Minggu, 06 Januari 2013

Catatan #6: Menang dan Kalah

Siang ini sahabatku datang ke rumahku. Randy, namanya. Sewaktu aku masih bersekolah, Randy menempati bangku yang sama denganku. Ia sahabat yang baik dan menyenangkan—menyebalkan, kadang-kadang. Ia dapat diandalkan dalam beberapa hal. Menyontek, misalnya. Namun, itu jarang kami lakukan. Aku senang karena Randy datang. Mama juga. Mama selalu terlihat senang setiap kali ada temanku yang datang ke rumah.

Seperti biasa, Randy datang bersama mamanya. Mamaku dan mama Randy sudah bersahabat sejak masih muda. Kata mereka, mereka juga sempat menjadi teman sebangku di sekolah dulu. Mereka benar-benar akrab dan saling mendukung sampai-sampai aku sempat berpikir jika salah satu dari aku dan Randy terlahir sebagai perempuan, kemungkinan besar kami pasti akan dijodohkan.

Sementara Mama menjamu mama Randy dengan setoples kue kering yang dibuatnya tadi pagi, aku mengajak Randy ke kamar.

***

Randy mengerang panjang. Diletakkannya controller Playstation 2-ku ke atas lantai dengan sedikit kasar. Ia lalu tidur telungkup dengan wajah mencium lantai kamarku yang entah sudah dibersihkan atau belum. Masih dengan posisi itu, ia berkata, ”Aku menyerah.” Ia membalikkan badannya dan memperlihatkan wajah yang dibuat-buat agar terkesan lelah. Sedikit berlebihan.

”Terlalu cepat, Ran,” kataku.

”Terlalu cepat karena kau ingin melihatku menderita lebih lama lagi karena kalah terus?” tanyanya datar.

”Berlebihan,” balasku tidak kalah datar.

”Kenapa kau menang terus? Apa rahasianya?” Matanya menyipit penuh ingin tahu.

”Tidak ada rahasia apa pun. Kau hanya sedang tidak beruntung,” sahutku.

”Berbicara tentang keberuntungan?” tanyanya terdengar malas. ”Memangnya seberapa besar peran keberuntungan dalam hidup kita?”

”Cukup besar,” aku menjawab. Aku meletakkan controller yang aku pegang, bersandar ke kaki ranjang dan melanjutkan, ”Cukup besar untuk menentukan keberhasilan kita.”

”Berhasil atau tidaknya kita tergantung pada kemampuan yang kita miliki,” Randy beropini dengan serius.

Aku mengangguk setuju. ”Akan tetapi, keberuntungan juga berperan.”

”Omong kosong,” tandas Randy.

”Yang aku katakan itu benar,” balasku sengit.

”Kalau begitu, berikan aku gambarannya.”

Aku suka tantangan. Aku berpikir dengan cepat, lalu, ”Begini,” kataku memulai. ”Kau, kan jago bermain sepak bola. Nah, suatu saat ada ajang pencarian pemain sepak bola muda berbakat dan kau bermaksud mengikutinya. Namun, sehari sebelum ajang itu dimulai, kau mengalami kecelakaan. Ditabrak truk, misalnya.”

Aku berhenti sejenak, berpikir-pikir, lantas menggeleng. ”Ah, itu terlalu mengerikan. Begini saja. Ditabrak oleh sepeda motor,” aku meralat. ”Karena kecelakaan itu, kau tidak bisa mengikuti ajang itu. Padahal jika kauikut, kemungkinan besar kau bisa lolos. Jadi...”

”Tunggu sebentar,” potong Randy ketus. ”Sebenarnya kau ingin memberikan gambaran atau mendoakanku, hah?” gerutunya tidak senang.

”Yang pertama.”

”Kedengarannya lebih kepada yang kedua,” balasnya.

”Anggap saja begitu kalau itu membuatmu senang.”

Randy mendengus sebal. Kalah.

”Jadi dari gambaran tadi,” aku menyambung kalimatku yang sempat terpotong, ”kita bisa menyimpulkan bahwa memiliki kemampuan saja tidaklah cukup. Dalam gambaran tadi, kau memiliki kemampuan, namun tetap saja gagal karena kau mengalami kecelakaan yang berarti kau sial, tidak beruntung.”

”Terserah kau sajalah,” celetuknya tidak acuh sambil mengangkat tubuhnya untuk duduk. ”Omong-omong, aku harus mengakui kalau kau memang hebat. Sedari tadi kau terus menang.” Ia meninju pelan bahuku, lalu menyengir lebar.

***

Randy dan mamanya sudah pulang satu jam yang lalu. Saat ini aku tengah tidur leyeh-leyeh di atas kasur, menatap langit-langit kamar tanpa maksud yang jelas. Aku tidak bermaksud mengingatnya, namun perkataan Randy tiba-tiba melintas di pikiranku.

... kau memang hebat. Sedari tadi kau terus menang.”

Aku mulai larut berpikir.

Menang sering diidentikkan dengan kehebatan, sedangkan kalah mengesankan kelemahan. Namun, apakah selalu begitu? Apakah menang selalu berarti hebat dan kalah selalu berarti lemah? Aku lantas menantang diriku untuk menjawab pertanyaan itu. Beberapa saat sesudahnya, aku telah meninggalkan ranjang dan menghampiri meja belajar. Aku duduk menghadap meja, meraih bukuku, menyambar bolpoin dan menuliskan jawabanku.

Pertanyaanku: apakah menang selalu berarti hebat dan kalah selalu berarti lemah?

Jawabanku: tidak selalu seperti itu. Menang bisa saja menunjukkan kelemahan kita kalau kita terlalu cepat berpuas diri. Kalah bisa saja memperlihatkan kehebatan kita asalkan kita terus berupaya dan pantang putus asa. Jadi, semuanya tergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Bukankah hidup adalah tentang bagaimana kita menyikapinya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar