berdeham, lalu, ”Hanya itu?”
”Apanya?”
”Kau menelepon hanya untuk itu?”
”Ya,”sahutnya. ”Memangnya
apa yang kauharapkan?”
”Kau tidak berniat mengundangku ke pesta ulang
tahunmu?”
Aku sudah mengenal Randy
selama lima tahun. Dan, sepanjang yang aku tahu, Randy—lebih tepatnya
orangtuanya—selalu menggelar pesta untuk merayakan ulang tahunnya. Sama
sepertiku sebenarnya. Hanya saja setiap tahunnya pesta ulang tahun Randy selalu
lebih ramai daripada pesta ulang tahunku. Aku tidak terlalu peduli dengan itu
karena aku tidak menyukai keramaian—Randy juga. Jadi, tidak apa-apa kalau pesta
ulang tahunku kurang ramai.
”Kau bercanda,” katanya di
seberang sana. ”Tanpa diundang pun kau harus datang. Undangan hanya disebar
untuk para tamu, tidak untuk sahabat. Karena apa? Karena sahabat selalu
diterima tanpa undangan sekalipun.”
Aku mengulum senyum
mendengar itu, sedikit terharu.
”Bagaimana? Kau terharu?
Matamu berkaca-kaca?” tanyanya beruntun dengan nada mendesak.
”Tidak,” tukasku,
berbohong.
Randy tertawa. Ia berdeham,
kemudian, ”Baiklah. Siapkan kado untukku kalau begitu,” mintanya, lalu kembali
tertawa. Masih dengan sisa-sisa tawanya, ia buru-buru menambahkan, ”Ah, tidak.
Aku hanya bercanda. Aku tidak benar-benar butuh kadomu.”
”Meski begitu, tenang
saja, aku akan tetap menyiapkan
kado untukmu,” kataku kalem.
”Oh, ya? Astaga! Kau
ternyata baik sekali. Apa yang akan kauberikan untukku?”
”Sebuah bom ukuran ekstra
besar,” sahutku santai.
Randy meringis di ujung
sana. ”Dasar!” omelnya tidak senang. ”Sudah dulu, ya. Aku harus menjalani sesi
pemotretan. Maklumlah. Aku, kan model cilik yang tengah naik daun.”
Aku tahu Randy berbohong.
Tentu saja begitu. Takkan ada yang mau menawarinya menjadi model, aku yakin
itu. Kalau pun ada, orang itu pasti sudah katarak.
”Teruslah bermimpi,”
cetusku, lalu meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya. Kuembuskan napas
panjang, lalu menggeleng-geleng.
Saat aku berputar, aku
mendapati Mama telah berdiri di hadapanku.
”Ada apa Randy menelepon?”
tanya Mama.
”Hanya mengingatkanku kalau besok lusa dia
berulang tahun.”
Mama mengangguk-angguk.
”Ah, mamanya Randy juga baru menghubungi ponsel Mama untuk mengingatkan hal
yang sama,” beritahu Mama sembari melepaskan celemek yang ia pakai.
Anak dan ibu sama saja, pikirku.
”Bagaimana kalau setelah
makan siang, kita pergi mencari kado untuk Randy?” usul Mama. Matanya berkilat-kilat bersemangat.
Aku mengangguk setuju.
”Omong-omong, kakakmu
mana?” tanya Mama. Mungkin untuk mempertegas kalau Mama tidak melihat Kak
Desta, Mama kemudian celingak-celinguk ke sana ke mari.
”Kakak, kan sedang pergi
ke luar. Ada janji dengan temannya,”sahutku. ”Memangnya Kakak tidak pamit ke
Mama?”
Mama menggeleng. ”Mungkin
waktu dia ingin pamit, Mama sedang berada di pasar.”
Semua pekerjaan rumah
memang dilakukan oleh Mama, termasuk memasak dan pergi ke pasar. Papa sudah
pernah menyarankan Mama untuk menyewa jasa pembantu rumah tangga. Kata Papa
supaya Mama tidak perlu berdesak-desakan
di pasar dan juga supaya Mama tidak kelelahan. Papa sangat perhatian kepada Mama, kami semua tahu
itu. Namun, Mama menolaknya dengan halus. Katanya, ia tidak lelah. Mama juga menambahkan
kalau berdesak-desakan di pasar itu menyenangkan. Aku yakin Papa pasti bingung kala itu karena aku
sendiri juga bingung. Menyenangkan apanya?
”Oh, ya, Ma. Berbicara
tentang Kakak, sepertinya putra Mama yang satu itu sedang jatuh cinta,”
beritahuku dengan nada penuh rahasia. Aku mengangguk untuk menyakinkan Mama.
”Mama tahu,” timpal Mama.
Dagunya terangkat sedikit.
”Mama tahu?”
”Tentu saja. Kau lupa?
Mama yang mengandungnya berbulan-bulan dan melahirkannya,” Mama mengatakannya
dengan bangga seperti memberitahukan kalau ia baru saja memenangkan kompetisi
membuat kue tingkat kabupaten.
”Sudah kaupikirkan kira-kira
apa yang akan kauberikan kepada Randy sebagai kado?” tanya Mama mengalihkan
pembicaraan.
Aku mengangguk. ”Aku
berniat memberinya bom.”
***
Lampu lalu lintas yang
berwarna merah tengah menyala dengan garang, memerintahkan semua kendaraan yang
ingin melewatinya untuk berhenti sejenak. Semua kendaraan terlihat patuh
termasuk mobil Papa.
Aku tengah duduk di baris
kedua sendirian. Papa duduk di depan, di balik kemudi, sedang
mengetuk-ngetukkan jemarinya ke setir sementara Mama duduk di sebelahnya,
memandang lurus ke depan.
Kami sedang menuju ke
sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota. Sudah hampir satu jam berlalu sejak
kami meninggalkan rumah, namun kami tidak urung sampai.
Aku mendesah. Tanpa tujuan
yang jelas, aku menolehkan kepalaku ke samping kanan, memandang ke luar jendela
kaca mobil. Ada banyak kendaraan di sekitar. Asap tebal menyeruak keluar dari
knalpot truk di sebelah. Asap tebal itu menyebar tidak tentu arah,
perlahan-lahan menipis dan mencemari udara yang sudah tercemar.
Kemudian aku mendengar
suara petikan gitar yang samar-samar. Aku yang tengah berusaha membaca tulisan
yang ada di belakang bak truk itu sontak menoleh ke arah lain, ke samping kiri.
Di sana aku melihat ada seorang anak laki-laki—tampaknya seumuran
denganku—sedang berdiri di luar sambil memetik gitarnya yang terlihat sudah
usang. Ketika aku menurunkan
kaca jendela, anak laki-laki itu mulai melantunkan sebuah lagu. Walau aku tidak
tahu lagu apa yang sedang ia lantunkan, aku tetap menikmatinya. Suaranya bagus, menurutku. Ia bernyanyi
dengan lepas, sederhana dan tidak dibuat-buat. Begitu apa adanya.
Selesai bernyanyi, anak
itu pun menyodorkan sebuah kaleng bekas ke hadapanku. Ia tersenyum tipis ke
arahku. Aku mengerti apa maksudnya. Aku pun balas tersenyum dan segera merogoh
saku celana. Hanya ada selembar uang lima ribu. Tanpa berpikir dua kali, aku
pun memasukkan selembar uang itu ke dalam kalengnya. Tidak kusangka, anak
laki-laki langsung tersenyum lebar kepadaku—lebar sekali. Matanya
berbinar-binar bahagia.
”Terima kasih, Kak. Terima
kasih,” ucapnya kegirangan. Ia kembali tersenyum lebar. ”Terima kasih, Kak,”
ucapnya sekali lagi sebelum akhirnya ia menepi ke tepi jalan.
Aku menaikkan kaca jendela.
”Anak itu kelihatan bahagia sekali padahal aku hanya memberinya lima ribu,”
gumamku, tidak jelas kepada siapa. Dengan ringan aku menyunggingkan senyum.
”Pengamen itu?” tanya
Papa.
”Dia itu bukan pengamen,
Pa,” aku meralat. ”Dia itu penyanyi yang sayangnya kurang beruntung.”
Papa hanya tersenyum.
Melihat kebahagiaan anak
itu, aku jadi tersadar akan satu hal. Tidak selalu dibutuhkan hal-hal besar
untuk bisa bahagia. Hal-hal kecil asalkan disyukuri juga bisa membuat kita
bahagia.
”Karena kebahagiaan itu tidak ditentukan oleh apa
yang kita terima melainkan bagaimana kita menerimanya,” Mama menimpal.
***
Mau bahagia setiap hari? Caranya gampang. Bersyukurlah
setiap hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar