Siang ini sahabatku datang
ke rumahku. Randy, namanya. Sewaktu aku masih bersekolah, Randy menempati
bangku yang sama denganku. Ia sahabat yang baik dan menyenangkan—menyebalkan,
kadang-kadang. Ia dapat diandalkan dalam beberapa hal. Menyontek, misalnya.
Namun, itu jarang kami lakukan. Aku senang karena Randy datang. Mama juga. Mama
selalu terlihat senang setiap kali ada temanku yang datang ke rumah.
Seperti biasa, Randy
datang bersama mamanya. Mamaku dan mama Randy sudah bersahabat sejak masih
muda. Kata mereka, mereka juga sempat menjadi teman sebangku di sekolah dulu.
Mereka benar-benar akrab dan saling mendukung sampai-sampai aku sempat berpikir
jika salah satu dari aku dan Randy terlahir sebagai perempuan, kemungkinan
besar kami pasti akan dijodohkan.
Sementara Mama menjamu
mama Randy dengan setoples kue kering yang dibuatnya tadi pagi, aku mengajak
Randy ke kamar.
***
Randy mengerang panjang.
Diletakkannya controller Playstation 2-ku
ke atas lantai dengan sedikit kasar. Ia lalu tidur telungkup dengan wajah
mencium lantai kamarku yang entah sudah dibersihkan atau belum. Masih dengan
posisi itu, ia berkata, ”Aku menyerah.” Ia membalikkan badannya dan
memperlihatkan wajah yang dibuat-buat agar terkesan lelah. Sedikit berlebihan.
”Terlalu cepat, Ran,”
kataku.
”Terlalu cepat karena kau
ingin melihatku menderita lebih lama lagi karena kalah terus?” tanyanya datar.
”Berlebihan,” balasku tidak
kalah datar.
”Kenapa kau menang terus? Apa rahasianya?” Matanya
menyipit penuh ingin tahu.
”Tidak ada rahasia apa
pun. Kau hanya sedang tidak
beruntung,” sahutku.
”Berbicara tentang
keberuntungan?” tanyanya terdengar malas. ”Memangnya seberapa besar peran
keberuntungan dalam hidup kita?”
”Cukup besar,” aku
menjawab. Aku meletakkan controller
yang aku pegang, bersandar ke kaki ranjang dan melanjutkan, ”Cukup besar untuk
menentukan keberhasilan kita.”
”Berhasil atau tidaknya
kita tergantung pada kemampuan yang kita miliki,” Randy beropini dengan serius.
Aku mengangguk setuju. ”Akan
tetapi, keberuntungan juga berperan.”
”Omong kosong,” tandas
Randy.
”Yang aku katakan itu
benar,” balasku sengit.
”Kalau begitu, berikan aku
gambarannya.”
Aku suka tantangan. Aku
berpikir dengan cepat, lalu, ”Begini,” kataku memulai. ”Kau, kan jago bermain
sepak bola. Nah, suatu saat ada ajang pencarian pemain sepak bola muda berbakat
dan kau bermaksud mengikutinya. Namun, sehari sebelum ajang itu dimulai, kau
mengalami kecelakaan. Ditabrak truk, misalnya.”
Aku berhenti sejenak,
berpikir-pikir, lantas menggeleng. ”Ah, itu terlalu mengerikan. Begini saja.
Ditabrak oleh sepeda motor,” aku meralat. ”Karena kecelakaan itu, kau tidak
bisa mengikuti ajang itu. Padahal jika kauikut, kemungkinan besar kau bisa
lolos. Jadi...”
”Tunggu sebentar,” potong
Randy ketus. ”Sebenarnya kau ingin memberikan gambaran atau mendoakanku, hah?”
gerutunya tidak senang.
”Yang pertama.”
”Kedengarannya lebih
kepada yang kedua,” balasnya.
”Anggap saja begitu kalau
itu membuatmu senang.”
Randy mendengus sebal.
Kalah.
”Jadi dari gambaran tadi,”
aku menyambung kalimatku yang sempat terpotong, ”kita bisa menyimpulkan bahwa
memiliki kemampuan saja tidaklah cukup. Dalam gambaran tadi, kau memiliki
kemampuan, namun tetap saja gagal karena kau mengalami kecelakaan yang berarti
kau sial, tidak beruntung.”
”Terserah kau sajalah,”
celetuknya tidak acuh sambil mengangkat tubuhnya untuk duduk. ”Omong-omong, aku
harus mengakui kalau kau memang hebat. Sedari tadi kau terus menang.” Ia
meninju pelan bahuku, lalu menyengir lebar.
***
Randy dan mamanya sudah
pulang satu jam yang lalu. Saat ini aku tengah tidur leyeh-leyeh di atas kasur,
menatap langit-langit kamar tanpa maksud yang jelas. Aku tidak bermaksud mengingatnya, namun perkataan
Randy tiba-tiba melintas di pikiranku.
”... kau
memang hebat. Sedari tadi kau terus menang.”
Aku mulai larut berpikir.
Menang sering diidentikkan
dengan kehebatan, sedangkan kalah mengesankan kelemahan. Namun, apakah selalu
begitu? Apakah menang selalu berarti hebat dan kalah selalu berarti lemah? Aku
lantas menantang diriku untuk menjawab pertanyaan itu. Beberapa saat
sesudahnya, aku telah meninggalkan ranjang dan menghampiri meja belajar. Aku
duduk menghadap meja, meraih bukuku, menyambar bolpoin dan menuliskan
jawabanku.
Pertanyaanku: apakah menang selalu
berarti hebat dan kalah selalu berarti lemah?
Jawabanku: tidak selalu seperti itu.
Menang bisa saja menunjukkan kelemahan kita kalau kita terlalu cepat berpuas
diri. Kalah bisa saja memperlihatkan kehebatan kita asalkan kita terus berupaya
dan pantang putus asa. Jadi, semuanya tergantung pada bagaimana kita
menyikapinya. Bukankah hidup adalah tentang bagaimana kita menyikapinya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar